Tivanusantara – Beredarnya flayer seruan aksi dari Solidaritas Umat Kristen Halmahera Utara (Halut) di media sosial, sempat menghebohkan publik Maluku Utara. Dalam flayer tersebut aksi akan dilakukan pada Kamis (2/4/2026) di perempatan Kampung Baru Aspol, Halmahera Utara. Pada flayer itu, terdapat lima poin tuntutan. Pertama: tegakkan keadilan tanpa tebang polih, kedua: tangkap pelaku ujaran kebencian, penghasutan dan perencanaan pembunuhan terhadap Mantri Soni di media sosial oleh akun facebook “sang fajar daga”, ketiga: tangkap seluruh provokator bentrok Desa Kira-Duma, keempat: usut tuntas pelaku perusakan rumah warga di Kampung Baru, kelima hentikan krminalisasi terhadap umat kristiani.

Beberapa setelah flayer itu tersebar luas, tim Intelkam Polda Maluku Utara yang dipimpin Plt Wadir Intelkam, AKBP Sigit Adhi Prasetyo bertolak dari Ternate ke Tobelo, Halmahera Utara. Tiba di Tobelo bersama beberapa personel Intelkam Polda, AKBP Sigit kemudian menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh di Tobelo. Hadir pada pertemuan itu anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Aksandrui Kitong, mantan anggota DPRD Provinsi Abner Nones, pengurus GAMKI serta sejumlah tokoh lainnya.

Kehadiran tim Intelkam Polda Maluku Utara untuk mengonfirmasi perihal flayer tersebut. Para tokoh yang ditemui mengakui tidak menggerakkan massa untuk melakukan aksi. Mereka juga mengaku tidak tahu soal flayer yang tersebar luas itu. Para tokoh di Tobelo juga berjanji akan mencari siapa pembuat dan penyebar flayer itu.

Flayer sempat diposting di akun grup Facebook kofades. Admin grup kofades dipegang oleh Abner Nones. Pada tim Intelkam Polda, Abner mengaku bahwa flayer tersebut sempat diposting oleh akun anonym. Tapi, tak setelah itu sudah dihapus.

Kapolda Maluku Utara, Irjen (Pol) Waris Agono menegaskan, pihaknya akan mencari pembuat dan penyebar flayer tersebut dan pasti ditindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. “Jangan menyesal bila anda para pelaku akan berurusan dengan hukum. Kami imbau agar tahan jari anda. Sebelum diposting, mohon konfirmasi kebenarnya lebih dulu. Pikir dulu sebelum menyesal kemudian,” ujarnya tegas.

Kapolda menjelaskan, awal mula konfliknya sebelumnya karena para pelaku sudah dipengaruhi minuman keras. Para pelaku, kata Kapolda, adalah remaja yang sudah tentu ingin cari sensasi. Konflik awalnya adalah murni kejahatan dan kenakalan remaja, sehingga tidak boleh digiring ke isu SARA. “Ingat, Maluku Utara punya trauma sosial di masa lalu yang cukup menyakitkan semua pihak. Kita semua tidak ingin hal itu terulang. Oleh sebab itu jangan mudah percaya dengan hoaks, jangan terprovokasi,” tutupnya menegaskan. (xel)