Oleh: Syarif Tjan

Direktur TJAN Institute, Pengamat Lingkungan dan Sosial

_________________

PIDATO Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 bertajuk “Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat” ikut memperkuat posisi Rocky Gerung sebagai salah satu tokoh yang paling sering memakai istilah “akal sehat” di ruang publik. Dalam banyak diskusi, Rocky menempatkan akal sehat sebagai alat membaca kenyataan secara jernih, melawan propaganda, sekaligus menjaga publik agar tidak mudah dibodohi oleh pencitraan politik. Gagasan itu tentu penting. Di tengah banjir informasi hari ini, masyarakat memang membutuhkan kemampuan berpikir kritis. Publik tidak boleh sekadar menjadi konsumen narasi.

Tetapi saya melihat ada persoalan ketika akal sehat terlalu dimuliakan seolah-olah selalu identik dengan kebenaran dan kemajuan. Sebab sejarah manusia justru menunjukkan hal yang sering berlawanan: banyak perubahan besar lahir dari orang-orang yang pada zamannya dianggap tidak masuk akal.
Dulu, gagasan bahwa bumi mengelilingi matahari dianggap sesat. Manusia yang bermimpi membuat mesin terbang ditertawakan. Bahkan ide tentang kecerdasan buatan pernah dianggap fantasi ilmiah. Namun semua itu akhirnya menjadi kenyataan. Kadang akal sehat hanyalah nama lain dari kebiasaan yang terlalu lama diterima masyarakat.

Dari Thomas Paine Sampai George Bernard Shaw 

Istilah “common sense” sendiri punya sejarah panjang. Thomas Paine memakai istilah itu lewat pamflet terkenalnya Common Sense untuk mengkritik monarki Inggris dan membangkitkan keberanian rakyat Amerika melawan kekuasaan. Artinya, sejak awal “akal sehat” sebenarnya lahir sebagai alat perlawanan terhadap kemapanan. Namun dalam perkembangannya, akal sehat justru sering berubah menjadi penjaga kemapanan itu sendiri. Thomas Reid percaya bahwa manusia memiliki naluri rasional untuk mengenali kenyataan secara alami. Cara berpikir ini dekat dengan gagasan Rocky Gerung. Tetapi tidak semua pemikir setuju bahwa akal sehat harus menjadi dasar utama kemajuan.

George Bernard Shaw pernah mengatakan bahwa orang yang masuk akal hanyalah orang yang menyesuaikan diri dengan dunia, sedangkan orang yang tidak masuk akal terus berusaha menyesuaikan dunia dengan dirinya. Karena itu, menurut Shaw, seluruh kemajuan bergantung pada orang-orang yang tidak sepenuhnya tunduk pada akal sehat umum.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sejarah membuktikan kebenarannya.
Galileo Galilei, Nikola Tesla, hingga Albert Einstein pernah dianggap terlalu aneh untuk dipercaya. Tetapi justru orang-orang seperti itulah yang mengubah arah peradaban.

Kampus dan Ketakutan Terhadap Gagasan Baru

Ironisnya, cara berpikir yang terlalu mapan hari ini justru banyak tumbuh di kampus dan dunia akademik. Tempat yang seharusnya menjadi rumah kebebasan berpikir perlahan berubah menjadi ruang yang terlalu administratif.

Banyak akademisi lebih sibuk mengejar jurnal, sertifikasi, dan angka kredit dibanding melahirkan gagasan yang benar-benar baru. Mahasiswa yang terlalu kritis sering dianggap mengganggu. Peneliti yang berpikir terlalu jauh dianggap tidak realistis. Akibatnya, kampus lebih banyak menghasilkan manusia yang pandai menyesuaikan diri daripada manusia yang berani membuka jalan baru.
Ada ketakutan besar terhadap kesalahan. Orang lebih takut salah daripada takut stagnan. Padahal ilmu pengetahuan berkembang justru lewat keberanian bereksperimen.

Friedrich Nietzsche pernah curiga bahwa masyarakat sering menyebut sesuatu sebagai “normal” hanya karena terlalu lama terbiasa dengannya. Dalam situasi seperti itu, akal sehat dapat berubah menjadi alat mempertahankan kenyamanan, bukan mencari kebenaran.

Masa Depan Tidak Selalu Masuk Akal

Hari ini dunia berubah sangat cepat. Teknologi berkembang, pekerjaan berubah, bahkan cara manusia berpikir ikut bergeser. Dalam situasi seperti ini, pola pikir yang terlalu terpaku pada “akal sehat lama” justru bisa menjadi hambatan.

Perttu Pölönen dalam bukunya ‘Future Skills‘ mengatakan bahwa masa depan akan dimenangkan oleh manusia yang kreatif, adaptif, dan berani berpikir berbeda. Ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak pekerjaan teknis, justru imajinasi dan keberanian keluar dari pola umum menjadi semakin penting.

Karena itu, saya tidak sepenuhnya menolak konsep akal sehat yang dibawa Rocky Gerung. Akal sehat tetap penting agar masyarakat tidak mudah ditipu kekuasaan maupun propaganda.
Tetapi manusia juga membutuhkan keberanian untuk melampaui akal sehatnya.

Sebab sejarah menunjukkan, peradaban tidak lahir dari manusia yang terlalu nyaman menerima kenyataan. Peradaban lahir dari mereka yang cukup gelisah untuk mengubah kenyataan itu. (*)