PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Catatan Milad KOHATI ke-60 tentang Habitus Patriarki di tubuh HMI Cabang Ternate

Oleh: Rizky Ramli

Ketua Bidang PPD HMI Cabang Ternate

__________________

Milad KOHATI ke-60 seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Enam puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk meninjau kembali bagaimana HMI memperlakukan kader-kader perempuannya, terutama di tingkat cabang. Sudah sejauh mana perempuan diberi ruang untuk tumbuh sebagai pemimpin, dan sejauh mana kaderisasi HMI benar-benar berjalan tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

Saya menulis ini bukan untuk mempertentangkan perempuan dengan laki-laki di HMI. Justru sebaliknya, tulisan ini lahir dari kegelisahan sebagai kader yang melihat ada kebiasaan-kebiasaan di organisasi yang terus diulang, tetapi jarang dikritik. Kita sering mengatakan HMI adalah organisasi kader, tetapi dalam praktik menjalankan Himpunan ini masih ada pembagian peran yang terasa sangat patriarkis. Perempuan lebih sering hadir sebagai “Juru masak” yang mengurusi dapur, sementara ruang-ruang pengambilan keputusan didominasi laki-laki.

Pierre Bourdieu menyebut kebiasaan seperti ini sebagai habitus. Ia adalah cara berpikir dan bertindak yang terus direproduksi sampai akhirnya dianggap normal. Karena dianggap normal, kita tidak lagi bertanya mengapa perempuan hampir selalu mengurus konsumsi ketika ada kegiatan, mengapa jumlah instruktur perempuan sangat sedikit, atau mengapa HMI Cabang Ternate belum pernah benar-benar membayangkan perempuan sebagai Ketua Umum Cabang.

Milad KOHATI ke-60 menurut saya adalah waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab organisasi yang sehat tidak takut dikritik, dan berani berbenah. Mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni memberi perempuan ruang yang sama untuk memimpin HMI Cabang Ternate.

Coffee & Care

Ada satu pemandangan yang begitu akrab di HMI Cabang Ternate sampai-sampai tidak pernah dipersoalkan. Sebelum sebuah kegiatan dimulai, HMI-Wati sibuk mondar mandir mengurus konsumsi. Mereka memastikan konsumsi kegiatan datang tepat waktu, menyiapkan meja registrasi, mendekorasi ruangan, menjadi MC atau dirigen ketika Indonesia Raya dan Hymne HMI dinyanyikan. Setelah acara selesai, mereka menjadi orang-orang terakhir yang membereskan ruangan.

Sementara laki-laki menjadi pemateri, menjadi instruktur. Memimpin sidang, dan hampir semua keputusan organisatornya adalah laki-laki.

Tidak ada yang salah dengan membuat kopi atau mengurus konsumsi. Tidak ada pekerjaan organisasi yang lebih mulia dari pekerjaan lain. Persoalannya adalah pembagian kerja itu berlangsung hampir selalu dengan pola yang sama. Perempuan diasosiasikan dengan pekerjaan care kerja merawat organisasi sementara laki-laki diasosiasikan dengan pekerjaan memimpin organisasi. Inilah habitus patriarki.

Bourdieu mengatakan habitus bekerja tanpa kita sadari. Ia menjadi refleks sosial. Orang tidak lagi bertanya mengapa perempuan selalu menjadi MC, mengapa perempuan selalu menjadi dirigen, atau mengapa perempuan yang diminta membuat kopi di sekretariat. Semua dianggap “memang begitu dari dulu.” Padahal “dari dulu” tidak selalu berarti benar.

Yang lebih serius lagi, habitus itu memengaruhi praktik perkaderan. HMI Cabang Ternate hari ini mengalami krisis instruktur perempuan. Dalam forum-forum perkaderan, jumlah instruktur perempuan sangat minim. Padahal Pedoman Perkaderan HMI menjadikan instruktur sebagai aktor utama reproduksi nilai organisasi.

Situasi krisis ini sering dijawab dengan kalimat “belum ada perempuan yang siap menjadi instruktur”. Menurut saya, jawaban itu justru memperlihatkan kegagalan organisasi membaca dirinya sendiri.

Instruktur tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka dibentuk melalui kesempatan mengikuti Training Instruktur, diberi ruang mengajar, dipercaya memimpin sidang, lalu mendapatkan legitimasi dari organisasi. Kesempatan itu selama ini jauh lebih banyak diberikan kepada kader laki-laki. Mereka mengumpulkan pengalaman, pengetahuan, dan pengakuan. Dalam bahasa Bourdieu, mereka mengumpulkan modal budaya dan modal simbolik.

