PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Oleh: Abbas Hi Hamid 

_____________

KALAU ada satu spesies yang paling banyak menciptakan penderitaan di muka bumi, jawabannya mungkin bukan virus, bukan bencana alam, dan bukan predator.

Jawabannya adalah manusia.

Sulit dibantah. Hampir setiap tragedi terbesar dalam sejarah lahir bukan dari alam, melainkan dari tangan kita sendiri.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak orang yang rela menjatuhkan orang lain demi jabatan, uang, atau sekedar ego?

Yang lemah diinjak. Yang berbeda disingkirkan. Kawan berubah menjadi lawan ketika kepentingan mulai ambil suara.

Tulisan ini adalah refleksi saya setelah menonton film yang tayang di layar lebar, Spider-Man: Brand New Days.

Manusia dan kontradiksinya

Kita sering membanggakan diri sebagai makhluk yang rasional. Kita berbicara tentang moral, keadilan, dan empati seolah itu adalah identitas alami manusia.

Namun pertanyaannya adalah: seberapa kuat nilai-nilai itu ketika kepentingan pribadi mulai terancam?

Apakah kita benar-benar melakukan kebaikan karena percaya bahwa itu benar?

Atau karena selama ini kita belum berada dalam situasi yang memaksa kita memilih antara kebenaran dan keuntungan pribadi?

Mungkin bagian paling sulit dari memahami manusia adalah menerima bahwa kita memiliki kemampuan untuk menjadi dua hal yang bertentangan sekaligus.

Kita mampu menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, tetapi juga mampu melakukan kekejaman yang sulit dipahami. Kita mampu mengorbankan diri untuk orang lain, tetapi juga mampu menghancurkan orang lain demi diri sendiri.

Dan mungkin, justru di situlah letak kompleksitas manusia.

The monster called ego

Ada satu dialog di film Spider-Man yang terus terngiang di kepala saya.

Humans are monsters.”

Awalnya saya kira kalimat itu sedang berbicara tentang manusia yang kejam. Seperti yang direpresentasikan di dalam film, sebuah company bernama.. rahasia (saya tidak mau spoiler). Tapi semakin saya pikirkan, mungkin yang dimaksud bukanlah kekejaman.

Mungkin yang dimaksud adalah egoisme.

Karena kalau kita mencoba mengupas hampir semua konflik besar sampai ke akarnya, kita akan menemukan pola yang terus berulang.

Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi kepentingan.

Perang jarang dimulai hanya karena seseorang membenci pihak lain. Hampir selalu ada sesuatu yang ingin dipertahankan atau direbut: wilayah, sumber daya, pengaruh, keamanan, atau kekuasaan.

Perusahaan tidak mengeksploitasi pekerja semata-mata karena mereka menikmati penderitaan orang lain. Mereka melakukannya karena keuntungan sering kali lebih menggoda daripada keadilan.

Dalam kehidupan pribadi pun tidak jauh berbeda.

Berapa banyak hubungan yang retak karena masing-masing merasa dirinya paling benar?

Berapa banyak persahabatan yang berakhir bukan karena kebencian, melainkan karena tidak ada satu pun yang mau mengalah?

Bukankah kita juga lebih ramah kepada orang yang bisa memberi manfaat untuk kita? Bukankah kita lebih mudah memaafkan kesalahan orang yang kita sukai dibanding orang yang tidak kita kenal? Bukankah kita lebih lantang berbicara tentang keadilan ketika kita berada di pihak yang dirugikan?

Sulit mengakuinya, tetapi jangan-jangan kita tidak benar-benar membenci ketidakadilan.

Kita hanya membenci ketidakadilan yang merugikan diri kita sendiri.

Are humans born evil?

Kalau ego memang menjadi bagian dari manusia, pertanyaan berikutnya menjadi lebih sulit.

Apakah egois itu adalah sifat asli manusia?

Atau apakah manusia sebenarnya dilahirkan baik, lalu perlahan berubah karena dunia yang membentuknya?

Ini adalah pertanyaan yang menjadi debat alot para filsuf sejak ratusan tahun lalu.

Thomas Hobbes, seorang filsuf Inggris abad ke-17, memiliki pandangan yang cukup pesimistis tentang manusia. Menurutnya, tanpa aturan dan batasan, manusia akan cenderung bertindak berdasarkan kepentingannya sendiri. Dalam kondisi tanpa hukum, manusia akan hidup dalam keadaan di mana setiap orang berusaha mempertahankan dirinya, bahkan jika itu harus mengorbankan orang lain.

Bagi Hobbes, masalah utama manusia bukan karena kita tidak tahu apa yang benar. Masalahnya adalah kita terlalu mudah menempatkan kepentingan diri sendiri di atas segalanya.

Pandangan ini sulit dibantah. Lihat saja sejarah.

Peradaban yang paling maju sekalipun tetap mengenal perang. Masyarakat yang mengaku menjunjung nilai kemanusiaan tetap mampu melakukan penindasan. Teknologi yang diciptakan untuk mempermudah hidup juga digunakan untuk menghancurkan kehidupan.

