Oleh: Juhaimi Bahrid, S.S

_______________

SERANGAN Israel terhadap Gaza tak kunjung usai, bahkan semakin brutal. Gencatan senjata pun tak mampu menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Ribuan warga mengalami luka fisik yang parah, bahkan trauma mental. Termasuk anak-anak yang paling merasakan dampak dari serangan tersebut.

Baca Juga:Anomali Bangsa

Tawa, keceriaan, dan celoteh polos anak-anak yang selalu menghangatkan suasana kini sulit ditemukan di Gaza. Semua itu telah direnggut oleh Zionis Israel laknatullah. Puluhan tahun mereka bertaruh hidup di bawah gempuran bom, kehancuran, kekerasan, pembantaian, kelaparan, ketakutan, hingga ancaman kematian yang terus menghantui. Kondisi tersebut membuat mereka harus menjalani masa kecil yang penuh luka.

Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, mengungkapkan bahwa hampir semua anak di Gaza mengalami trauma. Bahkan, lebih dari satu juta anak telah menderita trauma parah. Salah satu dampak trauma tersebut menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara (BBC.com, 29-05-2026).

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga kehilangan kemampuan berbicara merupakan dampak dari kejahatan entitas Zionis Israel yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Kondisi ini memperlihatkan bahwa genosida terhadap rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental mereka secara perlahan.

Lantas, Apa Kata Dunia?

Serangan yang berkepanjangan ini penuh dengan ketidakpastian untuk berakhir. Dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali sebatas memberikan terapi dan bantuan kemanusiaan. Padahal, mereka tidak hanya membutuhkan terapi dan bantuan kemanusiaan, tetapi juga kehidupan yang terbebas dari penjajahan dan kekerasan.

Sementara itu, para penguasa di negeri-negeri Muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan kaum Muslim Palestina. Mereka terlihat diam seribu bahasa terhadap apa yang dilakukan oleh entitas Zionis Israel, seolah-olah rakyat Palestina bukan bagian dari jiwa dan tubuh kaum Muslim lainnya. Mereka terlihat bergandengan tangan dalam urusan bisnis, tetapi tidak dalam upaya menyelesaikan persoalan Palestina.

Semua ini terjadi akibat tidak adanya perisai (junnah) bagi kaum Muslim, yaitu Khilafah Islamiyah. Dunia dikuasai oleh sistem kufur, yakni sistem kapitalisme beserta turunannya, yaitu nasionalisme, yang pada akhirnya memecah-belah satu tubuh kaum Muslim menjadi bagian-bagian yang terpisah dalam bentuk nation-state.

Solusi Hakiki

Derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tidak sekadar dengan terapi dan bantuan kemanusiaan, tetapi juga dengan membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Terapi memang dapat membantu proses pemulihan, meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat. Namun, ada sesuatu yang lebih mendesak daripada itu, yaitu menyingkirkan penyebab trauma tersebut, yakni entitas Zionis Israel.

Satu-satunya cara untuk menyingkirkannya adalah dengan jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah). Untuk itu, dibutuhkan institusi Khilafah. Institusi ini berdiri di atas metode kenabian dan menjalankan perannya sebagai pelindung sekaligus pemersatu umat. Dengan Khilafah, jihad akan dilancarkan melalui pengiriman tentara untuk membebaskan Palestina, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Umar bin Khattab ra. dan Salahuddin Al-Ayyubi.

Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya perjuangan menegakkan Khilafah sangatlah penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum Muslim di seluruh dunia. Dengan demikian, kaum Muslim dapat menjadi satu kekuatan utuh yang bersatu di bawah naungan Khilafah Islam. Wallahu a’lam bishshawab. (*)