PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Oleh: Sahawia Firdaus

Aktivis Dakwah Muslimah

_______________

Kukira hanya makanan yang harus dikonsumsi tiga kali sehari sebagai aktivitas wajib. Tapi ternyata, kita juga harus mengonsumsi berbagai kasus di waktu hampir 24 jam penuh. Salah satunya adalah kasus bunuh diri di tengah ramai dan padatnya berita. Faktanya Mahasiswa FK Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus dilansir dari kompas pada Kamis (10/9/2026). Begitu juga seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, dilansir dari kompas pada Minggu (6/9/2026). Sebelumnya FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. Jika kita beri perhatian dan melihat ternyata kasus bunuh diri di Indonesia terus meningkat, Gen-Z dan milenial sangat mendominasi keinginan untuk mengakhiri hidup. Apa yang menjadi sebab?

Eksploitasi Diri dan Krisis Identitas

Dilansir dari data layanan Kemenkes Healing119.id sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, sebanyak 15.979 orang mengakses healing119.id untuk berbagai kebutuhan. Tapi yang paling banyak mengakses berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa pada kelompok usia muda. Bahkan dalam catatan healing119.id sebanyak 3.036 memiliki keinginan untuk bunuh diri. Lebih dari separuhnya berusia 21-30 tahun. Sungguh sangat prihatin. Jika ditelusuri dari masalah permukaan adanya setumpuk tanggung jawab untuk membiaya diri dan keluarga. Akhirnya kelelahan dan depresi akibat eksploitasi diri. Ironisnya potensi jumlah yang besar berdasarkan data Susenas 2024, yang diperkirakan sekitar 64,22 juta atau seperlima diisi pemuda. Tapi menyimpan setumpuk permasalahan yang mengguncang jiwa para pemuda sehingga terjadi krisis identitas.

Potret kekejaman sistem saat ini mempengaruhi makna dan tujuan hidup pemuda. Mudah memasukan pilihan mengakhiri hidup di tengah besarnya potensi mereka. Potensi secara jumlah, pengetahuan dan kreativitas untuk membidik sekularisme dan kapitalisme sebagai biang kerok permasalahan. Biang dari segala permasalahan yang menyebabkan pemuda mengeksploitasi diri dan mengalami krisis identitas. Mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan terasa berat dan berujung pada keputusasaan. Dan menjadikan masyarakat bersifat individualistik disuruh berjuang sendiri dan menjadi kesepian di tengah keramaian.

Semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme. Negara ini yang membentuk individu rapuh dan masyarakat individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi Kapitalisme. Kita membutuhkan sistem kokoh yang membarengi pemuda dalam mengkontribusikan potensi besarnya bukan dieksploitasi mendatangkan keuntungan profit semata.

Pemuda Bangkit dengan Islam

Kegagalan sistem Sekularisme dan Kapitalisme dalam balutan aturan Demokrasi sangat berkontribusi mengeksploitasi pemuda dalam kematian pemuda dengan jalan bunuh diri. Sungguh, pilihan yang mencoret citra pemuda sepanjang masa. Sebab, sejarah menjadi saksi bahwa pemuda dengan Islam adalah kombinasi kombo yang sangat luar biasa dalam membangun peradaban. Negara dalam peradaban Islam sangat menjaga keharmonisan kolektif membangun ikatan mulai dari keluarga dan Negara berdasarkan aqidah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian.

Negara Khilafah menerapkan sistem Islam secara kaffah. Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan. Sehingga lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian. (*)