PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Oleh: Abbas Hi Hamid 

______________

DI dunia yang serba cepat ini, banyak hal datang dan pergi. Tapi dari semua hal yang sementara, ada satu kata yang terus diucap seperti mantra: ‘selamanya’. Tapi selamanya itu apa? Apakah selamanya benar-benar mungkin, atau hanya harapan kosong dari manusia yang takut kehilangan?

Tulisan ini adalah refleksiku setelah menonton film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’. Mungkin pelajaran yang aku ambil dari film masterpiece itu akan aku bahas di lain waktu. Film ini jauh dari sekadar roman picisan, ia juga memantik pertanyaan eksistensial tentang waktu, keterbatasan, dan takdir. Malam demi malam setelah menonton film Yandy Laurens itu membuatku merenung: apa arti dari ‘selamanya’? Dan dalam konteks ini, kenapa kita begitu terobsesi untuk dicintai selamanya?

Apakah ‘selamanya’ berarti sampai kita meninggal? Jika iya, maka cinta selamanya menjadi konsep yang sangat egosentris. Kita ingin dicintai selamanya, padahal ‘selamanya’ yang dimaksud seringkali hanya berarti ‘selama aku masih hidup.’ Maka muncul pertanyaan: selamanya itu milik siapa?

Apakah cinta harus tetap ada setelah kita tiada? jika iya, kepada siapa cinta itu diarahkan? Bayangan? Kenangan? Barangkali sebenarnya yang kita inginkan hanyalah kepastian bahwa selama kita hidup, kita tidak akan ditinggalkan. Bahwa ada seseorang yang akan tetap ada, meski dunia terus berubah.

Tapi bukankah itu bukan ‘selamanya’? Bukankah itu hanya ekspresi dari rasa takut akan kehilangan, akan ditinggal, dan akan hidup sendirian?

Apakah Perasaan Bisa Selamanya?

Kalau boleh jujur, ‘selamanya’ lebih terdengar seperti fantasi. Dan mungkin yang membuatnya terus menerus diucapkan adalah karena kita tahu bahwa ia tidak pernah benar benar ada. Lagipula, apakah mencintai selamanya itu mungkin? Aku pikir perasaan manusia adalah hal paling fluktuatif di dunia selain cairan dan harga saham. Hari ini cinta, besok benci, minggu depan bosan, lalu cinta lagi. Lantas cinta selamanya seperti apa yang dimaksud? Manusia yang fana ini, mendambakan sesuatu yang abadi?

Bisa jadi ‘selamanya’ adalah bentuk tertinggi dari keegoisan kita yang dibungkus dalam kata paling romantis: cinta.

Kita tidak tahan menghadapi kenyataan bahwa perasaan bisa berubah, dan lebih nyaman hidup dalam ilusi bahwa semuanya bisa bertahan kalau cukup dalam, cukup kuat, cukup tulus. Tapi cukup menurut siapa?

Jika melihat cinta secara biologis, pendekatan termudah adalah menjelaskannya sebagai lonjakan kimia di otak. Bagaimana dopamin dan oksitosin, dua hormon bahagia yang meningkat saat kita jatuh cinta, menciptakan perasaan euforia yang sering disalahartikan sebagai keabadian. Kita merasa dunia menjadi lebih hidup, warna jadi lebih cerah, dan segalanya tampak mungkin. Tapi seperti halnya efek narkotik, tubuh memiliki ambang toleransi. Sensasi itu menurun. Ketika hormon kembali ke level normal, yang tersisa hanyalah dua manusia biasa, dengan luka lama, ekspektasi baru, dan realitas yang tidak bisa ditutup oleh hormon.

Hal ini menekankan mengapa perasaan yang selamanya juga tidak bisa dijelaskan secara biologis. Kita bukan makhluk konstan, begitupun hormon kita. Apa yang membuat kita berbinar hari ini, bisa terasa hambar besok. Maka harapan akan perasaan yang stabil selamanya justru bisa jadi jebakan. Bukannya menyuburkan cinta, tapi malah membunuh ruang tumbuhnya.

