Oleh: Muhammad Wahyudin

Anggota Jaringan Aktivis Filsafat Islam Ternate (JAKFI TERNATE)

_____________

SYAHADAH, sebagai pernyataan iman dalam Islam, seringkali dipahami secara ritual dan teologis belaka. Padahal, jika ditilik lebih jauh, syahadah juga mengandung dimensi ideologis dan revolusioner yang mendalam, terutama ketika dikaitkan dengan perjuangan Imam Husain as di Karbala. Dalam konteks ini, dua pemikir besar kontemporer Islam, Ali Syariati dan Murtadha Muthahhari, memberikan tafsir yang luar biasa tentang bagaimana syahadah tidak sekadar ucapan dogmatis, tetapi menjadi motor perlawanan terhadap penindasan, serta fondasi dari ideologi kemanusiaan universal.

Dalam Islam, syahadah berarti kesaksian — kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Namun, di balik kalimat yang singkat itu, tersembunyi makna pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan terhadap selain Tuhan: terhadap tirani, penindasan, dan kezaliman.

Syahadah bukan hanya afirmasi teologis, melainkan juga deklarasi politik dan sosial. Mengakui keesaan Tuhan berarti menolak segala bentuk kekuasaan absolut yang tidak berakar pada nilai-nilai keadilan ilahi. Dalam konteks sejarah Islam, pesan ini mencapai klimaksnya dalam tragedi Karbala, ketika Imam Husain as menolak tunduk pada kekuasaan dinasti Umayyah yang telah mengubah khilafah menjadi kerajaan turun-temurun yang korup dan menindas.

Imam Husain as bukanlah pemberontak biasa. Ia adalah pewaris kenabian, cucu Rasulullah, dan simbol keberanian moral tertinggi dalam sejarah Islam. Ketika beliau berkata, Aku bangkit bukan untuk mencari kekuasaan, tapi untuk menegakkan keadilan dan meluruskan umat kakekku, yang ditegaskannya adalah ruh sejati dari syahadah menolak kezaliman, walau harus mengorbankan jiwa.

Tragedi Karbala menjadi saksi paling monumental bahwa syahadah adalah komitmen total terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, Imam Husain bukan hanya milik Syiah atau Sunni, tetapi menjadi milik seluruh umat manusia yang mencintai keadilan.

Ali Syariati, sosiolog revolusioner dari Iran, membaca Karbala dan syahadah sebagai bahasa perlawanan. Dalam berbagai karyanya seperti syahadah bangkit dan bersaksi, ia menekankan bahwa Islam sejati adalah Islam yang melawan. Baginya, Imam Husain bukanlah figur pasif yang tunduk pada takdir, melainkan aktor sadar yang memilih mati demi membebaskan umat dari cengkeraman penindasan.

Syariati mengkritik keras bentuk keberagamaan yang menjadikan Islam sebagai pelarian atau sarana kompromi dengan penguasa zalim. Baginya, syahadah adalah ideologi pembebasan. Islam, katanya, adalah agama yang berpihak kepada yang tertindas (mustadh’afin), bukan alat pembenaran status quo. Dalam pemikirannya, syahadah berarti menolak seluruh berhala modern: kapitalisme, feodalisme, nasionalisme sempit, dan segala bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya.

Hemat saya terkait pemikiran Ali Syariati sangat relevan dan perlu kita informasikan kepada seluruh manusia untuk menjadikan Karbala sebagai paradigma perjuangan sepanjang masa. Dalam narasinya, Yazid dan Husain bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol yang hidup: Yazid sebagai wajah tirani dan Husain sebagai semangat pembebasan. Maka, setiap zaman memiliki “Yazid”-nya masing-masing, dan umat Islam dituntut untuk memilih: berdiri bersama Husain atau membisu bersama Yazid.

Sementara itu, Murtadha Muthahhari, ulama, filsuf, dan murid senior Imam Khomeini memberikan kedalaman filosofis terhadap makna syahadah dan perjuangan Husain. Ia melihat bahwa tragedi Karbala bukan hanya tentang keberanian, tapi juga tentang pendidikan jiwa. Dalam ceramah-ceramahnya, Muthahhari menegaskan bahwa Islam adalah harmoni antara akal, spiritualitas, dan keadilan sosial.

Menurut Muthahhari, umat Islam sering terjebak dalam ritualisme yang kering. Ia mengkritik fenomena “majelis duka” yang hanya menjadi ekspresi kesedihan tanpa pemahaman yang mendalam. Ia menyerukan agar umat mengambil substansi dari Karbala, yakni keberanian untuk berkata “tidak” terhadap kebatilan sebagai pedoman hidup. Dalam pandangannya, syahadah adalah kesiapsiagaan spiritual untuk berkorban demi kebenaran, dan Husain adalah guru abadi dalam pelajaran ini.

Hemat saya Muthahhari menegaskan bahwa tidak ada pemisahkan atau hizab diantara spiritualitas dan aksi. Justru, spiritualitas sejati akan melahirkan keberanian moral untuk melawan ketidakadilan. Ia menghidupkan kembali makna jihad bukan sebagai kekerasan membabi buta, tetapi sebagai perjuangan moral melawan kelemahan, korupsi, dan ketidakadilan sosial.

Kita hidup di zaman ketika nilai-nilai kemanusiaan terancam oleh ideologi materialistik, hedonistik, dan oportunistik. Dalam situasi ini, semangat Karbala menawarkan panduan etis untuk membangun peradaban yang adil. Membumikan syahadah sebagai ideologi kemanusiaan berarti menanamkan semangat keberpihakan kepada kaum tertindas, menolak segala bentuk ketidakadilan, serta memperjuangkan keadilan sosial secara aktif.

Di tengah krisis moral global, Islam membumikan nilai-nilai kemanusiaan melalui semangat Imam Husain dan pemikiran tokoh seperti Syariati dan Muthahhari, menyodorkan model perjuangan yang berbasis pada nilai, bukan ambisi. Bahwa makna hidup bukanlah akumulasi kekuasaan atau harta, tetapi pada keberanian memperjuangkan apa yang benar, walau harus sendirian.

Syahadah, dalam perang Karbala, adalah komitmen aktif terhadap nilai-nilai ilahiah yang berpihak pada manusia. Ini adalah ikrar bahwa tidak ada kekuasaan yang layak ditaati selain kekuasaan yang adil. Dalam tafsir revolusioner Syariati dan tafsir filosofis-spiritual Muthahhari, syahadah menjadi titik tolak pembebasan manusia baik dari tirani luar, maupun dari belenggu dalam diri.

Jika umat Islam hari ini ingin bangkit dari keterpurukan, maka langkah pertama adalah mengembalikan makna syahadah ke ruh aslinya, orang-orang yang di jaga kesaksiannya dalam menjaga nilai-nilai kebenaran dan ajaran yang benar sebagai ikrar untuk hidup bebas, adil, dan bermartabat (Kematian adalah keindahan). Seperti kata Ali Syariati: Setiap zaman punya Karbalanya, dan setiap tempat punya Husain dan Yazid-nya. Pilihan ada di tangan anda. (*)