Akibatnya, organisasi menciptakan lingkaran yang terus berulang. Perempuan jarang menjadi instruktur karena tidak diberi ruang. Karena jarang menjadi instruktur, mereka dianggap belum memiliki kapasitas. Lalu ruang itu kembali diberikan kepada laki-laki.

Inilah bentuk kekerasan simbolik di tubuh HMI. Perempuan dipuji karena telaten mengurus organisasi, tetapi tidak dipercaya mengarahkan organisasi.

Kalau enam puluh tahun KOHATI masih menghasilkan situasi seperti ini, maka yang perlu dievaluasi bukan KOHATI. Yang perlu dievaluasi adalah praktik perkaderan HMI Cabang Ternate.

Power

Konferensi Cabang yang akan datang seharusnya menjadi lebih dari sekadar pergantian kepengurusan. Ia harus menjadi momentum mengubah distribusi kekuasaan di dalam organisasi.

Selama ini HMI Cabang Ternate selalu dipimpin laki-laki. Sejarah organisasi memang dipenuhi nama-nama Ketua Umum laki-laki. Tidak berarti semua kepemimpinan itu gagal. Tetapi ketika sejarah hanya menghadirkan satu wajah kepemimpinan, organisasi kehilangan keberanian untuk membayangkan alternatif.

HMI Cabang Ternate hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan dua puluh tahun lalu. Organisasi semakin sering masuk ke ruang politik praktis. Energi kader habis membaca konfigurasi kekuasaan lokal, membangun kedekatan dengan elite, dan bertarung dalam kepentingan jangka pendek. Sementara diskusi intelektual semakin jarang melahirkan gagasan besar. Demonstrasi kehilangan basis riset. Kritik sosial semakin redup dan itu berefek pada daya ledak gerakan kita.

Bourdieu menyebut organisasi sebagai sebuah field, arena tempat modal diperebutkan. Persoalannya, arena HMI terlalu lama didominasi modal politik yang sama. Kepemimpinan diukur dari jaringan, kedekatan dengan senior, atau kemampuan membangun koalisi, bukan dari keberanian menghadirkan gagasan baru.

Di sinilah urgensi kepemimpinan perempuan. Bukan karena perempuan pasti lebih baik daripada laki-laki. Bukan pula karena KOHATI membutuhkan jatah kekuasaan. Kepemimpinan perempuan penting karena organisasi membutuhkan perspektif yang selama ini tidak cukup mendapatkan ruang.

Banyak kader perempuan HMI tumbuh melalui pengalaman advokasi pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, isu perempuan dan anak, hingga kerja-kerja komunitas. Mereka terbiasa bekerja dengan mendengar, mengorganisasi, dan membangun solidaritas. Pengalaman itu adalah modal kepemimpinan yang selama ini kurang dihargai sebagai modal politik organisasi.

Konfercab nanti harus berani membuka ruang bagi kandidat Ketua Umum perempuan.

Kalau ada kader perempuan yang memiliki rekam jejak perkaderan, pengalaman organisasi, kapasitas intelektual, dan keberanian memimpin, mengapa HMI harus ragu?

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, “Apakah perempuan siap memimpin HMI Cabang Ternate Pertanyaannya adalah, “Apakah HMI Cabang Ternate siap dipimpin perempuan?”

Sebab ukuran keberhasilan kaderisasi bukan banyaknya perempuan hadir di struktur kepengurusan, tetapi banyaknya perempuan memiliki kuasa yang sama untuk menentukan arah organisasi.

From Care to Power

Milad KOHATI ke-60 seharusnya menjadi titik balik, Sudah terlalu lama HMI-Wati diposisikan sebagai mereka yang memastikan acara berjalan baik, mewah, estetik, tetapi tidak selalu dipercaya memastikan organisasi berjalan ke mana. Terlalu lama perempuan diberikan ruang untuk care, tetapi tidak cukup ruang untuk power.

Membongkar habitus patriarki bukan berarti menciptakan pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan HMI pada prinsip kaderisasinya sendiri, yakni setiap kader memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan memimpin.

Mungkin sejarah baru itu dimulai dari Konferensi Cabang berikutnya. Ketika HMI Cabang Ternate tidak lagi melihat kepemimpinan perempuan sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan sebagai konsekuensi paling logis dari kaderisasi yang adil.

Karena setelah enam puluh tahun, sudah saatnya perempuan HMI tidak hanya dipercaya membuat kopi dan dan menjadi MC organisasi. Sudah saatnya perempuan dipercaya memegang kemudi organisasi.

Nikahi kohati mu, maka sempurna HMI Mu

YAKUSA!!