Tivanusantara – Dana Indonesiana adalah dana abadi kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan (bekerja sama dengan LPDP Kemenkeu) yang didirikan untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya nasional. Pada 2026, anggaran sebesar Rp500 miliar disiapkan untuk memfasilitasi individu, komunitas, dan lembaga budaya.

Program ini mencakup berbagai kegiatan kreatif, pendokumentasian, hingga pendayagunaan ruang publik. Melalui Dana Indonesia Kementerian Kebudayaan, memberikan dukungan pendanaan bagi pelaku budaya, meningkatkan keterlibatan publik, dan memperkuat ekosistem budaya yang berkelanjutan.

Salah satu yang mendapatkan dukungan tersebut adalah M Sadli Umasangaji untuk Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro Tahun 2025 melalui novel “Orang-Orang Sederhana”.

Sadli menjelaskan, novel ini bercerita tentang kehidupan Gifar dan kawan-kawannya dalam perjuangan dan kehidupan mereka masing-masing.

Gifar, Ismu, Arkan dan Bang Sira adalah pemuda-pemuda desa sederhana yang memilih melanjutkan studi di Kota T. Menjalani diskusi-diskusi gerakan mereka, keterlibatan mereka dalam Gerakan Muda Langit Senja serta dilema terhadap tanah coklat merah.

“Orang-Orang Sederhana juga bercerita tentang polemik daerah tambang yakni pada kabupaten HT tempat tinggal Gifar dan Ismu. Kemudian cerita berjalan mundur kembali ke Desa W, tempat tinggal Gifar dan masa remajanya serta keinginan Gifar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujar Sadli.

Kemudian, novel tersebut bercerita tentang perjalanan Gifar di Kota T, tentang Kota T dan sejarahnya, beberapa desa yang dikunjunginya, desa G, pala serta diskursus mengenai kaum miskin, kelas yang sadar, gerakan kelas menengah dengan berbagai teman sesama aktivis pergerakan, keterlibatan dalam Gerakan Muda Langit Senja.

Terakhir, bercerita tentang perjalanan kembali ke desa dan kehidupan absurd paska kampus, jalan sunyi, manusia politik dan keinginan jalan melenting.

“Saya berharap banyak pelaku budaya, literasi hingga berbagai kalangan muda yang meminati budaya dapat mencoba mengikuti Dukungan Dana Indonesia Kementerian Kebudayaan ini sebagai sarana dalam memperkenalkan budaya, sejarah hingga berbagai fenomena kultural di Maluku Utara,” harap Sadli yang juga Ketua Forum Lingkar Pena Maluku Utara.

“Beberapa kegiatan yang direncanakan untuk memperkenalkan karya novel ini. Kami rencanakan akan melakukan desiminasi karya melalui diskusi karya dan sastra, serta sosialisasi ke berbagai tokoh literasi,” tandas Sadli. (tan)