Tivanusantara – Pemerintah Kota Ternate mulai menyiapkan pembenahan sistem pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, setelah seluruh titik api di permukaan yang menjadi sasaran penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berhasil dipadamkan. Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan penanganan titik api telah mencapai 100 persen berdasarkan hasil evaluasi hingga Kamis (22/10/2026) pukul 18.00 WIT. “Alhamdulillah, kemarin semua api yang terbakar sudah diselesaikan oleh tim,” kata Rizal setelah memimpin rapat evaluasi penanganan karhutla di TPA Buku Deru-Deru, Jumat (23/10/2026).
Meski seluruh titik api di permukaan telah berhasil dipadamkan, tim gabungan masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali, terutama di area timbunan sampah. Rizal menjelaskan, luas area yang terbakar mencapai sekitar 11,7 hektare dari total luas TPA yang lebih dari 31 hektare. Kondisi ini membutuhkan penanganan ekstra karena timbunan sampah berpotensi menghasilkan gas metana yang dapat memicu kebakaran kembali. “Tim tetap melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada celah atau lubang yang berpotensi mengeluarkan api,” ujarnya.
Rapat evaluasi tersebut melibatkan tim tanggap darurat, Balai Cipta Karya, satuan kerja (Satker), Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Utara, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Ternate, Basarnas, Camat Pulau Ternate, serta lurah Sulamadaha dan Takome.
Rizal, yang juga menjabat Ketua Posko Tanggap Darurat, menjelaskan bahwa masa tanggap darurat yang semula berlangsung selama 14 hari telah diperpanjang tujuh hari, terhitung sejak 17 hingga 23 Oktober 2026. Setelah mengevaluasi perkembangan penanganan di lapangan, Pemkot Ternate menjadwalkan apel gabungan pada Jumat sore untuk mengakhiri masa tanggap darurat.
Namun, berakhirnya masa tanggap darurat tidak berarti seluruh upaya penanganan dampak kebakaran dihentikan. Pemkot Ternate mulai membahas langkah rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembenahan sistem pengelolaan sampah di TPA Buku Deru-Deru. Rizal menegaskan, salah satu langkah penting pascakebakaran adalah mengubah metode pengelolaan sampah yang selama ini menggunakan sistem open dumping, yakni pembuangan sampah secara terbuka. Pemkot Ternate mendorong penerapan sistem controlled landfill atau sanitary landfill melalui sinergi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan instansi teknis terkait.
Menurut Rizal, perubahan sistem pengelolaan sampah tersebut mendesak dilakukan karena lokasi TPA Buku Deru-Deru berdekatan dengan permukiman warga, khususnya masyarakat Kelurahan Sulamadaha, Takome, dan sekitarnya. “Setelah kebakaran ini, harapan masyarakat jangan lagi ada pengelolaan sampah menggunakan metode open dumping. Pemerintah harus mulai memikirkan perubahan sistem pengelolaan sampah di TPA Buku Deru-Deru,” tegasnya.
Ia mengatakan, rencana pembenahan tersebut sejalan dengan harapan masyarakat terdampak serta hasil koordinasi antara pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara saat meninjau lokasi kebakaran. Rizal berharap kolaborasi lintas instansi dapat mendorong perbaikan tata kelola TPA secara berkelanjutan. Dengan demikian, risiko kebakaran serupa dapat diminimalkan dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar bisa dicegah. “Fokus rapat hari ini bukan hanya mengakhiri masa tanggap darurat, tetapi juga memastikan langkah lanjutan setelahnya, terutama terkait pola dan tata kelola pengelolaan sampah di TPA Buku Deru-Deru,”tutupnya. (xel)

Tinggalkan Balasan