Rencana penertiban pedagang di area Pasar Higienis, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, adalah topik pengalihan isu yang tepat bagi Pemkot Ternate. Tentu untuk mengalihkan perhatian publik pada dugaan pelanggaran atas pembangunan Villa Lago Montana di area Danau Laguna.
Tak seperti biasanya, rencana penertiban pedagang kali ini bahkan dirapatkan begitu serius dan dipimpin Wali Kota M. Tauhid Soleman. Selain Sekretaris Daerah Rizal Marsaoly, unsur forkopimda juga dihadirkan pada pertemuan di kantor Wali Kota beberapa hari lalu tersebut. Rencana penertiban pedagang kecil di area Pasar Higienis itu bahkan melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, seperti Dinas Perhubungan, Disperindagkop dan Satpol PP.
Masih tak seperti biasanya. Usai rapat, Pemkot kemudian menyampaikan terbuka melalui media massa soal rencana penertiban pedagang. Ada yang aneh. Hanya untuk menertibkan pedagang kecil, Pemkot turun dengan kekuatan penuh. Padahal, pedagang barito di Ternate tidak bandel-bandel amat. Mereka selalu taat kalau Pemkot buat sosialisasi dengan cara yang elegan. Selanjutnya, kalau ada lokasi lain untuk dijadikan tempat jualan yang layak, maka pedagang barito dengan senang hati menerimanya.
Sekira dua pekan sebelum Pemkot membuat rencana penertiban pedagang, publik Kota Ternate dihebohkan dengan sebuah Villa megah yang dibangun di titik terlarang. Villa itu dinamai Lago Montana, di bangun di bibir Danau Laguna. Sejak awal, Pemkot Ternate begitu ngotot bahwa lokasi itu dilarang untuk membangun, termasuk Villa. Saling balas pantun di media massa antara Pemkot dengan pemilik Villa, terbilang berlangsung sengit.
Pemilik Villa klaim sudah punya izin untuk membangun. Pemkot juga tegas dengan aturan, bahkan kawasan itu dilarang membangun. Tak lama kemudian, aksi balas pantun itu berakhir. Villa juga kini sudah beroperasi. Beberapa hari terakhir ini tampak ramai pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang memposting di media sosial. Sekarang, Pemkot sudah diam, tidak lagi buka mulut soal status bangunan itu, apakah sudah memenuhi ketentuan untuk membangun atau titik itu tetap masih dilarang membangun.
Diamnya Pemkot Ternate ini mengundang persepsi beragam dari publik. Banyak pihak menduga kalau Villa itu akhirnya bisa beroperasi karena sudah mendapat persetujuan ‘terselubung’ oleh oknum di Pemkot Ternate. Bahkan ada juga yang menduga kemungkinan sudah terjadi kompromi tak kasat mata. Semoga Pemkot Ternate tetap konsisten dengan aturan. Semoga juga Pemkot tidak hanya bertaji pada pedagang kecil di pasar Higienis, tapi tumpul pada pengusaha berduit. (*)

Tinggalkan Balasan