Oleh: Zhulia Asturlabi
_______________
ANCAMAN PHK di Indonesia sampai saat ini belum mereda akibat tekanan konflik global, pelemahan rupiah, dan naiknya biaya produksi yang membebani dunia usaha. Salah satu kasus PHK terbaru terjadi di sebuah perusahaan manufaktur. Dikutip dari CNBC Indonesia, Said Iqbal dalam konferensi pers mengatakan bahwa “Benar telah terjadi PHK sekitar 350 karyawan di PT Xacti Indonesia, yang berlokasi di Depok Jawa Barat. 350 orang telah di PHK dan perusahaan total tutup operasional” (Senin, 25/05/2026).
PHK juga mengancam Maluku Utara. Dikutip dari Tribunternate.com, Sofifi, angka pengangguran di provinsi Maluku Utara pada 2026 diperkirakan berpotensi meningkat. Kondisi ini dipicu rencana PHK di sejumlah perusahaan tambang akibat kebijakan pemerintah pusat yang memangkas kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) hingga 30 persen (Rabu, 06/05/2026).
Padahal, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat ini di dunia kerja persaingan semakin ketat, satu lowongan pekerjaan dapat dilamar ribuan orang. Dikutip dari CNBC Indonesia, menurut data platform pencari kerja job street by SEEK pada Maret tahun 2025 lalu, rata-rata satu iklan lowongan kerja dapat menerima sekitar 500-600 lamaran dari pencari kerja. Bahkan posisi umum di perusahaan besar persaingan lebih ketat. Dalam beberapa kasus, jumlah pelamar bisa mencapai ribuan orang.
PHK adalah Hasil Sistem Kapitalisme
Sistem kapitalisme menjadikan buruh hanya sebatas komoditas semata, alhasil PHK dianggap buah logis yang harus diterima oleh masyarakat. Maka dari itu, tak heran jika tahun ke tahun angka fenomena PHK bukannya menurun justru semakin meningkat. Padahal mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, karena persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelamar sungguh dipersulit dan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, salah satu persyaratannya adalah harus memiliki pengalaman kerja, lantas bagaimana dengan seseorang yang ingin bekerja namun belum ada pengalaman kerja.
Mirisnya, seseorang bisa diputus pekerjaannya atau di PHK sewaktu-waktu tanpa ada pesangon. Dalam sistem kapitalisme memusatkan modal pada segelintir orang semata, sehingga lapangan kerja menjadi terbatas bukan karena kurangnya kebutuhan kerja, melainkan karena hanya dibuka jika menguntungkan pemilik modal. Negara hanya berperan sebagai penjaga kepentingan para pemilik modal.
Ketika gelombang PHK melanda, negara kapitalis paling jauh hanya menawarkan jaring pengaman sosial. Adanya fenomena PHK massal tersebut menunjukkan kelemahan dalam sistem kapitalisme-sekuler yang diterapkan dalam negeri ini.
Islam Solusinya
Islam bukan hanya sekedar spiritual, melainkan aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan aturan Islam inilah seluruh problematika umat yang ada dapat terselesaikan tanpa menimbulkan problematika yang baru. Saat masa kejayaan Islam problematika yang ada di tengah-tengah masyarakat tidak sebanyak sekarang dan dapat terselesaikan dengan baik.
Negara dalam sistem Islam berkewajiban untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya. Salah satu negara mensejahterakan rakyatnya yakni dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Seperti masa kepemimpinan Bani Umayyah, dimana Umar Bin Abdul Aziz menyadari bahwa memberikan santunan (uang tunai) terus-menerus bukanlah solusi jangka panjang. Untuk itulah, ia memerintahkan para gubernurnya untuk memberikan modal dari khas negara (baitul mal) kepada para pengangguran agar mereka bisa berdagang. Selain itu, ia memberikan pekerjaan kepada rakyatnya sesuai dengan bidang keahliannya.
Islam memandang setiap individu wajib didorong untuk bekerja, khususnya para lelaki yang memiliki kewajiban menafkahi keluarganya. Islam juga mengatur sistem ekonomi agar tidak bergantung pada modal kapitalistik yang hanya fokus ke segelintir orang. Selain itu, Islam melarang adanya malpraktek ekonomi yang merusak stabilitas yang dapat menyebabkan ketimpangan ekonomi dan memperburuk kondisi masyarakat.
Kita membutuhkan sebuah negara yang dapat menerapkan aturan-aturan tersebut, tidak lain hanyalah daulah Islam yang menerapkan sistem Islam secara kaffah. Jika berharap dengan sistem saat ini akan kesejahteraan seperti angan-angan yang takkan pernah terwujud. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Tinggalkan Balasan