Oleh: Arafiq A Rahman 

Penggiat Literasi Maluku Utara

_________________________

ADA cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah daerah benar-benar siap menjadi destinasi wisata dunia: lihatlah bagaimana ia memperlakukan tamunya. Bukan hanya ketika tamu itu datang membawa kamera dan memuji keindahan alam kita, tetapi juga ketika ia menghadapi masalah di tengah perjalanan. Di situlah wajah sejati sebuah daerah akan terlihat, apakah ia sekadar indah dipandang, atau juga matang dalam nilai dan tanggung jawab sosial.

Beberapa hari lalu, sebuah kabar yang cukup menyita perhatian publik datang dari Sidangoli. Seorang wisatawan mancanegara yang tengah bersepeda mengelilingi Pulau Halmahera dilaporkan menjadi korban pencurian. Wisatawan itu adalah Dimitri Niemtchinow, seorang pelancong asal Prancis yang memilih menjelajahi pulau-pulau di timur Indonesia dengan cara sederhana: mengayuh sepeda, menyapa masyarakat dan menikmati keindahan alam yang masih alami.

Saat beristirahat di Sidangoli, sebuah tas kecil miliknya dilaporkan hilang. Tas tersebut berisi sejumlah barang penting, di antaranya uang perjalanan, telepon seluler dan paspor yang merupakan dokumen identitas vital bagi seorang warga negara asing. Informasi mengenai kejadian ini ramai diperbincangkan di media sosial, salah satunya melalui akun Facebook Info Sofifi.

Beruntung, aparat kepolisian bergerak cepat melakukan penyelidikan hingga pelaku berhasil diamankan. Respons cepat tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi setiap orang yang berada di wilayahnya, termasuk wisatawan asing. Namun di balik penyelesaian hukum tersebut, peristiwa ini tetap meninggalkan sebuah catatan penting bagi perjalanan pariwisata di Maluku Utara.

Dalam dunia pariwisata global, reputasi sebuah daerah sering kali dibangun bukan hanya oleh keindahan alamnya, tetapi oleh pengalaman yang dirasakan oleh para pengunjung. Alam yang indah dapat ditemukan di banyak tempat di dunia. Namun rasa aman, keramahan masyarakat, dan kepercayaan sosial adalah sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun.

Pulau Halmahera dan Maluku Utara sesungguhnya memiliki semua modal itu. Keindahan lautnya yang memukau, hutannya masih hijau dan masyarakatnya dikenal ramah kepada tamu. Banyak pelancong yang datang ke wilayah ini justru karena mereka ingin merasakan sesuatu yang semakin langka di dunia modern: keaslian dan kehangatan manusia.

Ketika seorang pelancong dari Eropa memilih mengayuh sepeda melintasi desa-desa di Halmahera, sebenarnya ia tidak hanya sedang melakukan perjalanan fisik. Ia sedang membawa cerita tentang kita, tentang bagaimana orang-orang di sebuah pulau tropis di ujung timur Indonesia menyambut seorang tamu yang datang dengan rasa ingin tahu.

Dalam kajian pariwisata modern, pengalaman wisatawan memiliki pengaruh besar terhadap citra suatu destinasi. Erik Cohen, seorang sosiolog pariwisata, dalam bukunya Contemporary Tourism: Diversity and Change menjelaskan bahwa pariwisata bukan sekadar perjalanan melihat tempat yang baru, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk persepsi wisatawan terhadap suatu masyarakat. Pengalaman itu, baik atau buruk, akan dibawa pulang dan diceritakan kembali kepada dunia.

Itulah sebabnya, satu pengalaman kecil dapat memiliki dampak yang besar. Sebuah keramahan sederhana bisa membuat seseorang jatuh cinta pada sebuah tempat. Sebaliknya, sebuah pengalaman buruk juga dapat meninggalkan bayangan panjang terhadap citra sebuah daerah. Karena itu, menjaga keamanan wisatawan bukan hanya urusan aparat keamanan. Ia adalah tanggung jawab moral seluruh masyarakat.

Pariwisata yang kuat tidak hanya dibangun oleh kebijakan pemerintah atau promosi destinasi. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan sosial yang aman, tertib, dan ramah bagi siapa pun yang datang. Dalam konteks inilah nilai-nilai Sapta Pesona: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan memberikan kenangan menjadi sangat prioritas untuk terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah wisata.

Seorang wisatawan mungkin datang untuk melihat laut yang biru atau gunung yang hijau. Tetapi yang membuatnya ingin kembali adalah bagaimana ia diperlakukan oleh orang-orang yang ia temui selama perjalanan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Maya Angelou: “People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.” Orang mungkin akan melupakan apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan, tetapi mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana kita membuat mereka merasa.

Karena itu, peristiwa yang terjadi di Sidangoli seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sebuah kasus kriminal yang telah selesai secara hukum. Ia juga dapat menjadi momentum refleksi bersama bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Ke depan, ada beberapa ikhtiar yang dapat diperkuat untuk menjaga masa depan pariwisata di Maluku Utara.

Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga wisatawan perlu terus dilakukan, terutama di wilayah yang sering dilalui pelancong. Anak-anak muda dapat dilibatkan sebagai relawan atau duta wisata desa yang membantu memberikan informasi dan menjaga kenyamanan pengunjung. Pemerintah daerah juga dapat memperkuat koordinasi keamanan di jalur-jalur wisata serta membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai Sapta Pesona.

Jika nilai-nilai itu benar-benar hidup di tengah masyarakat, maka Maluku Utara tidak hanya akan dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kehangatan dan kejujuran orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Dan dari situlah, pariwisata yang berkelanjutan akan tumbuh, bukan hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi juga sebagai wajah peradaban dunia. (*)