Oleh: Sahawia Firdaus, S.Pd 

________________

SETIAP tahun Hari Pendidikan selalu dirayakan, tapi nyatanya pendidikan seolah salah alamat dan berubah menjadi buram dan memprihatikan. Kasus kekerasan seksual berseliweran dari sekolah sampai perguruan tinggi tempat dimana para intelektual dididik. Rasa aman di ruang pendidikan harus dibayar mahal dengan maraknya perilaku kekerasan seksual, penyimpangan sampai penganiyaan. Salah satu kasus pelecahan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Dugaan percakapan yang viral di media sosial membahas tentang percakapan yang bersifat seksual merendahkan mahasiswa dan dosen. Para calon jaksa, hakim dan penegak hukum dari generasi ini seperti memberi tanda peringatan fenomena gunung es dan rapor merah pendidikan.

Rapor Merah Pendidikan 

Kasus per kasus atas nama pendidikan selalu menghiasi platform media sosial. Mulai dari seorang pelajar yang dikeroyok sampai merengut nyawa, pelecehan melalui ruang chat group, anak bunuh diri sebab tak mampu membeli buku tulis, ribuan anak-anak keracunan MBG, kecurangan ujian, plagiat merajalela, pengedaran narkoba, gaji guru yang rendah sampai penghinaan pada guru. Warna-warni fakta yang menambah PR panjang pendidikan. Sehingga momen hardiknas menjadi alarm peringatan paling keras bagi semua pihak untuk memperbaiki rapor merah pendidikan di Indonesia. Bukan hanya sebatas mengisi dengan upacara tapi sebagai momen refleksi dengan usia pendidikan ke-66 tahun sebagai usia matang dan menanti keberhasilan bukan kegagalan demi kegagalan di usia senja.

Wajah Gagal Pendidikan Sekuler 

Kegagalan implementasi dan salah arah pendidikan menghasilkan pelajar yang krisis kepribadian yang akhirnya cenderung sekuler, liberal dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. Padahal Indonesia mengejar target dan memiliki visi Indonesia Emas 2045 dengan peluang penduduk usia produktif sebagai periode bonus demografi. Tapi apalah daya sistem pendidikan sekuler menghasilkan output yang hanya ingin sukses secara instan tanpa mau berusaha secara serius dan juga menghasilkan orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar yang mayoritas di bawah umur sehingga mentoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata.

Daftar panjang kasus di dalam pendidikan menampilkan wajah gagal pendidikan sekuler dengan mengabaikan pendidikan nilai-nilai agama. Memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindakan kejahatan dan kemaksiatan. Sehingga kita membutuhkan solusi tuntas untuk mengantarkan pendidikan ke gerbang keberhasilan membina generasi. Islam telah membuktikan pembinaan terbaik untuk membina generasi dalam bidang pendidikan.

Islam dan Solusi Pendidikan 

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan untuk meraih kesuksesan. Pembentukan Islam berfokus pada pendidikan karakter (syakhsiyah Islamiyah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap.

Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan termasuk pelajar. Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh dengan ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan. Sinergi dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam. (*)