Oleh: Abbas Hi Hamid
______________
Ada yang bentuknya sesederhana bertahan hari ini, sembari berharap besok bisa hidup sedikit lebih baik, ada proses yang memang tidak bisa dipercepat hanya karena kita ingin segera melihat hasilnya. Kadang, kita sedang bertumbuh justru ketika belum ada yang melihat, belum ada yang mengapresiasi, bahkan ketika kita sendiri belum yakin sejauh apa bisa melangkah, tidak semua usaha langsung menghasilkan sesuatu. Namun, proses itu tetap layak dijalani selama kita tahu apa yang sedang kita upayakan
Kita sering diminta berusaha keras, seolah-olah semua orang memulai hidup dari garis yang sama. Padahal, ada orang yang berjuang dengan banyak pilihan, sementara yang lain harus menghabiskan tenaganya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kemiskinan bukan semata-mata persoalan kurangnya semangat. Ada keterbatasan akses, kesempatan, dan keadaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan bekerja lebih keras. Karena itu, jangan buru-buru menghakimi perjuangan seseorang hanya dari hasil yang berhasil ia capai.
Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Orang tua pun tidak mengetahui sepenuhnya seperti apa kelak anak yang mereka besarkan. Keduanya sama-sama menjalani sesuatu yang tidak selalu mereka pahami sejak awal.
Mungkin, kedewasaan dimulai ketika kita belajar membedakan apa yang berada di luar kendali dan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Kita tidak bisa mengubah seluruh masa lalu: Namun, kita tetap punya kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.
Kita hidup di zaman ketika terpenting mental health, regulasi emosi, dan banyak hal tentang diri mulai lebih mudah dipelajari, Mungkin orang tua kita dulu tidak punya bekal yang sama. Mereka juga sedang belajar menjadi orang tua dengan pengetahuan yang mereka punya. Memahami mereka bukan berarti membenarkan semuanya. Dan memaafkan bukan berarti mewariskan luka yang sama. (*)

Tinggalkan Balasan