PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Tivanusantara – Maraknya kasus dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk di Kota Cirebon yang dilaporkan mencapai 270 orang, menjadi peringatan bagi seluruh pemilik dapur MBG di Maluku Utara agar benar-benar menjaga kualitas makanan, kebersihan, dan standar keamanan pangan. Jangan sampai program yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat justru menimbulkan keracunan dan membahayakan kesehatan penerima manfaat.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengaku prihatin sekaligus geram atas berulangnya kasus dugaan keracunan yang berkaitan dengan program MBG. Ia mempertanyakan sampai kapan kejadian serupa terus berulang tanpa evaluasi menyeluruh dari pemerintah. “Saya sangat prihatin sekaligus marah melihat kasus dugaan keracunan MBG terus berulang. Kali ini di Cirebon, jumlah korban dilaporkan mencapai 270 orang. Sampai kapan anak-anak kita harus menjadi korban sebelum pemerintah benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini?” kata Charles, Kamis (22/10/2026).

Charles mengaku telah berulang kali mengingatkan agar pelaksanaan program MBG mengutamakan keselamatan dan kesehatan penerima manfaat. Menurutnya, pencapaian target penyaluran makanan tidak boleh mengesampingkan standar keamanan pangan. “Jangan sampai ambisi mengejar target penyaluran MBG justru mengabaikan standar keamanan pangan,” ujarnya. Ia juga mendorong pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan massal. Menurut Charles, penutupan permanen perlu diterapkan terhadap dapur yang terbukti melakukan kelalaian serius sehingga membahayakan kesehatan penerima manfaat. “Dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan harus ditutup secara permanen, bukan sekadar dihentikan sementara lalu diizinkan beroperasi kembali. Harus ada konsekuensi nyata ketika kelalaian dalam penyediaan makanan membahayakan kesehatan anak-anak,” tegasnya.

Charles berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dalam memastikan keamanan makanan sejak proses pengolahan hingga didistribusikan kepada penerima manfaat. Ia juga kembali mendorong agar pelaksanaan MBG berbasis sekolah. “Jangan sampai pemerintah hanya sibuk mengejar jumlah penerima manfaat, sementara persoalan mendasar terkait keamanan pangan terus terabaikan. Tujuan MBG adalah memperbaiki gizi anak-anak kita, bukan justru membuat mereka masuk rumah sakit,” katanya.

Sementara itu, kasus dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG di Kota Cirebon dilaporkan berdampak terhadap 270 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 231 orang merupakan anak-anak, sedangkan 39 lainnya adalah orang dewasa. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, mengatakan data tersebut dihimpun hingga Rabu (21/10/2026) siang. Para korban mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit di Kota Cirebon. “Data siang, itu masih di 270. Yang terdampak 270, terdiri dari 231 anak dan ada 39 itu dewasa,” kata Siti Maria di Kota Cirebon.

Ia menjelaskan, penanganan para korban melibatkan delapan rumah sakit di Kota Cirebon, di antaranya RS Siloam Putera Bahagia, RS Ciremai, dan Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG, termasuk pengelola dapur di Maluku Utara, agar memastikan bahan pangan layak konsumsi, proses pengolahan higienis, serta makanan memenuhi standar gizi dan keamanan sebelum dibagikan kepada penerima manfaat. (rii)