Oleh: Tiklas Pileser Babua

__________________

PELAKSANAAN  Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2026 yang dipusatkan di Desa Dodinga, Kecamatan Jailolo Selatan, menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat untuk memperkenalkan destinasi wisata baru yang memiliki nilai sejarah dan daya tarik internasional.

Dodinga dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan yang berada di perbatasan Halmahera Barat dan Kota Ternate itu dikenal sebagai salah satu lokasi yang pernah disinggahi dan diteliti oleh naturalis ternama dunia, Alfred Russel Wallace, saat melakukan ekspedisi di Kepulauan Maluku pada tahun 1858.

Jejak penelitian Wallace tersebut menjadi nilai jual penting yang kini diangkat sebagai bagian dari promosi wisata Halmahera Barat kepada dunia.

Namun di tengah upaya memperkenalkan Dodinga sebagai destinasi baru, sejumlah kalangan termasuk Komunitas Lentera menilai masih terdapat potensi wisata bersejarah lain yang belum mendapat ruang dalam agenda FTJ 2026, yakni kawasan Telaga Rano di wilayah Sahu.

Padahal, Telaga Rano selama ini dikenal memiliki nilai historis yang panjang dan kuat. Catatan sejarah menyebut kawasan tersebut pernah menjadi bagian penting dari pusat kekuasaan Raja Baikole dan Raja Wangemalako sekitar abad ke-15 atau sekitar tahun 1400-an. Selain catatan historis, Telaga Rano juga menawarkan keindahan danau yang jarang disoroti.

Nilai sejarah Telaga Rano juga mendapat perhatian kalangan akademisi. Pada tahun 1989, kawasan tersebut menjadi salah satu objek penelitian Prof. Leontine Visser dari Den Haag Belanda, Universitas Leiden, dalam kajiannya mengenai sistem pertanian dan kehidupan masyarakat Sahu di Halmahera.

Selain memiliki rekam jejak sejarah kerajaan, Telaga Rano juga menyimpan berbagai peninggalan arkeologis yang hingga kini masih ditemukan oleh masyarakat sekitar.

Warga desa Gamsungi percaya bahwa pecahan piring kuno yang diduga berasal dari perdagangan Tiongkok pada masa lampau yang ditinggalkan oleh leluhur mereka. Peninggalan tersebut dinilai menjadi bukti adanya aktivitas hubungan dagang yang pernah berlangsung di kawasan tersebut.

Tidak hanya itu, Telaga Rano juga diyakini sebagai salah satu wilayah yang pernah menjadi episentrum kekuasaan Raja Baikole, sehingga memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah pemerintahan tradisional di Halmahera Barat.

Fakta menarik lainnya muncul dalam beberapa hari terakhir ketika warga menemukan granat yang diduga adalah peninggalan Perang Dunia II di sekitar kawasan Telaga Rano, Selasa (2/6/26).

Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa wilayah ini menyimpan jejak sejarah yang panjang, mulai dari era kerajaan, jalur perdagangan kuno, hingga masa konflik global yang pernah menjangkau Maluku Utara.

Dengan berbagai potensi tersebut, sejumlah pemerhati sejarah dan pariwisata menilai Telaga Rano layak menjadi bagian dari pengembangan destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya di Halmahera Barat.

Kehadirannya dalam agenda festival daerah dinilai dapat memperkaya narasi pariwisata yang tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga memperkenalkan warisan sejarah yang dimiliki daerah.

FTJ 2026 memang menjadi momentum penting untuk mempromosikan Dodinga kepada wisatawan nasional maupun mancanegara. Namun di saat yang sama, Telaga Rano dengan kekayaan sejarahnya dinilai masih menunggu perhatian lebih serius agar dapat tampil sebagai salah satu ikon wisata sejarah Halmahera Barat di masa mendatang. (*)