Oleh: Nasrullah La Madi
Mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret
________________
DI tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pembelajaran sastra di sekolah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Generasi muda hari ini tumbuh dengan lingkungan budaya yang sangat dipengaruhi oleh media sosial, film populer, dan narasi global yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di satu sisi, perkembangan ini membuka akses informasi yang luas. Namun pada sisi lain, perkembangan tersebut membuat generasi muda menjauh dari akar budaya lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam pembelajaran sastra di sekolah. Banyak siswa lebih mengenal tokoh-tokoh fiksi dari budaya populer dibandingkan dengan cerita rakyat atau sastra lisan yang hidup di lingkungan masyarakatnya sendiri. Akibatnya, sastra lokal sering kali terpinggirkan dalam proses pendidikan, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan kurang relevan dengan kehidupan modern. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sastra lokal justru menyimpan kekayaan nilai yang sangat penting bagi pembentukan karakter generasi muda.
Sastra pada dasarnya merupakan ekspresi pengalaman manusia yang diwujudkan melalui bahasa yang indah dan imajinatif. Melalui sastra, manusia menyampaikan pemikiran, perasaan, dan pandangan hidupnya. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi sosial dan budaya. Teeuw menyebutkan bahwa sastra menawarkan pengungkapan pengalaman imajinasi yang tidak terbatas sehingga mampu menampung berbagai gagasan yang lahir dari kehidupan manusia. Bahkan, menurut Segers, karya sastra sering kali menjadi bentuk kritik tidak langsung terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitarnya.
Menghidupkan Sastra Lisan di Ruang Kelas
Dalam konteks pendidikan, sastra memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar bahan bacaan. Sastra dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan empati, memperluas wawasan budaya, serta membentuk kepekaan moral peserta didik. Melalui karya sastra, siswa diajak memahami pengalaman hidup manusia dari berbagai sudut pandang. Karena itulah sastra memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karakter.
Namun dalam praktiknya, pembelajaran sastra di sekolah sering kali kehilangan kedekatannya dengan kehidupan siswa. Banyak materi sastra yang diajarkan berasal dari konteks sosial dan budaya yang jauh dari pengalaman sehari-hari peserta didik. Hal ini menyebabkan pembelajaran sastra terasa abstrak dan kurang membumi. Di sinilah pentingnya menghadirkan sastra lisan lokal sebagai bagian dari pembelajaran sastra di sekolah.
Di wilayah Maluku Utara, masyarakat memiliki tradisi sastra lisan yang sangat kaya. Berbagai cerita rakyat, pantun, syair, legenda, dan ungkapan tradisional telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Tradisi sastra lisan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan nilai bagi masyarakat.
Dalam tradisi budaya Ternate, misalnya, dikenal sejumlah nilai dasar yang sering disampaikan melalui ungkapan adat, cerita lisan, dan praktik budaya masyarakat. Salah satu nilai tersebut adalah Istiadat Se Kabasarang, yaitu pandangan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Nilai ini menekankan pentingnya kebersamaan, solidaritas, dan ketergantungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai lain yang juga penting adalah Duka Se Cinta, yaitu sikap empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Dalam pandangan budaya masyarakat Maluku Utara, penderitaan yang dialami seseorang bukan hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial bersama. Oleh karena itu, ketika terjadi musibah atau kesulitan dalam masyarakat, muncul sikap saling membantu sebagai wujud kepedulian kemanusiaan.
Nilai-nilai seperti inilah yang menjadikan sastra lisan memiliki kekuatan besar sebagai media pendidikan. Melalui cerita rakyat atau ungkapan adat, siswa dapat belajar memahami nilai solidaritas sosial, empati, serta tanggung jawab moral terhadap sesama. Kurniawan menjelaskan bahwa sastra lokal memiliki fungsi pedagogis yang kuat karena mengandung nilai-nilai etis dan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sastra lokal juga memiliki fungsi sosial dalam masyarakat, seperti mengaktifkan komunikasi sosial, menyampaikan pesan budaya, serta menanamkan norma-norma kehidupan kepada generasi muda.
Sayangnya, dalam pembelajaran sastra di sekolah, potensi sastra lisan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak materi pembelajaran sastra yang masih berfokus pada teks-teks tertulis yang jauh dari pengalaman budaya lokal siswa. Akibatnya, pembelajaran sastra sering kehilangan daya hidupnya. Padahal, jika sastra lisan diintegrasikan dalam pembelajaran sastra, siswa tidak hanya belajar memahami karya sastra, tetapi juga belajar mengenal identitas budayanya sendiri. Selain itu, sastra lisan juga dapat menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai moral dan karakter. Selama ini, pendidikan karakter di sekolah sering disampaikan dalam bentuk penjelasan teoritis yang bersifat normatif. Nilai-nilai moral dijelaskan melalui konsep-konsep abstrak yang kurang menyentuh pengalaman nyata peserta didik.
Mukartiasih, menegaskan bahwa pendidikan moral tidak cukup disampaikan melalui teori, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan moral lebih merupakan praktik daripada sekadar pengetahuan. Oleh karena itu, sastra lisan dirasa dapat menjadi jembatan yang efektif antara nilai moral dan pengalaman belajar siswa. Melalui cerita rakyat atau hikayat, siswa dapat memahami konsekuensi dari tindakan tokoh-tokoh dalam cerita. Mereka belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kebijaksanaan melalui alur cerita yang menarik.
Selain itu, pembelajaran sastra berbasis sastra lisan juga dapat mendorong proses belajar yang lebih aktif dan kreatif. Herfanda menyebutkan bahwa pembelajaran sastra mencakup tiga kemampuan utama, yaitu kemampuan mengapresiasi sastra, kemampuan berekspresi sastra, dan kemampuan menelaah karya sastra. Pendekatan pembelajaran juga dapat dikembangkan melalui model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) atau pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Melalui pendekatan ini, siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan dokumentasi sastra lisan di lingkungan masyarakatnya, seperti mewawancarai tokoh masyarakat atau mengumpulkan cerita rakyat yang masih hidup dalam tradisi lokal. Kegiatan seperti ini tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran budaya dan rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya masyarakat.
Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, penguatan budaya lokal menjadi semakin penting. Generasi muda perlu mengenal akar budayanya sendiri agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, sudah saatnya pembelajaran sastra di sekolah memberi ruang yang lebih luas bagi sastra lisan sebagai sumber belajar. Sastra lisan Maluku Utara bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga cerminan kebijaksanaan budaya yang relevan bagi kehidupan masa kini. Jika dimanfaatkan secara tepat dalam pendidikan, sastra lisan tidak hanya memperkaya pembelajaran sastra di sekolah, tetapi juga menjadi sarana penting untuk membangun karakter, memperkuat identitas budaya, dan menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan