Oleh: Zunajar Sibua
_____________________
AGUS mendaratkan bibirnya di alis Halima. Itu kecupan pertama yang penuh cinta pada wanita yang terbaring di sampingnya. Halima tengah tertidur, namun segaris senyuman di bibirnya menjawab tanya yang tak diutarakan oleh pria yang kini nafasnya mengembus di telinga kanannya.
Agus mendaratkan lagi kecupan termewah yang ia punya. Alis kanan dan kiri, kemudian dahi. Ia menatap rapat-rapat wajah perempuan yang dirasai tengah bertakhta di singgasana hatinya itu tampak lebih cantik dan anggun saat keringat menggumpal di ujung hidungnya. Ia belai beberapa helai rambut yang menjulur di wajahnya, kecantikannya tak redup meski pencahayaan lampu neon kapal terhalangi dan kian remang.
Angin pasifik sesekali menerobos jendela dan membawa amis samudera. Hembusan itu nampak berupaya menyegarkan ruangan kapal yang apek dan sumpek. Namun juga ingin memberi pengertian pada sepasang itu arti sebuah kehangatan.
Meski tak melafazkan, mereka yang sebelumnya tampak malu-malu dan ragu, kini telah mengikrarkan kalimat cinta dalam dada.
Fajar merebak dan kapal mulai melakukan penambatan di pelabuhan. Suara parau di mengeras suara memperingatkan agar penumpang tak meninggalkan barang bawaan masing-masing, terutama orang tua yang menyertakan anak-anak. Agus dan Halima tentu tak lagi sabar menginjakkan kaki di kota yang pernah keduanya menimba ilmu.
Tak banyak percakapan di antara keduanya, tapi sepasang itu tampak bahagia dengan malam indah yang telah lewat dan syuruk yang puitik mengiringi. Semesta mungkin telah merestui cinta keduanya. Kini pagi bukan lagi karena sang surya yang memancarkan sinarannya, tapi wajah sumringah pertama yang ditatap saat terbangun dari lelap. Satu sama lain saling berpelukan, Halima berbantalkan lengan kirinya Agus dan tangan lainnya saling menggenggam.
Kebanyakan penumpang telah turun dari kapal. Keduanya masih menghabiskan sekian detik lebih lama bersama karena yang pasti, sebagaimana mereka ketahui, hal indah yang sama seperti malam di tengah samudera, bersama-sama dalam pelukan yang penuh keguguban, hanya ada satu persen kemungkinannya akan terulang lagi.
Halima sudah siap. Ia turun lebih dulu karena kakaknya telah menunggu. Sementara Agus masih membereskan ranselnya memastikan tak ada yang tertinggal. Hanya sepenggal kenangan ia sisakan di dek II kapal itu. Ia gapai buku catatannya, dituliskannya sepotong hatinya yang menggebu tak keruan.
Telah kulabuhkan cinta di hati seseorang
Di dalam hatinya, ombak begitu menggulung
Aku dihantam dan disapu badai yang ganas
Adakah daratan tuk menepi?
Jiwanya
Cintanya
Agus mengirim pesan ke gadis yang ia cintainya itu bahwa semalam ia telah mengecup dahinya. Halima membalas pesannya dengan respons yang membuat hati keduanya berbunga.
“Iya,” tulis Halima dengan tambahan emoji senyuman, “tidak apa-apa.”
Membaca pesan di hapenya itu, cintanya kian menggunung, meluas melampaui samudera. Syahdan, Agus meminta keduanya beristirahat-merehatkan badan, Halimah di rumah kakaknya dan Agus di kontrakan temannya. Sepasang itu telah melewati malam yang panjang dan itu membuat tubuh mereka cukup penat. Agus tertidur dengan lapang, Halima pula, dan keduanya sama-sama bermimpi dipatok ular.
Malam kian sunyi, angin bersemilir menyebarkan berita pada tiap-tiap hati yang menanti kerinduan, dibalas tanpa alasan. Di kesunyian itu, Agus didatangi seorang pria yang tampak masih muda dan seumuran dengannya. Dia necis dan cukup gagah. Tak tahu dari mana datangnya pemuda yang tiba-tiba saja sudah berada di pojok kamar di dekat jendela.
Agus dikagetkan dengan pemandangan itu, dipikirnya seorang pencuri. Tetapi, pikirannya segera menghapus dugaannya terhadap orang asing di kamarnya, yang penampilannya tak menunjukan seperti seorang pembredel. Lagi pula, tak satu pun barang berharga di kamar yang dapat membuat seseorang menjadi kaya raya. Hanya sejumlah buku fiksi yang pun kalau dijual, pasti tak kan laku lantaran minimnya giat membaca.
