Oleh: M Gadri Sanaba
Ketua Majelis Dakwah Muhammadiyah Sula
__________________
PIALA Dunia selalu menjadi peristiwa yang dinanti oleh masyarakat dunia. Setiap penyelenggaraannya menghadirkan suasana yang berbeda. Jutaan pasang mata tertuju pada pertandingan yang mempertemukan negara-negara terbaik untuk memperebutkan trofi paling bergengsi dalam dunia sepak bola. Indonesia memang belum menjadi peserta dalam ajang tersebut, tetapi semangat masyarakat dalam menyambut Piala Dunia tidak kalah meriah dibandingkan negara-negara peserta. Dalam beberapa hari terakhir, suasana itu tampak jelas di berbagai daerah. Bendera negara-negara peserta berkibar di sepanjang jalan. Warung kopi, pos ronda, dan ruang-ruang publik dipenuhi layar televisi yang menayangkan pertandingan. Kelompok-kelompok pendukung berkumpul untuk menyaksikan tim favorit mereka berlaga. Perbincangan tentang strategi permainan, statistik pemain, dan prediksi hasil pertandingan menjadi topik utama dalam berbagai forum, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Fenomena tersebut pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif. Sepak bola mampu menjadi sarana hiburan yang mempererat hubungan sosial. Ia menghadirkan ruang perjumpaan yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Perbedaan profesi, usia, status sosial, bahkan pilihan politik seolah melebur dalam semangat yang sama sebagai pencinta olahraga. Namun, di balik kemeriahan itu, terdapat sejumlah fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama bahwa tidak sedikit euforia yang diekspresikan secara berlebihan hingga mengganggu ketertiban umum seperti konvoi kendaraan dilakukan tanpa memperhatikan keselamatan pengguna jalan, aksi ugal-ugalan di jalan raya dianggap sebagai bagian dari perayaan kemenangan, petasan dinyalakan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Akibatnya, tidak jarang terjadi kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan korban luka bahkan korban jiwa.
Ironisnya, kemenangan yang seharusnya menjadi alasan untuk bergembira justru berubah menjadi sumber musibah. Keluarga kehilangan anggota keluarganya, pengguna jalan lain menjadi korban dari tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ketertiban umum terganggu hanya karena sebagian orang tidak mampu mengendalikan euforia sesaat. Padahal, esensi olahraga adalah menghadirkan kegembiraan, bukan menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Fenomena lain yang juga sering muncul adalah pertikaian antarpendukung. Perbedaan pilihan tim yang semestinya menjadi bagian dari dinamika olahraga sering berkembang menjadi perdebatan yang emosional. Masing-masing pihak berusaha mempertahankan argumennya dengan data statistik, sejarah prestasi, hingga rekam jejak pemain. Sayangnya, diskusi yang seharusnya memperkaya wawasan tidak jarang berubah menjadi saling mengejek, saling merendahkan, bahkan berujung pada perkelahian. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih kesulitan membedakan antara fanatisme dan sportivitas.
Mendukung sebuah tim merupakan hak setiap orang. Akan tetapi, dukungan tersebut tidak boleh menghilangkan kemampuan untuk menghormati pilihan orang lain. Dalam olahraga, perbedaan dukungan adalah sesuatu yang wajar. Tidak mungkin semua orang mendukung tim yang sama. Justru keberagaman pilihan itulah yang membuat kompetisi menjadi menarik untuk disaksikan. Kedewasaan seorang pendukung tidak diukur dari seberapa keras ia meneriakkan dukungan kepada tim favoritnya. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuannya menerima perbedaan, menghormati lawan, dan mengendalikan emosi ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan, sementara kekalahan tidak boleh melahirkan kebencian. Di era digital saat ini, tantangan tersebut semakin besar. Media sosial sering menjadi arena pertarungan opini yang tidak sehat. Cemoohan, hinaan, dan provokasi dengan mudah tersebar hanya karena perbedaan pilihan tim. Padahal, sepak bola tidak pernah mengajarkan permusuhan. Sebaliknya, olahraga mengajarkan disiplin, kerja sama, penghormatan terhadap aturan, dan sikap sportif dalam menerima hasil pertandingan.
Selain persoalan sosial, terdapat aspek lain yang tidak kalah penting untuk menjadi bahan refleksi, khususnya bagi umat Islam. Semangat menyaksikan pertandingan jangan sampai menggeser kewajiban yang lebih utama, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ ala. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian pertandingan berlangsung pada waktu-waktu yang berdekatan dengan jadwal salat. Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim dituntut untuk mampu menempatkan prioritas secara benar. Jangan sampai keseruan menyaksikan pertandingan membuat seseorang menunda atau bahkan meninggalkan salat, jangan sampai perhatian tertuju penuh kepada pemain dan permainan di lapangan layar kaca, sementara panggilan azan diabaikan. Sepak bola hanyalah hiburan yang bersifat sementara, sedangkan salat merupakan kewajiban yang menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim.
Demikian pula dalam perayaan kemenangan. Sorak-sorai, konvoi, dan berbagai bentuk ekspresi kegembiraan hendaknya tidak menimbulkan kegaduhan ketika azan berkumandang atau ketika masyarakat sedang melaksanakan ibadah. Menghormati waktu salat dan menjaga ketenangan lingkungan merupakan bagian dari etika sosial sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama yang hidup di tengah masyarakat. Piala Dunia pada akhirnya hanyalah sebuah kompetisi, akan ada tim yang menang dan ada tim yang kalah, akan ada yang bersorak gembira dan ada yang menahan kecewa. Semua itu merupakan bagian dari dinamika olahraga yang akan berlalu seiring berjalannya waktu. Namun, keselamatan, persaudaraan, akhlak, dan ketaatan kepada Tuhan merupakan nilai-nilai yang harus tetap dijaga dalam keadaan apa pun. Olehnya itu, di balik gemuruh Piala Dunia yang sedang menggema di berbagai penjuru dunia, marilah kita menjaga akal sehat, persaudaraan serta konsistensi dalam beribadah agar tidak rusak hanya karena sebuah kompetisi yang sesaat.
Dukunglah tim favorit dengan penuh semangat, tetapi jangan kehilangan sopan santun. Berdebatlah dengan argumentasi, tetapi jangan merusak hubungan persaudaraan. Rayakan kemenangan dengan kegembiraan, tetapi jangan mengganggu ketertiban dan keselamatan. Nikmatilah pertandingan dengan antusias, tetapi jangan melalaikan salat dan kewajiban kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab pada akhirnya, kemenangan yang paling berharga bukanlah kemenangan sebuah tim di lapangan hijau, melainkan kemenangan manusia dalam mengendalikan dirinya, menjaga persaudaraan, serta tetap taat kepada nilai-nilai moral dan agama di tengah derasnya arus euforia. (*)

Tinggalkan Balasan