(Kritik atas Zoon Politicon)
Oleh: Yusril Buang (Ketua Umum HMI Cabang Ternate)
______________
MENGAPA kita begitu marah dengan kematian seorang buruh tambang yang mengalami kecelakaan kerja tetapi biasa-biasa saja ketika ribuan pohon tumbang dan hewan kehilangan ruang hidupnya karena aktivitas tambang? Pertanyaan retoris ini akan mengungkapkan betapa indoktrinasi antroposentris bekerja mengintervensi elan berfikir manusia modern saat ini.
Pembuktian eksistensi manusia terus menjadi bab yang tidak pernah selesai, ratusan juta tahun yang silam, manusia sudah berupaya menegaskan posisinya di atas tanah air yang ia tempati melalui interaksi, kesalinghubungan dan dominasi. Perang, perempuan, kekuasaan dan kepercayaan menjadi tema besar yang terus berkelindan mewarnai lalulintas peradaban manusia. Manusia membangun interaksi terhadap sesama, menumbuhkan peradaban-peradabannya sendiri termasuk mengantisipasi hari esok yang belum ia ketahui dengan pasti.
Akumulasi dari peradaban manusia yang terus tumbuh itu kemudian menyasar secara spesifik menjadi realitas modern yang kita jalani saat ini. Upaya untuk tetap survive di tengah gelombang zaman yang terus berganti menjadi sarapan pagi di setiap harinya. Seperti bertahan hidup di tengah ancaman perang, kerusakan ekologi, ketidakpastian ekonomi dan invasi pembangunan yang terus berlanjut. Ini menjadi tema kontemporer walaupun pada dasarnya semua itu adalah lanjutan dari sejarah masa lalu.
Di antara tema di atas, kerusakan ekologi adalah bahasan yang paling menyentuh titik vital kehidupan manusia, di mana hubungan manusia dan alam semesta dipertanyakan sekaligus dipersoalkan karena adanya ketimpangan antara keduanya. Manusia mulai menyadari ada ancaman serius yang terus mengintai ruang hidupnya, ancaman tersebut datang dari tempat di mana ia hidup, seperti hilangnya hutan, pencemaran udara/air/tanah, kerusakan terumbu karang dan penurunan keanekaragaman hayati. Tetapi anehnya di waktu yang bersamaan, di tengah kesadaran tentang kerusakan itu, jarang sekali ada upaya perbaikan terhadap pola pikir, pola laku dan kebiasaan dari yang timpang ke yang utuh secara ekologis.
Sebagian besar baru mulai menyadari ada kegentingan ekologi ketika alam semesta menampakkan bahasa kerusakannya. Sebagai buktinya, simpul perlawanan terhadap kejahatan lingkungan selalu lahir dari mereka yang merasakan dampak langsung dari rusaknya lingkungan, seperti di pulau Obi, warga Lelilef-Sagea dan Maba, Halmahera Timur. Amarah yang secara spontan lahir karena sumber kehidupannya dirusaki oleh mesin penghancur raksasa.
Jika ditelaah lebih jauh, manusia sebenarnya mengalami bias kognitif, selalu menggunakan kacamata dikotomik dalam mengasosiasi dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Lingkungan hanya dipandang sebagai monster machine (mesin raksasa) yang bebas dieksploitasi untuk menjawab dahaga dan kerakusannya. Sementara dirinya menjadi mahkluk buas, merasa paling superior dari yang lain (liyan). Pertanyaannya: mengapa manusia begitu sensitif dengan kerusakan yang menimpa dirinya, tetapi abai dan biasa-biasa saja ketika lingkungan sekitarnya mengalami kerusakan serius?
Kesadaran Sosial
Di tahun sebelum masehi, perbincangan manusia sebagai makhluk sosial jauh-jauh hari telah hangat didiskusikan, “Aristoteles” seorang filsuf Yunani mencetuskan adagium paling terkenal “zoon politicon” yang artinya manusia sebagai makhluk sosial, teori ini berlanjut dan dikembangkan oleh Thomas Hobbes dengan teori kontrak sosialnya, menyusul Karl Marx dengan logika relasi sosial dan experience social being milik John Dewey sebagai penutup. Arus utama dari buah pikir ini adalah adanya penegasan manusia sebagai makhluk yang tidak bisa hidup tanpa interaksi dengan manusia lainya. Warisan pemikiran ini bak tinta emas yang tak lekang oleh waktu, terus berharga di setiap gelombang zaman yang terus berganti. Hasilnya, dunia keilmuan menjadikan kesemuanya itu sebagai rujukan referensi baik dalam mempola asosiasi sosial dan paradigma manusia modern termasuk juga kepentingan ilmu pengetahuan selanjutnya. Lalu, sejauh mana doktrin “Zoon Politicon” ini membentuk pola pikir manusia saat ini?
