Oleh: Riyanto Basahona
_________
Beberapa pidato dan celetukan spontan Presiden Prabowo Subianto kerap menuai kontroversi dan perdebatan publik. Mulai dari ucapan “Ndasmu Etik” dalam forum internal Gerindra saat menanggapi isu putusan Mahkamah Konstitusi, ungkapan informal di luar teks seperti “Emang Gue Pikirin” dan kata “Bajingan”, hingga pernyataan tegas yang menyarankan pihak-pihak yang menganggap Indonesia suram untuk “Cari Negara Lain”,
Kontroversi ini semakin bertambah ketika pada Mei 2026, Prabowo merespons pelemahan nilai tukar rupiah dengan melontarkan kalimat “orang desa tidak pakai dolar”, yang kemudian menuai kritik dari sejumlah ekonom karena dinilai kurang mempertimbangkan dampak perubahan nilai tukar terhadap harga barang impor dan daya beli masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan.
Tak kalah memicu polemik, pada Agustus 2026, Prabowo menyatakan bahwa “kecerdasan itu bukan datang dari sekolah” ketika menghadiri peluncuran buku Bahlil Lahadalia. Meskipun pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menekankan pentingnya karakter, didikan orang tua, pengalaman, dan tempaan kehidupan, pilihan kalimat tersebut tetap layak dikritisi karena berpotensi dipahami sebagai upaya mendegradasi peran institusi pendidikan formal di mata publik.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa “kecerdasan itu bukan dari sekolah” menurut hemat saya bukan sekadar persoalan pilihan kata. Sebagai seorang Presiden, setiap ucapan yang disampaikan di hadapan publik memiliki konsekuensi. Kalimat seorang Presiden dapat menjadi gagasan yang mencerahkan, tetapi dapat pula menjadi persepsi yang keliru apabila disampaikan tanpa penjelasan yang memadai.
Saya tidak sepakat dengan pernyataan tersebut apabila dimaknai secara literal. Bukan karena saya menganggap sekolah sebagai satu-satunya tempat manusia menjadi cerdas. Justru sebaliknya, saya memahami bahwa kecerdasan manusia jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan akademik yang diperoleh di ruang kelas.
Namun, mengatakan “kecerdasan itu bukan dari sekolah” berpotensi menyederhanakan persoalan pendidikan. Sebab sekolah memang bukan satu-satunya sumber kecerdasan, tetapi sekolah merupakan salah satu institusi paling penting yang bertugas mengembangkan kecerdasan manusia.
Kita perlu memahami bahwa kecerdasan manusia tidak berhenti pada kemampuan menghitung, menghafal, membaca, atau memperoleh nilai tinggi dalam ujian. Ada kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual yang perlu dikembangkan secara bersama-sama.
Pertama, kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berpikir, memahami, menganalisis, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan. Di sinilah sekolah memiliki peran yang sangat besar. Anak yang awalnya belum mampu membaca diajarkan membaca. Anak yang belum memahami matematika diajarkan berhitung. Anak yang belum mampu berpikir secara sistematis dilatih untuk menganalisis persoalan. Anak yang memiliki rasa ingin tahu diarahkan untuk mencari pengetahuan.
Jadi, benar bahwa kecerdasan tidak lahir semata-mata dari sekolah. Tetapi sekolah membantu manusia mengembangkan potensi intelektualnya secara sistematis.
Kedua, kecerdasan emosional. Kecerdasan manusia juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang mengenali dan mengelola emosinya serta memahami emosi orang lain. Apa gunanya seseorang memiliki kemampuan akademik tinggi jika ia tidak mampu mengendalikan kemarahan, tidak mampu menerima kritik, mudah merendahkan orang lain, dan tidak mampu menghadapi kegagalan?
Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan anak bagaimana mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang mampu mengendalikan dirinya. Guru tidak hanya mengajarkan rumus dan teori. Dalam kehidupan sekolah, peserta didik belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kesabaran, kerja sama, menerima perbedaan, dan menghadapi kegagalan. Itulah bagian dari pendidikan emosional.
Ketiga, kecerdasan sosial. Manusia tidak hidup sendirian. Kita membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, memahami orang lain, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik.
Sekolah menjadi salah satu ruang sosial pertama yang mempertemukan anak dengan orang-orang yang berbeda latar belakang. Di sekolah seorang anak belajar bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Ia belajar berdiskusi, bekerja dalam kelompok, menghargai guru, berteman dengan orang lain, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Karena itu, sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah juga merupakan laboratorium sosial bagi manusia.
Keempat, kecerdasan spiritual. Bagi bangsa Indonesia yang memiliki kehidupan keagamaan yang kuat, pendidikan juga tidak boleh kehilangan dimensi spiritual. Kecerdasan spiritual berkaitan dengan kemampuan manusia menemukan makna, nilai, tujuan hidup, dan orientasi moral.
Dalam perspektif pendidikan Islam, manusia tidak cukup hanya menjadi orang yang pintar. Ia juga harus memiliki iman, takwa, akhlak, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa ilmu harus digunakan untuk kebaikan.
Sebab persoalan bangsa hari ini bukan hanya kekurangan orang pintar. Kita juga membutuhkan manusia yang pintar tetapi berintegritas.
Apa gunanya kecerdasan jika digunakan untuk menipu? Apa gunanya pendidikan tinggi jika ilmu digunakan untuk korupsi? Apa gunanya jabatan jika tidak memiliki tanggung jawab moral?
Di sinilah pendidikan menjadi penting.
Saya memahami kemungkinan maksud Presiden Prabowo: bahwa seseorang tidak boleh diukur kecerdasannya hanya berdasarkan sekolah atau universitas tempat ia belajar. Kalau itu maksudnya, saya setuju.
Orang dari sekolah sederhana bisa menjadi orang hebat. Orang yang tidak berasal dari kampus ternama bisa menjadi pemimpin. Pengalaman hidup, keluarga, lingkungan, kerja keras, dan proses belajar di luar sekolah memang dapat membentuk kecerdasan manusia.
Tetapi persoalannya adalah cara menyampaikannya.
Presiden bukan sekadar seorang pembicara. Presiden adalah kepala negara. Karena itu, setiap pernyataan tentang pendidikan harus mempertimbangkan jutaan guru yang setiap hari berdiri di depan kelas, anak-anak yang sedang berjuang mendapatkan pendidikan, dan orang tua yang mengorbankan banyak hal agar anaknya bisa bersekolah.
Jangan sampai sebuah kalimat yang sebenarnya ingin memotivasi justru terdengar seperti meremehkan institusi pendidikan.
Pak Prabowo, mungkin sudah waktunya mengurangi pidato dan memperbanyak pembuktian.
Indonesia tidak kekurangan pidato tentang pendidikan. Yang Indonesia butuhkan adalah sekolah yang layak, guru yang sejahtera, fasilitas pendidikan yang memadai, akses pendidikan yang merata, kurikulum yang berkualitas, dan anak-anak yang benar-benar mendapatkan kesempatan belajar.
Jangan hanya mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus cerdas. Pastikan negara memberikan kondisi yang memungkinkan rakyat menjadi cerdas.
Jangan hanya berbicara tentang kualitas manusia. Bangun sistem pendidikan yang menghasilkan manusia berkualitas.
Jangan hanya mengatakan sekolah bukan sumber kecerdasan. Tunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah mampu membuat sekolah menjadi tempat yang benar-benar mencerdaskan.
Karena bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kekuasaan, pendidikan bukan sekadar teori. Bagi anak-anak di daerah terpencil, sekolah bisa menjadi satu-satunya jalan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Bagi seorang guru di pelosok, sekolah bukan sekadar gedung. Bagi seorang anak dari keluarga miskin, sekolah bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.
Sekolah adalah harapan.
Maka jangan sampai karena satu kalimat dalam pidato, harapan itu justru terlihat seperti sesuatu yang tidak terlalu penting.
Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan pidato menjadi kebijakan. Sebab rakyat tidak makan pidato. Guru tidak hidup dari pidato. Anak-anak di daerah terpencil tidak membangun masa depannya dengan pidato.
Mereka membutuhkan buku, ruang kelas, guru, internet, laboratorium, beasiswa, transportasi, dan pendidikan yang berkualitas.
Karena itu, kritik saya kepada Presiden Prabowo bukanlah agar Presiden berhenti berbicara sama sekali. Yang perlu dihentikan adalah pidato yang tidak diikuti pembuktian.
Kalau pidato menghasilkan kebijakan yang nyata, teruskan. Kalau pidato menghasilkan sekolah yang lebih baik, teruskan. Kalau pidato membuat guru lebih sejahtera dan anak-anak lebih mudah mendapatkan pendidikan, teruskan.
Tetapi kalau pidato hanya menjadi rangkaian kata-kata tanpa perubahan yang dirasakan rakyat, maka stop berpidato dan mulailah bekerja lebih keras.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai seorang Presiden dari seberapa panjang ia berpidato.
Sejarah akan menilai apa yang ia lakukan setelah pidato itu selesai. (*)

Tinggalkan Balasan