Mencari Selamanya

Mencari penjelasan ‘selamanya’ dalam konteks eksistensi manusia rasanya tidak mungkin. Konsep ini terlalu problematik — baik secara filsafat, biologi, psikologi, maupun fisika. Kita hidup dalam tubuh yang fana, di dunia yang terus berubah, dengan pikiran yang goyah dan emosi yang labil. Maka ketika manusia mengucapkan janji ‘selamanya’, rasanya itu bukan pernyataan logis, melainkan seruan bahwa kita ingin menantang kefanaan. Kita ingin menaklukkan waktu dengan perasaan.

Tapi apakah waktu bisa ditaklukkan? Bahkan dalam fisika, waktu bukanlah sesuatu yang mutlak. Dalam teori relativitas, waktu bisa melambat tergantung pada kecepatan dan gravitasi. Dalam kosmologi, waktu tidak selalu linier. Dalam psikoanalisis, waktu batin manusia lebih absurd lagi, trauma masa lalu bisa terasa lebih nyata dari masa kini.

Mungkin karena itulah banyak manusia lebih nyaman mendekati konsep selamanya lewat spiritual: surga, karma, atau reinkarnasi. Pendekatan ini rasanya memberi ketenangan, merangkul absurditas dengan narasi yang bisa diterima akal dan hati.

Semakin Dalam, Semakin Takut Hilang

Ada satu paradoks menarik dalam cinta: semakin dalam kita mencintai, semakin besar pula ketakutan kita akan kehilangannya. Dan untuk melindungi cinta dari kehancuran, kita ingin membekukannya. Seperti bunga yang ingin diawetkan agar tetap cantik, meski tak lagi hidup. Tapi cinta bukan bunga kering dalam pigura. Ia hidup, tumbuh, berubah, dan mau tak mau, menua.

Dari sini muncul satu ironi yang menyakitkan: mungkin justru keinginan untuk membuat cinta bertahan selamanya adalah awal dari kematiannya. Cinta yang dibebani tuntutan untuk tetap sama, untuk tidak berubah, akan tercekik oleh ekspektasi. Maka, apakah yang bertahan itu benar-benar cinta, atau hanya kenangan yang terus kita paksa hidup?

Kematian sebagai Puncak

Kita menyukai akhir. Bahkan ketika kita bilang tidak. Mungkin karena akhir memberi bentuk. Ia membuat sesuatu bisa dipahami.

Anehnya, kita seringkali terbiasa mengatakan sebuah film happy ending jika mereka menikah dan justru melabeli film dengan akhir kematian sebagai sad ending. Tapi benarkah begitu? Bukankah cinta yang berhenti di puncak justru menjadi cinta yang selamanya?

Mungkin karena sebagai manusia, kita ingin percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan. Kita suka film yang memberi harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kita ingin melihat dua orang yang akhirnya bersama, sebab itulah yang kita inginkan di dunia. Tapi kalau dipikirkan ulang, apakah selamanya itu lebih nyata saat mereka bersama, atau justru ketika mereka tak lagi bersama?

Romeo dan Juliet, misalnya, kisah mereka abadi bukan karena panjang umur, tapi karena terhenti saat cinta sedang membara. Sebelum sempat jenuh dan surut. Dalam tragedinya, mereka melampaui waktu. Cinta mereka membeku di puncaknya, tanpa sempat turun. Dan dalam ketidakselesaian itulah, mereka menjadi abadi.

Jadi barangkali satu-satunya cara agar cinta jadi abadi adalah dengan mati di puncak cinta itu sendiri. Seperti daun yang gugur saat paling hijau, ia berhenti tepat sebelum layu.

Kita tidak perlu abadi untuk menjadi berarti. Kita hanya perlu hadir dengan utuh, pada waktu yang tepat, dengan hati yang sadar bahwa segalanya bisa berakhir kapan saja. Dan justru karena bisa berakhir, ia jadi lebih layak dirayakan.

Cinta yang abadi mungkin tidak pernah benar-benar ada dalam waktu. Ia ada dalam intensitas momen. Dalam keberanian untuk berkata, “cukup sampai di sini,” ketika semua terasa paling hidup. Mungkin itulah keabadian versi manusia: bukan soal panjangnya waktu, tapi tentang kedalaman makna yang ditinggalkan. (*)