Oleh: Aloed Totona
_______________________
MANUSIA adalah makhluk sosial yang tak bakal hidup dalam ruang publik yang kian tenteram. Ia bakal menghadapi beragam masalah agar tetap kokoh dalam memahami hidup. Begitu juga sebagai individu, ia bakal menemukan kontradiksi-kontradiksi kehidupan baik berdasarkan kenyataan di ruang publik maupun dalam keluarga.
Faisal Anwar bukanlah anak muda yang lahir dari keluarga yang berada, melainkan ia lahir dari rahim seorang petani. Ia tumbuh dan menemukan eksistensi dirinya dalam ruang yang kian bergejolak, keras, dan tak berkesudahan. Di ruang itulah ia kemudian membangun harapan dan impiannya untuk dapat berguna bagi yang lain. Bagi kebanyakan orang, melihat Opo begitulah sapaan akrab adalah representasi anak muda yang menolak menyerah pada keadaan.
Ia terus mengayun harapan dan cita-citanya melalui ruang pertemanan dan relasi di level elite, hingga pada posisi saat ini……. Menjadi anak muda dengan strata sosial yang baik, butuh waktu dan proses panjang, dimana komitmen, kepedulian dan rasa kasih adalah kunci utama ketika berada di tengah kehidupan masyarakat.
Barangkali tanpa berlebihan, hal inilah yang juga diungkapkan Aristoteles bahwa harapan adalah impian yang terbangun. Mereka yang tak memiliki harapan dan impian adalah mereka yang bakal hidup tanpa arah. Bagi lelaki kelahiran Topo, Kota Tidore Kepulauan, ini hidup yang tak dirintis dengan keringat, perjuangan dan pengetahuan hanya bakal terjebak pada fanatisme yang berlebihan, akhirnya seseorang tak bisa membedakan mana isu dan mana fakta yang berdasar.
Meskipun dengan reputasi dan karir yang dimiliki Opo saat ini, tidak membuat dirinya merasa jumawa. Opo kerap merawat hubungan pertemanan tanpa memandang status sosial seseorang. Begitulah yang dirasakan orang-orang yang bersentuhan dengan dirinya.
Hal menarik lainnya tentang Opo, lelaki murah senyum dan humoris itu adalah keberanian mengambil insiatif dan adapatatif di tengah orang-orang yang sibuk menunggu perintah. Hal ini yang saya rasakan suatu waktu ketika berada di kampus A Muhammadiyah Ternate, saya yang baru tiba di salah satu kedai kopi berpapasan dengan Opo, “Abang mau minum kopi atau teh”? Begitulah awal keakraban itu dibangun. Keunikan inilah yang menjadi salah satu modal dalam manifestasi kehidupan sosial yang Opo jalani.
Mengenal Opo lebih dalam, tidak hanya sebagai kenangan semata, melainkan sebagai spirit bagi kalangan anak muda dalam memahami daerah yang plural agar tetap tegak, ramah, dan manusiawi.
Ini adalah kado istimewa bagi Opo yang kerap mengingatkan bahwa apapun yang dimiliki seseorang tidak mesti membuat seseorang kehilangan moralitas dan pertemanan.
Setidaknya dari perjalananan karir Faisal Anwar, kita dapat merumuskan terdapat dua energi yang selalu menjadi dasar hidupnya, yakni komitmen dan kepedulian. Dari energi komitmen Faisal benar-benar memahami bahwa kekuasaan dan uang kerap membuat seseorang rapuh dalam menjaga komitmen yang sedari awal telah dirawat, namun tidak dengan Faisal. Ia tetap kokoh meskipun rayuan uang datang berkali-kali agar rapuh dari komitmen bersama orang yang telah membantu hingga berada pada posisi saat ini.
Sementara dari energi kepedulian Faisal tahu bahwa kepedulian adalah kekuatan yang amat penting bagi jiwa seorang manusia, sebab dari sanalah ia pernah merasakan betapa sulit kehidupan tanpa memiliki apa-apa. Dengan begitu seperti ungkapan Al-Ghazali “Jiwa manusia itu seperti cermin yang memantulkan bayangannya. Kebajikan akan membuat jiwa itu bersinar, sementara keburukan akan membuatnya gelap.”
Sebagai anak muda, Faisal menuliskan sejarahnya sendiri sebagai anak petani yang menolak menyerah pada keadaan. Ia berani menolak stigma bahwa tanpa lahir dari rahim kekuasaan dan uang, seseorang tak boleh menitip harapan berlebihan. Dari Faisal, kita belajar betapa pentingnya komitmen dan kepedulian bila seseorang hendak menjadi manusia yang berarti. Dengan demikian, jadikan setiap tantangan sebagai kekuatan dalam merefleksikan diri agar tetap bijak dalam menata kehidupan ke depan.
Akhir kata, untuk Faisal tetaplah menebar kebaikan tanpa memandang status sosial seseorang. Sebab hanya dengan begitu nama dan jiwa kita bakal abadi bersama orang-orang yang membutuhkan berdasarkan karya dan kerja nyata. (*)

Tinggalkan Balasan