PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Oleh: M. Gadri Sanaba

Mahasiswa Doktoral IAIN Ternate

_______________

Dari nilai lokal menuju kesadaran kebangsaan

Ada satu hal yang patut direnungkan dari kekayaan bahasa dan kebudayaan masyarakat Kepulauan Sula: persaudaraan bukan hanya diwariskan melalui hubungan darah, tetapi juga melalui ungkapan yang menyimpan nilai kebersamaan dan kepedulian.

Manatol, yang dimaknai sebagai “saling baku bawa”, mengandung ruang refleksi tentang kesediaan untuk berjalan bersama dan tidak meninggalkan sesama. Menawak, “saling baku sayang”, mengingatkan bahwa hubungan kekeluargaan membutuhkan kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan. Sementara wanayana, “saling baku lihat”, dapat dimaknai sebagai kesadaran untuk saling memperhatikan, mengenali keadaan sesama, dan tidak menutup mata terhadap persoalan di sekitar kita.

Ketiga ungkapan ini dapat menjadi fondasi untuk membicarakan identitas sosial masyarakat Sula. Namun, persaudaraan yang bermakna tidak berhenti pada hubungan antarkeluarga atau antarkelompok. Ia dapat diperluas menjadi rasa memiliki terhadap negeri, kepedulian terhadap lingkungan, dan tanggung jawab bersama atas masa depan daerah.

Di sinilah GI GEGA memperoleh makna yang lebih luas. Seruan “Kalian Bangun” dapat dibaca sebagai ajakan agar masyarakat tidak hanya bangun dari keterlenaan individual, tetapi juga membangunkan rasa persaudaraan, kesadaran budaya, dan tanggung jawab terhadap tanah kelahiran.

Hubbul wathan: cinta negeri sebagai tanggung jawab moral

Ungkapan hubbul wathan minal iman sering digunakan untuk mengingatkan bahwa kecintaan terhadap tanah air seharusnya sejalan dengan nilai-nilai keimanan. Meskipun ungkapan tersebut bukan hadis sahih yang dapat dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw., makna moralnya dapat didialogkan dengan ajaran Islam mengenai tanggung jawab, kemaslahatan, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Mencintai negeri bukan sekadar merasa bangga ketika menyebut nama daerah atau menggunakan simbol kebudayaan. Cinta negeri juga berarti memiliki keberanian untuk menjaga kebaikan, memperbaiki kekurangan, dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Bagi masyarakat Kepulauan Sula, cinta negeri dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap pendidikan generasi muda, pemeliharaan lingkungan, pelestarian bahasa dan kebudayaan, penguatan kehidupan beragama, serta pembangunan yang memperhatikan kepentingan masyarakat.

Cinta negeri juga berarti tidak membiarkan persaudaraan dirusak oleh kepentingan sempit, persaingan kelompok, atau perbedaan pandangan. Rasa memiliki terhadap tanah kelahiran seharusnya memperluas kepedulian, bukan membangun tembok yang memisahkan satu kelompok dari kelompok lainnya.

Dengan demikian, hubbul wathan tidak cukup dipahami sebagai perasaan emosional terhadap tempat seseorang dilahirkan. Ia perlu diterjemahkan menjadi etika pengabdian: bagaimana seseorang menggunakan ilmu, jabatan, kekuatan sosial, dan kesempatan yang dimilikinya untuk membawa manfaat bagi negeri.

GI GEGA dan panggilan membangunkan rasa negeri

Jika manatol mengingatkan kita untuk berjalan bersama, menawak mengajarkan kasih sayang, dan wanayana mengajak kita untuk saling memperhatikan, maka cinta negeri menjadi ruang yang menyatukan nilai-nilai tersebut dalam tanggung jawab yang lebih luas.

Kita tidak mungkin mengaku mencintai Kepulauan Sula apabila kita tidak peduli terhadap keadaan masyarakatnya. Kita tidak mungkin membanggakan budaya Sula apabila kita membiarkan nilai luhur di dalamnya kehilangan tempat dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga tidak dapat memisahkan kesadaran spiritual dari tanggung jawab sosial, sebab nilai keagamaan semestinya mendorong manusia untuk berbuat baik dan menjaga kemaslahatan bersama.

Dalam perspektif komunikasi agama dan budaya, pementasan GI GEGA pada momentum pelantikan Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tersebut. Teater menghadirkan bahasa lokal sebagai simbol kedekatan budaya, sementara tema kebangkitan membuka ruang refleksi mengenai keadaan sosial dan masa depan daerah.

Namun, kebangkitan rasa negeri tidak boleh berhenti sebagai tepuk tangan setelah pertunjukan selesai. Ia perlu dilanjutkan melalui gerakan pendidikan, dialog lintas kelompok, pelestarian budaya, penguatan moral, dan keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan masyarakat.

Bagi mahasiswa Sula, pertanyaan terpenting bukan hanya apakah mereka mengenal sejarah dan bahasa daerahnya, melainkan apakah pengetahuan itu melahirkan tanggung jawab untuk membangun daerahnya. Gelar akademik dan jabatan organisasi memperoleh makna sosial ketika digunakan untuk memperjuangkan kebaikan bersama.

GI GEGA dapat menjadi seruan yang mempertemukan bahasa, budaya, agama, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran. Ia mengajak masyarakat untuk melihat kembali bahwa persaudaraan merupakan kekuatan sosial, spiritualitas merupakan sumber orientasi moral, dan cinta negeri merupakan tanggung jawab yang perlu diwujudkan melalui tindakan.

Manatol, menawak, wanayana bukan sekadar ungkapan yang indah apabila nilai-nilainya benar-benar hidup dalam perilaku masyarakat. Begitu pula hubbul wathan tidak cukup menjadi semboyan apabila tidak melahirkan kepedulian terhadap masa depan negeri.

Maka, GI GEGA: bangunlah kesadaran persaudaraan kita, bangunlah kepedulian kita terhadap sesama, bangunlah spiritualitas yang melahirkan tindakan nyata, dan bangunlah rasa memiliki terhadap Kepulauan Sula.

Sebab, mencintai negeri bukan hanya tentang bangga menjadi orang Sula. Lebih dari itu, cinta negeri adalah kesediaan untuk ikut menjaga, memperbaiki, dan membangun Kepulauan Sula agar menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang. (*)