Tivanusantara – Komoditas pala di Provinsi Maluku Utara mengalami masalah produksi di tengah tingginya harga jual di pasaran. Ketika terjadi penurunan pasokan biji pala dari petani, justru mendorong kenaikan harga. Sebagaimana diketahui, Maluku Utara dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pala di Indonesia. Berdasarkan data Satu Data Maluku Utara tahun 2025, luas areal perkebunan pala di provinsi ini mencapai sekitar 83.384,67 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Meski begitu, luas areal perkebunan yang besar belum sepenuhnya menjamin ketersediaan produksi. Kondisi tanaman, faktor cuaca, umur pohon, serta pemeliharaan kebun menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi hasil panen petani.
Berkurangnya produksi dan pasokan pala di tingkat petani turut berdampak terhadap pergerakan harga di pasaran. Ketika ketersediaan barang menurun sementara permintaan tetap ada, harga komoditas cenderung mengalami kenaikan. Bahkan, berdasarkan informasi harga yang diberitakan pada Oktober 2026, biji pala premium di Ternate berada pada kisaran Rp95.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara biji pala kualitas B berkisar Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Harga fuli pala bahkan dilaporkan mencapai Rp310.000 per kilogram.
Kenaikan harga pala menjadi peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan lebih besar. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan petani apabila jumlah hasil panen yang diperoleh justru mengalami penurunan. Dengan produksi yang berkurang, keuntungan dari kenaikan harga belum tentu mampu mengimbangi berkurangnya volume penjualan. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan utama perkebunan pala Maluku Utara bukan hanya menyangkut harga jual, tetapi juga bagaimana menjaga produktivitas tanaman agar pasokan tetap tersedia.
Faktor cuaca, terutama kondisi kemarau, perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, pembungaan, dan pembentukan buah. Selain itu, tanaman yang sudah tua, kurangnya pemupukan, serta serangan hama dan penyakit juga perlu mendapatkan penanganan. Di tengah tingginya harga pala, pemerintah daerah perlu memperkuat perhatian terhadap keberlanjutan perkebunan rakyat. Program peremajaan tanaman yang sudah tua, penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis kepada petani, serta pengendalian hama dan penyakit menjadi langkah penting untuk menjaga produksi dalam jangka panjang. Selain itu, peningkatan kualitas pengeringan dan penanganan pascapanen perlu dilakukan agar pala Maluku Utara memiliki daya saing dan nilai jual yang lebih baik.
Tingginya harga pala seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sektor perkebunan, bukan sekadar keuntungan sesaat akibat terbatasnya pasokan. Pemerintah, petani, dan pelaku usaha perlu membangun kerja sama untuk memastikan tanaman pala tetap produktif dan rantai pemasaran berjalan dengan baik. Pasalnya, bagi masyarakat Maluku Utara, pala bukan sekadar komoditas perdagangan. Tanaman rempah ini merupakan sumber penghidupan ribuan keluarga petani sekaligus bagian dari identitas ekonomi dan sejarah daerah. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga agar harga pala tetap memberikan nilai ekonomi yang layak bagi petani, sekaligus meningkatkan produksi sehingga Maluku Utara tetap mampu mempertahankan perannya sebagai salah satu sentra pala nasional. (xel)

Tinggalkan Balasan