Dengan cepat pemuda itu memberi isyarat agar Agus tetap tenang. Seperti tahu isi pikirannya, pemuda yang masih tegak berdiri itu memberitahu bahwa dia bukan orang jahat, apalagi seorang pencuri. Agus mengikuti, tampak lebih tenang namun tetap awas.
“Saya ditugaskan dari langit untuk memberimu kabar,” kata orang asing itu seolah tahu semua yang ada di benak Agus. “Kamu telah jatuh cinta pada salah satu ciptaan Tuhan dan kau sadari itu”. Agus tak menanggapi dan terus mengawasi yang disampaikan oleh si pria misterius.
“Semua anak Adam yang jatuh cinta akan diberitahu, tentu saja saya sendiri yang menyampaikan bahwa, ini perlu kau ingat, hampir tak ada tirai yang membatasi antara cinta dan kebencian,” kata pria itu sambil memalingkan wajahnya dan memunggungi Agus. “Itu pesan dari langit dan mesti kau ingat.”
Agus tak sepenuhnya memahami maksud yang disampaikan oleh pria itu, tapi ia mengakui telah jatuh hati pada seorang perempuan. Agus hendak menanyakan sesuatu ke pria itu, namun dia telah menghilang seiring berakhirnya kata yang dia sampaikan. Di benaknya, ia selalu menerka makna kalimat tersebut, “Tak ada tirai yang membatasi antara cinta dan benci.”
Tiga hari sudah di kota, Agus dan Halima tak saling memberi pesan. Namun, keduanya sama-sama menanti kabar burung yang hinggap di jendela. Agus nampak gelisa mencari-cari kata yang paling hangat tuk disampaikan. Halima berharap-harap cemas menunggu kabar yang datang secepat kilat.
Agus mengumpulkan semua keberaniannya. Dipilihlah kata yang paling pas. Terketiklah sudah kalimat yang paling diharapkan tercapai. Beberapa kali dihapus sejumlah kata, tapi diketik lagi kata dan kalimat yang sama. Dan, Terkirim. Ia telah mengajak Halima tuk bertemu nanti malam. Halima belum membalas dan kecemasan berpihak kepada Agus.
Segaris senyum melengkung di bibir Halima saat ia menerima bunyi pesan di hapenya. Tak ada kata yang paling indah dari kata “iya” untuk Agus. Pertemuan yang dinantikan setelah kecupan membekas, tak hanya di dahi dan alisnya, tapi juga di hati yang terlanjur menanggung rindu itu pun akhirnya bakal terbayarkan. Halima pun mau dijemput oleh Agus nanti malam setelah isya.
Halima merias wajahnya secantik mungkin. Agus sudah siapkan motor yang ia pinjam dari seorang kawan. Semuanya pasti dan agar rindu tak menyakiti hati, semesta pun meridhoi pertemuan mereka.
Kini, mental dan emosi keduanya memuncak saat si pria memboncengi gadisnya yang sedikit malu-malu tapi cinta.
Seorang perempuan di tepi pantai menatap lautan di depannya. Ia sampaikan perihal dirinya kepada samudera yang luas. Dan, samudera itu mendengarkannya penuh hikmat.
Nun di tengah samudera, sebuah kapal terombang-ambing oleh ganas lautan. Kapal kecil itu bertarung dengan gelombang dan badai yang tak akan berdamai dengan apa pun.
Di kapal itu, Agus lah seorang yang bertarung melawan maut. Diusahakannya kapal itu berdamai dengan samudera yang keganasannya tak sulut. Agus sadar, setelah dilabuhkan cintanya di hati Halima, di hati yang begitu luas itu, kegoncangan, keraguan dan ketakutan, menjadi kabut hitam yang menyelimuti semesta-samudera.
Kini Agus mulai menyadari kata-kata dari pria misterius yang tiba-tiba datang di kamarnya membawa pesan dari langit, “hampir tak ada tirai yang membatasi antara cinta dan kebencian.” Ia tahu, dirinya yang kini tengah bertarung di tengah samudera yang tak terjangkau luasnya itu, akan lahir sebagai manusia baru yang penuh cinta atau penuh kebencian yang menipu.
Agus tengah menerka-nerka perasaannya. Bertanya pada dirinya sendiri akan hatinya yang gaduh bergejolak tak keruan. Di benaknya, ia berteriak, bertanya, “bagaimana jika ini bukan cinta?” (*)

Tinggalkan Balasan