Oleh: Fandi Umanahu 

 ___________________

KETEGANGAN geopolitik antara Israel, Amerika versus Iran, menarik perhatian banyak orang. Banyak mata yang tertuju pada fenomena perang modern ini. Alat super canggih dipertontonkan oleh ketiga negara. Atraksi militer dari ketiga negara ini bukan lagi atraksi hanya sekadar main-main atau uji kemampuan sesama militer, tetapi ini memang nyata perang antar negara yang konsekuensinya adalah adanya korban nyawa.

Tentunya dengan adanya situasi perang ini banyak orang yang menaruh perhatian tak sedikit yang turut prihatin atas situasi ini dan berharap agar perang ini cepat selesai.

Tulisan ini bukan mau menganalisis sebab akibat terjadinya perang ataupun mau membahas sejarah dan militer ketiga negara. Tetapi lebih kepada mengingatkan pada semua mata publik bahwa fenomena perang ini harus dilihat dan disikapi secara baik-baik.

Kita tahu sendiri dalam percepatan perkembangan teknologi saat ini, situasi perang antara Israel, Amerika versus Iran menjadi sorotan seluruh pihak terutama yang mempunyai kepentingan langsung entah itu politik, ideologis maupun kapital.

Banyak berita yang bertebaran di berbagai platform media FB, WA, IG, bahkan Televisi ataupun media cetak atas Invasi Israel dan Amerika terhadap Iran. Dengan begitu cepat dunia merespons konflik perang ini.

Hari-hari ketika membuka smartphone (ponsel) atau duduk di depan televisi pasti ada informasi terbaru tentang perang. Foto/video dikirim dengan begitu cepat untuk dilihat oleh mata publik seantero dunia.

Di satu sisi, publik memang sangat membutuhkan informasi atas kondisi ketegangan perang, tetapi pada sisi yang lain publik juga harus berhati-hati dengan informasi yang disajikan apakah informasi yang didapat benar adanya?

Dalam situasi ketegangan/perang ini ada pihak-pihak yang memanfaatkan keadaan entah itu keadaan yang dapat dipertanggungjawabkan atau hanya sekadar melakukan agitasi propaganda (agitprop) melalui media. Yang pada akhirnya konflik tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di ruang informasi.

Era Post-Truth: Ketika Narasi Mengalahkan Fakta

Istilah post-truth menggambarkan kondisi ketika emosi, identitas kelompok, dan keyakinan pribadi lebih mempengaruhi opini publik daripada fakta objektif. Dalam konteks konflik internasional, fenomena ini terlihat jelas melalui perang propaganda, disinformasi, dan manipulasi narasi di media sosial maupun media arus utama.

Setiap pihak dalam konflik berusaha membingkai peristiwa sesuai kepentingannya. Akibatnya, kita sebagai publik tidak lagi menerima satu realitas keadaan yang sama, melainkan berbagai versi kebenaran yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.

Dan bahaya terbesar dari era posttruth adalah hilangnya ruang dialog rasional. Ketika masyarakat lebih percaya pada narasi yang menguatkan identitas politik atau ideologinya, dan fakta hanya menjadi alat propaganda.

Media Sosial dan Perang Informasi

Media sosial pun mempercepat penyebaran informasi sekaligus disinformasi. Video lama, foto yang dimanipulasi, dan klaim yang belum diverifikasi sering kali viral sebelum fakta sebenarnya muncul. Algoritma platform digital cenderung memperkuat konten yang memicu emosi, sehingga narasi yang paling provokatif sering menjadi yang paling banyak dibagikan.

Dalam situasi konflik, kondisi ini berbahaya karena dapat memperkuat kebencian antar kelompok, membenarkan kekerasan dengan narasi moral tertentu.

Perang Israel–Amerika melawan Iran menunjukkan bahwa konflik modern berlangsung dalam dua medan sekaligus: medan militer dan medan informasi. Jika perang militer menghancurkan kota dan infrastruktur, maka perang narasi di era post-truth dapat menghancurkan kepercayaan publik terhadap kebenaran.

Tanpa kemampuan untuk memilah fakta dari propaganda, dunia berisiko terjebak dalam konflik yang tidak hanya panjang, tetapi juga semakin sulit diselesaikan yang akibatnya dapat melahirkan konflik sosial baru. (*)