Oleh: Riyanto Basahona 

________________

DI dalam Islam terdapat tiga pilar utama yang menjadi fondasi kehidupan seorang muslim, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Iman membentuk keyakinan, Islam mengatur praktik ibadah, sedangkan ihsan menyempurnakan keduanya dengan menghadirkan kesadaran batin bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap amal manusia.

Sayangnya, dalam kehidupan umat Islam saat ini, pembahasan tentang iman dan Islam jauh lebih sering mendapat perhatian dibandingkan ihsan. Kita diajarkan enam rukun iman dan lima rukun Islam sejak usia dini, tetapi nilai ihsan sering kali berhenti sebagai teori, bukan sebagai karakter yang hidup dalam keseharian. Padahal Rasulullah Sallaulahu Alaihi Wasalam menjelaskan bahwa ihsan adalah “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” Inilah puncak kualitas keimanan seorang muslim.

Akibat mengabaikan ihsan, lahirlah fenomena yang sangat memprihatinkan. Tidak sedikit orang yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi masih melakukan kebohongan, penipuan, kezaliman, bahkan korupsi. Tidak sedikit pula orang yang rajin melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, menunaikan zakat, bahkan berkali-kali berhaji dan berumrah, tetapi perilakunya belum mencerminkan akhlak seorang muslim yang sejati.

Kita sering menyaksikan pemberitaan mengenai pejabat yang tersandung kasus korupsi, sementara di sisi lain mereka dikenal sebagai orang yang rajin beribadah. Fenomena ini bukan untuk menghakimi agama atau ibadahnya, melainkan menjadi bahan introspeksi bahwa ibadah ritual saja belum tentu melahirkan perubahan akhlak apabila tidak dibangun di atas fondasi ihsan. Ketika salat hanya menjadi rutinitas, haji hanya menjadi simbol status, dan zikir hanya menjadi bacaan di lisan tanpa menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, maka ibadah kehilangan ruhnya.

Korupsi, penyalahgunaan jabatan, manipulasi, dan berbagai bentuk kejahatan pada hakikatnya dilakukan ketika seseorang merasa tidak ada yang melihat. Padahal seorang yang memiliki ihsan akan berpikir seribu kali sebelum berbuat dosa, karena ia yakin bahwa tidak ada satu pun amal yang tersembunyi dari pengawasan Allah. Kesadaran inilah yang menjadi benteng moral paling kuat, bahkan ketika hukum tidak mampu menjangkaunya.

Oleh karena itu, solusi atas krisis akhlak bangsa ini tidak cukup hanya dengan memperbanyak ceramah tentang hukum halal dan haram atau memperbanyak ritual keagamaan semata. Yang lebih mendasar adalah menanamkan nilai ihsan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan Islam harus diarahkan bukan hanya menghasilkan orang yang pandai beribadah, tetapi juga pribadi yang jujur, amanah, adil, dan bertanggung jawab.

Sesungguhnya, keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang mampu menghafal dalil atau rajin menjalankan ibadah ritual, tetapi dari sejauh mana ibadah tersebut mampu membentuk akhlak mulia. Sebab, hakikat ibadah adalah melahirkan perubahan perilaku. Salat seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar, puasa melatih kejujuran dan pengendalian diri, zakat menumbuhkan kepedulian sosial, sedangkan haji membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

Sudah saatnya umat Islam memberikan perhatian yang lebih besar terhadap ihsan. Sebab, ketika ihsan hadir dalam hati, iman akan semakin kokoh, ibadah akan semakin berkualitas, dan akhlak akan semakin mulia. Sebaliknya, tanpa ihsan, agama berisiko hanya menjadi identitas dan rutinitas, bukan kekuatan yang mampu membentuk karakter.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang beragama, tetapi lebih banyak orang yang berihsan. Sebab orang yang berihsan akan merasa diawasi Allah di mana pun ia berada. Dari kesadaran itulah lahir kejujuran, integritas, amanah, dan akhlak mulia. Dan jika nilai ihsan benar-benar hidup dalam diri setiap muslim, maka korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk kemungkaran akan semakin sulit menemukan tempat di negeri ini. (*)