Namun beberapa dekade sebelum Hobbes, Jean-Jacques Rousseau menawarkan pandangan yang berlawanan.

Menurut Rousseau, manusia pada dasarnya tidak lahir sebagai makhluk yang jahat. Manusia lahir dengan kecenderungan alami untuk merasa iba dan peduli. Yang kemudian merusaknya adalah lingkungan, sistem sosial, dan keinginan yang terus berkembang untuk dibandingkan dengan orang lain.

Jika Hobbes melihat manusia sebagai makhluk yang perlu dikendalikan agar tidak saling menghancurkan, Rousseau melihat masyarakat sebagai sesuatu yang dapat mengubah manusia menjadi lebih buruk.

Menariknya, setelah ratusan tahun, kita masih terjebak di antara dua pandangan ini.

Jika manusia memang terlahir baik, mengapa sejarah dipenuhi oleh begitu banyak kekejaman? Mengapa seseorang bisa menyiksa orang lain hanya karena perbedaan suku, agama, atau ideologi? Mengapa manusia bisa melakukan tindakan yang begitu tidak manusiawi?

Tapi kalau manusia memang terlahir egois, kenapa kita masih bisa merasa iba? Kenapa kita marah ketika melihat ketidakadilan? Kenapa masih ada orang yang rela mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan orang asing yang bahkan tidak pernah ia kenal?

Mana yang lebih mencerminkan manusia? Kekejamannya, atau belas kasihnya?

Mungkin masalahnya memang bukan memilih salah satunya. Karena manusia tampaknya mampu menjadi keduanya, hampir pada saat yang bersamaan.

Kita bukan makhluk yang sepenuhnya baik. Tetapi kita juga bukan makhluk yang sepenuhnya buruk.

Sepertinya kita memiliki kemampuan untuk menyakiti dan menyembuhkan. Untuk menghancurkan dan membangun. Untuk mengkhianati dan berkorban.

Moral yang Datang Belakangan

Salah satu hal paling menarik tentang manusia adalah kemampuan kita untuk merasa bahwa kita selalu memiliki alasan yang benar.

Jarang sekali seseorang bangun di pagi hari dan berkata: “Hari ini saya ingin menjadi orang jahat.”

Join The Writer’s Circle event
Sebagian besar orang yang melakukan sesuatu yang salah tetap melihat dirinya sebagai seseorang yang memiliki alasan.

Orang berbohong ‘demi melindungi diri’.
Orang mengkhianati ‘demi bertahan hidup’. Orang korupsi ‘demi keluarga’.
Orang menindas ‘demi stabilitas’.
Hampir semua memiliki narasi yang membuat dirinya tetap terlihat sebagai orang baik.

Psikolog sosial Jonathan Haidt memiliki gagasan menarik tentang bagaimana manusia membuat keputusan moral. Menurutnya, penalaran moral kita sering kali bukan pengemudi, melainkan humas. Artinya, kita tidak selalu menggunakan logika untuk menentukan apa yang benar dan salah.

Sering kali kita sudah memiliki keputusan terlebih dahulu berdasarkan emosi, intuisi, kepentingan, lalu akal datang setelahnya untuk menjelaskan mengapa keputusan tersebut masuk akal.

Dengan kata lain, pikiran kita seringkali tidak bertugas mencari kebenaran. Ia hanya bertugas membela kita.

Bukankah itu terdengar mengerikan?

Bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah kepentingan pribadi menjadi sesuatu yang terdengar seperti tindakan yang masuk akal?

When Good People Become Perpetrators

Kalau manusia memang memiliki kemampuan untuk membenarkan tindakannya sendiri, muncul pertanyaan lain yang jauh lebih… mengganggu.

Apakah kejahatan selalu dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki sifat jahat?

Atau apakah orang baik juga bisa melakukan hal-hal mengerikan dalam kondisi tertentu?

Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus terbesar dalam psikologi sosial.

Pada tahun 1960-an, psikolog Stanley Milgram melakukan sebuah eksperimen yang kemudian menjadi salah satu penelitian paling kontroversial dalam sejarah psikologi.

Dalam eksperimen tersebut, peserta diminta memberikan sengatan listrik kepada seseorang setiap kali orang tersebut menjawab pertanyaan dengan salah. Mereka tidak benar-benar memberikan sengatan listrik, tetapi para peserta percaya bahwa mereka melakukannya.

Yang membuat eksperimen itu mengejutkan bukan hanya hasilnya. Melainkan alasan mengapa banyak peserta tetap melanjutkan kekejaman.

Para peserta tidak terlihat seperti orang yang menikmati penderitaan orang lain. Mereka juga merasa tidak nyaman dan diam-diam bertanya apakah tindakan mereka benar.

Namun ketika seseorang yang mereka anggap memiliki otoritas mengatakan bahwa mereka harus melanjutkan, banyak dari mereka tetap melakukannya.

Eksperimen tersebut menunjukkan sesuatu yang mengganggu tentang manusia.

