Tivanusantara – Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen sungai atau Sabo Dam di Kota Ternate, Maluku Utara, mendapat dukungan dan apresiasi dari warga Kelurahan Jambula. Proyek yang dikerjakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara di Kecamatan Pulau Ternate ini progresnya sudah mencapai lebih dari 90 persen.
Ketua LPM Jambula, Fahri, menjelaskan pembangunan Sabo Dam tersebut mampu menahan sedimen, batu, dan material lainnya yang terbawa aliran air saat hujan deras.
“Pekerjaan Sabo Dam ini tentu dapat meminimalisir dampak yang berpotensi merugikan masyarakat di sekitar kawasan tersebut,” ujar Fahri, Sabtu (24/10).
Menurutnya, keberadaan infrastruktur pengendali sedimen menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung upaya mitigasi bencana, khususnya wilayah yang berpotensi terdampak aliran material dari kawasan perbukitan.
Selain berfungsi sebagai infrastruktur pengendali sedimen, pembangunan ini juga sangat memberikan rasa aman kepada masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan rawan bencana.
“Kami berharap pembangunan Sabo Dam dapat diselesaikan dengan baik dan diikuti dengan pemeliharaan secara berkala agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.
Fahri juga mengimbau masyarakat agar turut menjaga lingkungan di sekitar bangunan tersebut agar fungsi pengendalian aliran material dapat berjalan secara optimal.
Dengan adanya pembangunan Sabo Dam, warga Jambula berharap upaya perlindungan terhadap permukiman dan keselamatan masyarakat semakin baik, sekaligus mendukung penanganan risiko bencana di wilayah Kota Ternate.
Sementara itu, Ketua Pemuda Jambula, Aldrian, mengingatkan pembangunan Sabo Dam jangan lagi dipolemikkan oleh pihak-pihak tertentu. Sebab, proyek ini dibangun demi kepentingan dan keselamatan masyarakat dari ancaman bencana.
“Kami berharap polemik-polemik dari berbagai kelompok maupun individu dihentikan. Apalagi Jambula ini daerah yang rawan. Jadi saya hadir sebagai ketua pemuda dan juga ketua LPM ingin agar proyek ini berjalan dengan lancar,” imbuhnya.
“Jangan hanya karena kepentingan segelintir orang, lalu berdampak buruk dan merugikan masyarakat ke depannya. Jadi untuk kepentingan-kepentingan pribadi itu tolong dihentikan. Sebab ini berdampak buruk bagi kami jika proyek ini tidak berjalan. Karena situasinya Jambula ini kedudukan kampungnya berada pada segitiga. Di darah (proyek) kalau tidak berjalan, hujan besar dan banjir tentu berdampak bagi warga sekitar,” katanya.
Untuk itu, Aldrian mengingatkan kelompok-kelompok yang memanfaatkan kepentingan proyek Sabo Dam segera dihentikan, karena proyek tersebut dibangun untuk upaya mitigasi bencana ke depan. (tan)

Tinggalkan Balasan