Mari kita kupas satu persatu, berita kematian warga Rohingya, Irak dan Palestina yang nun jauh di sana, selalu menjadi kabar buruk yang membuat delapan miliar penduduk dunia merasakan duka bahkan ada kecaman serius sebagai langkah pembelaan hak asasi dan martabat manusia. Yang paling terbaru adalah kabar 3 (tiga) Tentara Negara Indonesia (TNI) pasukan perdamaian dunia yang tewas di Lebanon Selatan, serentak membuat satu republik ini murka. Bahkan yang paling dekat, 3 (tiga) orang pekerja tambang nikel yang tertimbun longsor di area pertambangan PT HTE Halmahera Timur, 14 (empat belas) karyawan PT IWIP di Halmahera Tengah yang tewas karena kecelakaan kerja terhitung dari tahun 2020 s.d 2026 pun mendapatkan reaksi amarah yang sama pula. Manusia begitu marah dan sensitif dengan sistem dinamika sosial yang mengorbankan dirinya dan manusia lainya seperti sekarang ini. Bagi penulis, ini adalah pengaruh dari literatur klasik (Aristoteles) hingga modern (John Dewey) yang tanpa sadar telah menjelma menjadi doktrinasi sekaligus indoktrinasi yang merancang dan mengarahkan pola pikir manusia ke arah tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa orientasi berfikir dan perilaku kita saat ini pengaruhnya bersumber dari potongan-potongan definisi yang penulis sebut sebagai doktrin di atas.
Kesadaran Ekologis?
Pada bahasan ini kita perlu berhati-hati dan sedikit berani, berani untuk memulai dengan satu kecurigaan kalau literatur ilmu pengetahuan ini telah dipolitisasi, diorder dan disandera menjadi mega proyek titipan untuk kepentingan tertentu.
Referensi doktrin manusia sebagai makhluk sosial di era sebelum masehi (klasik) telah ditemui sebagai narasi yang mewarnai obrolan filsafat saat itu. Hal itu dikarenakan adanya tradisi berfikir yang tumbuh lewat pertanyaan-pertanyaan dan dialog tentang manusia, dari sinilah lahir teori Antropology sebagai cikal bakal dari teori Antroposentrisme.
Anehnya, ada yang hilang dalam lalulintas ilmu pengetahuan saat itu. Filsafat klasik yang kita klaim begitu kaya referensi, mengalami kekosongan yang disengaja. Karena tidak adanya referensi doktrin tentang manusia sebagai makhluk ekologis. Dari Aristoteles (klasik) hingga Descartes (modern) ilmu pengetahuan seakan diskriminatif karena abai dan tidak membuka tempat untuk kelangsungan dan kepentingan lingkungan hidup (alam).
Padahal ilmu pengetahuan pertama yang lahir adalah ilmu tentang lingkungan hidup (ekologi). Sebagaimana yang diabadikan dalam setiap literatur dunia, ketika Thales membuat terobosan dalam menjawab pertanyaan ontologis tentang asal-usul manusia. Menurutnya, air sebagai sumber/asal manusia, arche (prinsip dasar/asal mula) dari segala sesuatu di alam semesta. Inilah yang mendasari kenapa penulis memulai bahasan ini dengan kecurigaan. Harusnya ada literatur/khasanah yang kaya tentang kerangka manusia sebagai makhluk ekologis yang nantinya menjelma menjadi doktrin pembanding dari paham antroposen yang begitu paka dada.
Akibatnya, manusia kehilangan kesadaran akan pentingnya kelangsungan lingkungan hidup sebagai bagian tidak terpisahkan. Alam dan manusia yang harusnya dipandang dengan kacamata utuh justru terdikotomik, terpecah belah sebagai sesuatu yang terpisah atau Liyan meminjam istilah Simone de Beauvoir.
Berangkat dari studi kasus yang sama, tentang pembantaian warga Rohingya, Irak dan Palestina, kematian tiga pasukan perdamaian dan kecelakaan kerja buruh tambang di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, sebagian besar hanya fokus pada angka kematian manusianya, tetapi lagi dan lagi terus abai dan menganggap biasa-biasa saja terhadap kerusakan lingkungan berupa jutaan pohon yang tumbang (ditebang), hewan yang kehilangan ruang hidupnya, air yang dicemari limbah perusahaan termasuk kualitas udara yang terus memburuk setiap detiknya. Padahal kesemuanya itu terjadi di waktu yang bersamaan dengan berita kematian manusia, sama pentingnya dan memiliki kesalinhubungan yang tak terpisahkan.
Dikotomik paradigma ini dalam pengamatan penulis sangat subur, ini berbahaya dan harus segera diatasi dengan koreksi dan pertanyaan secara terus menerus untuk menambal sulam potongan referensi ilmu pengetahuan yang selama berabad-abad mengalami kekosongan ini. (*)

Tinggalkan Balasan