Manusia seringkali tidak melakukan sesuatu yang salah karena ia membenci orang lain atau menikmatinya. Kadang ia melakukannya karena ia merasa hanya mengikuti perintah. Lagipula, bukan ia yang bertanggung jawab.

“Saya hanya mengikuti aturan.”

“Saya hanya menjalankan perintah.”

“Saya hanya melakukan bagian saya.”

Dan ya, sejarah menunjukkan bahwa kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi awal dari tragedi besar.

Beberapa tahun kemudian, Philip Zimbardo mencoba menunjukkan bagaimana peran sosial dapat mengubah perilaku melalui Stanford Prison Experiment. Meski eksperimen ini kini banyak dikritik secara metodologis, satu pertanyaannya tetap relevan: Berapa banyak sisi gelap manusia yang sebenarnya muncul bukan karena diri kita, tetapi karena lingkungan memberi izin untuk kita melakukannya?

Saat membahas kejahatan besar seperti Holocaust, banyak orang membayangkan pelakunya sebagai monster yang berbeda dari manusia biasa. Seseorang yang penuh kebencian, kasar, dan tidak memiliki empati.

Namun Hannah Arendt, ketika meliput persidangan Adolf Eichmann, salah satu pejabat penting dalam sistem Nazi, melihat sesuatu yang membingungkan.

Ia tidak menemukan sosok ‘monster’ itu di sana. Yang ia temukan hanya seorang birokrat. Seorang pegawai. Seseorang yang berkali-kali berkata bahwa ia hanya menjalankan perintah.

Dari sana Arendt memperkenalkan gagasan banality of evil.

Bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari kebencian yang luar biasa. Kadang ia lahir dari kebiasaan untuk berhenti berpikir. Berhenti mempertanyakan sesuatu. Berhenti merasa bertanggung jawab. Berhenti berkata, “Ini salah.”

Mungkin itu yang paling menakutkan.

Lalu Mengapa Masih Ada Orang Baik?
Namun, jika manusia begitu mudah dipengaruhi oleh ego, keadaan, dan tekanan sosial, muncul pertanyaan lain. Mengapa masih ada orang yang memilih untuk melakukan hal yang benar?

Jika situasi mampu mengubah manusia menjadi pelaku ketidakadilan, mengapa ada orang yang justru melawan situasi tersebut?

Sejarah tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang yang mengikuti arus. Sejarah juga dipenuhi oleh mereka yang berani berdiri melawan arus.

Di tengah Holocaust, ada orang yang menyembunyikan keluarga Yahudi meskipun mereka tahu resikonya.
Di tengah perang, ada tentara yang menolak mengikuti perintah untuk membunuh warga sipil.

Di tengah sistem yang korup, ada orang yang memilih kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting. Bahwa sebenarnya, selalu ada ruang untuk memilih.

Penelitian tentang perkembangan manusia sejak kecil juga memberikan gambaran yang menarik.

Kalau melihat anak kecil berebut mainan sambil berkata, “Ini punyaku,” mudah sekali menyimpulkan bahwa egoisme adalah naluri pertama manusia.

Tetapi penelitian psikologi justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit.

Bayi yang bahkan belum bisa berbicara sudah menunjukkan tanda-tanda empati sederhana. Mereka ikut menangis ketika mendengar bayi lain menangis. Anak-anak kecil juga sering kali spontan membantu orang dewasa mengambil barang yang jatuh, bahkan tanpa dijanjikan hadiah.

Seolah-olah egoisme memang ada. Tetapi benih empati juga sudah ada sejak awal.

Kalau begitu, apa yang sebenarnya berubah ketika kita dewasa?

Mungkin bukan sifat dasar kita yang berubah, melainkan sifat mana yang akhirnya lebih sering diberi ruang.

Dunia modern seringkali mengajarkan kita bahwa kepedulian adalah sesuatu yang mahal. Bahwa orang yang terlalu baik akan mudah dimanfaatkan. Bahwa jika kita tidak memikirkan diri sendiri, tidak ada orang lain yang akan melakukannya.

Dan lama-kelamaan, egoisme terdengar bukan sebagai sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang realistis.

Mungkin itu yang paling berbahaya.

Karena monster tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang ia lahir ketika kita terus-menerus meyakinkan diri bahwa kepentingan kita selalu lebih penting daripada kepentingan orang lain.

Lalu saya kembali bertanya.

Kalau suatu hari tidak ada hukum, tidak ada kamera, tidak ada reputasi yang harus dijaga, dan tidak ada konsekuensi…

Apakah kita tetap memilih melakukan hal yang benar?

Atau selama ini kita hanya terlihat baik karena ada sesuatu yang ingin kita lindungi: nama baik, citra, atau kepentingan sendiri?

Mungkin itulah mengapa dialog “Humans are monsters” terasa begitu mengganggu.

Bukan karena manusia selalu kejam. Tetapi karena dalam diri setiap manusia, selalu ada godaan untuk mendahulukan dirinya sendiri.

Dan mungkin, menjadi manusia baik bukan berarti tidak memiliki ego. Melainkan terus berjuang agar ego itu tidak mengambil alih seluruh kemanusiaan kita. (*)