PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Oleh: Nurcholish Rustam

Ketua Rampai Nusantara Malut

_______________

PADA Tahun 1982 mantan presiden AS Richard Nixon menulis buku berjudul Leaders. Saya kira buku ini adalah salah satu karya terbaiknya, dan tetap menarik untuk dibaca sebagai salah satu literatur kepemimpinan politik. Menurut Nixon, setiap pemimpin terikat pada kombinasi-kombinasi istimewa antara waktu, tempat, dan keadaan tertentu (particular circumstances). Pemimpin dan negara tidak dapat dipertukarkan. Maksudnya, Winston Churchill itu besar di Inggris, sementara Konrad Adenauer di Jerman pada wakyu, tempat dan keadaan ketika mereka memimpin. Churchill tidak dapat dipertukarkan posisinya Konrad Adenauer.

Kebesaran seorang pemimpin, catat Nixon, terkait dengan tiga hal; bahwa sosoknya mumpuni (a great man), berada dalam “negara besar” (a great country), di tengah ise-ise besar (a great issue). Churchill misalnya, amat di-untung-kan oleh momentum, ketimbang Perdana Menteri Lord Rosebery yang great man and small events. Orang besar perlu peristiwa-peristiwa besar. Sosok “manusia kerdil” (the small man) jelas gagal menjadi pemimpin besar, tatkala bangsa besar yang dipimpinnya terlanda krisis hebat. Sementara sosok “manusia besar” (the large man) yang memimpin negara kecil, mungkin sudah berupaya mendemonstrasikan segenap kehebatannya, tetapi tak pernah memperoleh pengakuan. Tetapi, ada juga “manusia besar” dalam sebuah negara besar tetapi dibawah bayang-bayang “raksasa”. Zhou Enlai misalnya adalah sosok bercahaya dibawah Mao Zedong di China.

Pemimpin besar dalam sejarah, adakalanya dilihat dari keahliannya dalam berpolitik, dengan penilaian moralitas tersendiri, memiliki kekuatan yang signifikan untuk merubah wajah sejarah bangsa dan peradaban. Nixon membahas konteks pemimpin, bukan pada bagaimana upaya memperoleh kekuasaan semata, tetapi juga tanggung jawabnya. Setiap person pemimpin memiliki tujuan, visi, dan menjadi pendorong bagi perubahan-perubahan penting yang gemanya meluas melintasi batas-batas negara dan abadi pada abad dimana ia hidup dan menjadi pemimpin.

Menurut Nixon, banyak kisah sejarah yang hanya berisi cuplikan-cuplikan peristiwa insidental tentang orang yang memainkan pengaruh. Mereka membuat segala sesuatunya berbeda. Mereka merubah wajah sejarah. Pemimpin dengan jiwa kepemimpinannya yang besar memiliki kemampuan yang unik didalam menciptakan perubahan yang luar biasa dengan menggabungkan kekuatan (power) dan visi. Pemimpin besar memiliki visi besar yang menjadikannya inspirasi guna memajukan bangsanya. Namun catat, Nixon seorang pemimpin besar berada ditengah-tengah kecintaan dan kebencian rakyatnya. Rakyat, bahkan terkadang acuh tak acuh padanya. Pemimpin besar berjalan diatas visinya.

Tiba-tiba kita kangen dengan Bung Karno dan Pak Harto sebagai pemimpin-pemimpin besar bangsa kita, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Tegaknya bangsa ini kini, tak lepas dari kedua tokoh itu. Kepada Bung Karno, sebagai pahlawan kita wajib doakan. Doa juga untuk Pak Harto yang dikenal ‘Bapak Pembangunan’. Lantas bagaimana dengan pemimpin kita hari ini? Entahlah. Saking “berantakannya” bangsa ini membuat kita lupa bahwa bangsa ini punya sejarah panjang yang menggetarkan dunia kala itu. Kami hanya berharap semua ini masih bisa diperbaiki, agar ada sejarah yang terukir manis (walaupun sedikit) pasca kepemimpinannya, yang kemudian kita bisa ceritakan kepada anak-cucu kita kelak. Bangsa ini tidak boleh dendam sejarah, tidak boleh juga terjebak dengan “dosa masa lalu”. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari pemimpin-pemimpinnya terdahulu. Saya jadi teringat dengan ucapan sahabat saya, “pemimpin sekarang lebih ‘gede-ramenya’ di media sosial, dan kecil di tindakan. Dengan kata lain “Pemimpin yang dibesar-besarkan”. (*)