Tivanusantara – Membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman membutuhkan keterlibatan semua pihak. Rumah, sekolah atau pesantren, serta masjid harus bersinergi membentuk ekosistem pendidikan yang utuh dengan menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi pembentukan karakter anak. Gagasan tersebut disampaikan Tauhid dalam Seminar Peringatan Hari Santri Kota Ternate, Maluku Utara, yang berlangsung di Aula Kantor Wali Kota Ternate, Sabtu (23/10/2026).
Dalam pemaparannya, Tauhid menegaskan bahwa pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau pesantren. Pembentukan karakter anak membutuhkan keterhubungan yang harmonis antara lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Menurutnya, rumah merupakan tempat pertama anak belajar tentang kasih sayang, keteladanan, adab, kedisiplinan, serta kebiasaan baik. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan kepribadian anak.
Sementara itu, sekolah atau pesantren berperan mengembangkan ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, keterampilan, akhlak mulia, kemandirian, dan tanggung jawab. Adapun masjid dan masyarakat menjadi ruang penguatan spiritualitas, persaudaraan, kepedulian sosial, literasi keagamaan, serta pengabdian kepada umat. “Pendidikan yang kuat tidak lahir dari satu ruang tunggal. Anak membutuhkan lingkungan yang saling terhubung agar nilai-nilai yang dipelajari di rumah, sekolah, dan masjid berjalan searah,” demikian inti pesan yang disampaikan Tauhid.
Empat Prinsip Membangun Ekosistem Pendidikan
Untuk mewujudkan integrasi tersebut, Tauhid menekankan empat prinsip utama. Pertama, menyampaikan satu pesan melalui banyak keteladanan, sehingga anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, mengedepankan kolaborasi daripada saling menyalahkan ketika menghadapi persoalan pendidikan. Ketiga, menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi anak untuk tumbuh, belajar, serta menyampaikan pendapat. Keempat, menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan budaya. Keempat prinsip ini dinilai penting agar pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat nilai moral, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Kearifan Lokal Harus Hidup dalam Perilaku
Tauhid juga menyoroti pentingnya menjadikan kearifan lokal sebagai bagian nyata dari proses pendidikan. Menurutnya, budaya tidak cukup ditampilkan melalui simbol atau pakaian adat, tetapi harus diterjemahkan menjadi perilaku dan kebiasaan sehari-hari. Di Kota Ternate dan Maluku Utara, nilai-nilai luhur seperti adat se atorang, penghormatan kepada orang tua dan guru, musyawarah, gotong royong, serta identitas masyarakat maritim memiliki potensi besar untuk memperkuat pendidikan karakter.
Sejarah rempah-rempah yang melekat pada perjalanan Maluku Utara juga dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menumbuhkan wawasan sejarah, kebanggaan terhadap daerah, dan pemahaman tentang hubungan masyarakat lokal dengan dunia. Implementasinya dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pelibatan tokoh adat, ulama, dan sejarawan, serta pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di tengah masyarakat. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya mengenal budaya sebagai pengetahuan, tetapi juga memahami nilai-nilainya dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Santri Harus Cakap Digital, Tetap Kokoh dalam Akhlak
Di tengah perkembangan teknologi digital, Tauhid mengingatkan pentingnya mempersiapkan santri dan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan kedalaman ilmu dan akhlak. Distraksi digital, penyebaran hoaks, perundungan, serta kesenjangan komunikasi antargenerasi menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.
Karena itu, budaya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya perlu diperkuat. Langkah ini harus disertai peningkatan literasi digital dan penyediaan mekanisme perlindungan anak yang aman, sehingga lingkungan pendidikan mampu merespons persoalan secara tepat. Sinergi keluarga, sekolah atau pesantren, dan masjid menjadi semakin penting dalam membimbing anak menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan produktif.
Rencana Aksi 90 Hari agar Tidak Berhenti sebagai Wacana Agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana seremonial, Tauhid mendorong penyusunan Rencana Aksi 90 Hari yang melibatkan pemerintah, orang tua, pendidik, pengurus masjid, dan berbagai pemangku kepentingan. Tahap awal, pada hari ke-1 hingga ke-15, diarahkan pada pemetaan kebutuhan anak dan potensi kearifan lokal di setiap lingkungan. Selanjutnya, program rutin dan proyek berbasis budaya lokal dilaksanakan secara kolaboratif, disertai evaluasi berkala untuk mengukur perkembangan dan memperbaiki pelaksanaan kegiatan.
Keberlanjutan program juga menjadi perhatian utama, sehingga inisiatif ini dapat diterapkan di setiap kelurahan dan lingkungan pendidikan sesuai kebutuhan serta potensi setempat. Melalui langkah konkret tersebut, integrasi rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan, bukan sekadar agenda peringatan Hari Santri. Tauhid menegaskan bahwa masa depan generasi muda membutuhkan fondasi nilai yang kuat sekaligus kemampuan untuk menjawab perubahan zaman. “Rumah menanamkan nilai, sekolah menumbuhkan ilmu, masjid menghidupkan iman dan kepedulian. Ketika ketiganya bersinergi dengan kearifan lokal, kita sedang menyiapkan generasi yang berakar kuat dan mampu melangkah jauh,” pungkas Tauhid. (rii)

Tinggalkan Balasan