Tivanusantara – Potensi perikanan tuna di Maluku Utara dianggap memiliki peluang besar untuk mendukung penguatan pasar domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi nelayan. Salah satu upaya yang didorong adalah membangun kebiasaan masyarakat mengonsumsi ikan tuna sebagai sumber protein keluarga setidaknya sekali dalam sepekan.
Selain meningkatkan konsumsi, masyarakat juga diajak lebih mengenali asal-usul tuna dan metode penangkapannya agar pemanfaatan sumber daya laut dapat berjalan secara berkelanjutan. Ajakan tersebut mengemuka dalam diskusi Bincang Tuna Episode 3 bertajuk Know Your Tuna, Value Every Catch di Indonesia Tuna Pavilion, dalam rangkaian SIAL Food & Drinks Indonesia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, baru-baru ini. Penguatan konsumsi domestik dinilai dapat memperluas pasar tuna nasional, mendorong inovasi produk olahan, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi industri perikanan dan nelayan. Terlebih, nilai ekspor tuna Indonesia telah melampaui USD1 miliar pada 2025.
Bagi Maluku Utara yang memiliki potensi sumber daya perikanan laut, penguatan pasar domestik menjadi peluang untuk mendorong pengembangan sektor perikanan, termasuk meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan. Program Leader Tuna Consortium, Thilma Komaling, mengatakan perubahan menuju sistem pangan berkelanjutan dapat dimulai dari keputusan sederhana konsumen dalam memilih makanan sehari-hari.
Menurut dia, masyarakat perlu mengenali jenis tuna yang dikonsumsi, cara penangkapannya, serta menghargai peran nelayan dalam rantai pasok perikanan. “Setiap pilihan makanan memiliki cerita dan dampak di baliknya. Ketika masyarakat mulai mengenali tuna yang mereka konsumsi, memahami bagaimana ikan tersebut ditangkap, serta menghargai nelayan yang bekerja di baliknya, kita sedang membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab antara konsumen dan sumber daya laut,” ujar Thilma, Sabtu, 7 November 2026.
Sementara itu, Direktur MDPI Foundation, Yasmin Simbolon, mengajak masyarakat membiasakan konsumsi tuna sebagai salah satu sumber protein hewani dalam menu keluarga. Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Segar Indonesia dari Badan Pangan Nasional, ikan tuna mengandung sekitar 25,76 gram protein per 100 gram bahan pangan. Selain kandungan gizi, aspek keamanan pangan juga perlu menjadi perhatian, terutama dalam proses penanganan dan penyimpanan ikan. Founder dan CEO Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Janti Djuari, menjelaskan bahwa histamin dapat terbentuk pada ikan tuna apabila penanganan dan penyimpanannya tidak dilakukan dengan baik.
Kadar histamin yang tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Karena itu, penerapan rantai dingin atau cold chain menjadi faktor penting untuk menjaga mutu dan keamanan ikan tuna hingga sampai ke tangan konsumen. Bagi Maluku Utara, penguatan konsumsi tuna tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, tetapi juga membuka peluang memperkuat rantai ekonomi perikanan, mulai dari nelayan, pengolahan hasil tangkapan hingga pemasaran produk perikanan. (rii)

Tinggalkan Balasan