Tivanusantara – Komitmen menjaga keberlanjutan warisan budaya Maluku Utara diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Cipta Karya Lisan Berbasis Tradisi dan Musik Daerah Maluku Utara: “Suara Moloku, Karya Generasi” di Studio Musik D’Oscar, Toloko, Ternate, pada 26–27 Oktober 2026.
Kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan Program Forum Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku Utara ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan semangat berkarya generasi muda.
Sebanyak 30 peserta dari kalangan siswa SMA, mahasiswa, guru, dosen, seniman, dan masyarakat umum mengikuti workshop tersebut.
Mereka diajak mengenali kembali kekayaan bahasa daerah, menggali nilai-nilai kearifan lokal, serta mengolah tradisi lisan menjadi inspirasi penciptaan syair dan lagu daerah yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Muthia Rizka yang menjadi MC acara mengurutkan prosesi pembukaan dan sekaligus memperkenalkan tamu dari Balai Pelestarian Kebudayaan yang dihadiri oleh staf kehumasan.
Ketua panitia, Risdianto Mubin, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan seni, bahasa, dan tradisi lokal. Ia berharap workshop tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu mendorong lahirnya karya-karya baru yang bersumber dari identitas budaya masyarakat Maluku Utara.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua DPC PAPPRI Kota Ternate, Mustamin Hamzah. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence), perlu disikapi secara bijaksana.
“Teknologi dapat menjadi sarana pendukung kreativitas, tetapi pemahaman terhadap akar budaya, keaslian gagasan, dan kemampuan manusia dalam mengolah pengalaman menjadi karya yang tetap perlu dipertahankan,” ujarnya.
Tradisi Lisan sebagai Sumber Inspirasi
Rangkaian materi hari pertama diawali dengan pemaparan Drs Hi Iskandar M Djae, Bangsa Madopolo dari Kesultanan Ternate. Ia mengangkat tema Mengenal Tradisi Lisan Maluku Utara: Kearifan Lokal, Dalil Tifa, Dalil Moro, Dola Bololo, Rorasa, dan Tamsil.
Melalui materi tersebut, peserta diperkenalkan pada tradisi lisan sebagai media pewarisan falsafah hidup, nilai moral, dan pandangan masyarakat terhadap kehidupan.
Ungkapan tradisional seperti “Sema Moro-Moro bolo Saluma, Dingi-Denge bolo Kabata” dan “Kie se Gam majojoho” turut menjadi bagian dari pengenalan terhadap kekayaan ungkapan dan pemikiran lokal. Sesi ini dimoderatori oleh Roswita M Aboe. Selanjutnya, Tuni S Naya, guru sekaligus pegiat bahasa daerah Ternate, membimbing peserta memahami teknik penciptaan syair dalam bahasa daerah.
Materi mencakup teknik monorima baku, pemetaan alur atau plot, penulisan melalui dendang, serta pemilihan diksi dalam puisi tradisional.
Di sela kegiatan pada hari pertama, terasa sangat spesial dimana Sultan Ternate Hidayatullah Mudaffar Sjah turut hadir dan menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga serta meneruskan seni dan budaya lokal.
Kehadiran Ou, sapaan Sultan, memberikan penguatan terhadap semangat pelestarian warisan budaya melalui keterlibatan generasi muda.
Mengubah Kearifan Lokal Menjadi Karya Musik
Pembelajaran kemudian berlanjut pada materi teknik penciptaan syair dan lagu yang dibawakan Mustamin Hamzah.
Peserta diarahkan untuk menyusun lirik secara lisan dalam kelompok, mengembangkan tema berbasis pengalaman dan budaya lokal, serta memahami hubungan antara kekuatan lirik dan karakter musikal.
Pada hari kedua, musisi senior Mohamad Ramli Ear mendampingi peserta dalam praktik penyelarasan lirik dan melodi menggunakan gitar. Melalui proses ini, gagasan yang sebelumnya dirangkai dalam bentuk syair mulai dikembangkan menjadi komposisi lagu daerah. Kegiatan praktik memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana bahasa, irama, dan pesan budaya dapat berpadu menjadi karya kreatif.
Workshop diakhiri dengan penutupan resmi oleh Mustamin Hamzah, ketua DPC PAPPRI Kota Ternate, dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta, serta pembuatan video dokumentasi karya.
Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari upaya merekam proses kreatif peserta dalam menghasilkan lirik berbahasa daerah.
Melalui program “Suara Moloku, Karya Generasi”, tradisi lisan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan yang dikenang, tetapi terus berkembang melalui penciptaan karya baru.
Semangat ini menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, melainkan juga memberi ruang bagi generasi muda untuk menafsirkan, menghidupkan, dan mewariskan identitas Moloku melalui bahasa, syair, dan musik daerah.

Tinggalkan Balasan