Oleh: Rabbiul Nguna Nguna
Sekretaris Direktur Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Periode 2026-2027
____________________
MALAM itu, di tengah kesunyian jalanan Ternate yang hanya menyisakan deru motor ugal-ugalan, sebuah pemandangan tak terduga menghentikan perjalanan saya. Dalam perjalanan pulang ke kos usai merampungkan tugas modul ajar, tak sengaja mata saya menangkap sesosok ibu dan anak perempuannya yang berusia sekitar tiga tahun. Mereka duduk termangu di tepi lampu merah dari arah berlawanan. Atas izin-Nya, di tengah laju kendaraan yang kencang, saya berhasil melihat mereka yang luput dari perhatian banyak orang.
Di bawah temaram lampu merah Kota Ternate malam itu, sang ibu tidak lagi berdiri menawarkan barang dagangannya atau sekadar mengulurkan tangan meminta-minta kepada pengendara yang lewat. Ia hanya duduk pasrah menggenggam beberapa bungkus makanan ringan, menanti keajaiban yang sekiranya datang. Bukan karena tak ada kendaraan yang berhenti, melainkan karena tubuhnya telah remuk direjam lelah dan gelombang rasa lapar yang hebat.
Pasti kalian bertanya, bagaimana dengan si Adik? Jawabannya persis seperti apa yang ada di pikiran kalian. Anak itu hanya bisa bersabar dan bersabar. Ia menantikan waktu istirahat, atau sekadar memasukkan sepotong kue yang mereka jual, atau sesuap nasi yang tidak sengaja ditemukan di jalan maupun di bak sampah pembuangan sisa makanan. Adik itu terlihat tidak berdaya dengan wajah yang sedikit pucat. Harusnya ia sudah tidur malam itu, sebagaimana anak-anak sebayanya. Berbeda dengan anak seusianya, adik ini dipaksa bertahan oleh keadaan. Ia tetap duduk dengan memeluk lutut dan menyandarkan wajahnya, menatap lurus ke depan dengan harapan ada orang yang menawarkan bantuan.
Selesai membuat modul ajar, sebenarnya saya berencana langsung pulang dan tidur mengingat besok harus bangun lebih cepat. Namun, sebelum sampai di kosan, rencana itu berubah. Saya akhirnya memutuskan untuk menuangkan perasaan haru penuh tangis ini ke dalam tulisan sederhana.
Perlu diketahui, untuk menjadi khalifah kita tidak harus langsung memberikan manfaat kepada seluruh isi bumi. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar. Sebab, merasakan penderitaan orang lain itu datangnya dari hati. Hati yang baik adalah hati yang tidak merasa tenang saat melihat orang lain masih menderita. Apalagi melihat seorang anak perempuan yang masih sangat muda harus bersabar mendampingi ibunya mencari uang demi bertahan hidup hari itu. Anak seusianya harusnya bermain; mirisnya, jangankan bermain, untuk tidur saja ia kesulitan.
Lebih dari sekadar berbagi cerita, tulisan ini adalah pengingat agar kita senantiasa bersyukur. Terutama bagi rekan-rekan mahasiswa, janganlah menjadi generasi yang manja di tengah proses belajar dan berdiskusi. Seringkali kita mengeluh hanya karena lelah dan mengantuk sedetik saat sedang belajar, lalu memilih segera bergegas tidur. Padahal, mari berkaca pada kenyataan: kita hanya melawan rasa kantuk sesaat, sedangkan anak kecil di lampu merah itu harus merelakan waktu istirahatnya demi bertahan hidup dengan perut yang lapar. Tidakkah kita merasa malu? Di tengah nikmat dan fasilitas hidup yang lebih baik, mental kita justru jauh lebih lemah dibanding perjuangan seorang anak kecil.
Dari saya, tulisan ini lahir dari rasa malu yang teramat dalam. Niat awal saya untuk segera bergegas tidur seketika runtuh, berganti dengan dorongan untuk berbagi kisah penuh haru ini. Semoga ia menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus merawat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.
Kisah ini bukanlah cerita tunggal tentang satu ibu dan anaknya di lampu merah Ternate. Di seluruh penjuru kota hingga pelosok negeri ini, masih sangat banyak saudara-saudara kita yang harus melintasi malam dengan perut kosong dan ratapan yang tak terdengar. Lantas, masih pantaskah kita yang bergelimang kemudahan terus mengeluh?
Jangan menangis di sepanjang jalan jika peristiwa itu tidak membuatmu berubah. Jangan dulu pulang ke tempat tinggalmu jika peristiwa itu tidak membuatmu mengubah rencana. Doa terbaik untuk para anak yang masih terus berjuang. (*)

Tinggalkan Balasan