Tivanusantara – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate mulai mengambil langkah antisipasi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat. Mulai Selasa hingga Kamis, 13–15 Oktober 2026, seluruh sekolah di Kota Ternate diliburkan. Keputusan tersebut diambil di tengah upaya pemadaman karhutla yang hingga Senin (12/10/2026) baru berhasil mengendalikan sekitar 70 persen area terbakar. Sementara itu, 30 persen sisanya masih mengeluarkan asap tebal dan diduga menyimpan titik api di bawah timbunan sampah.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menyampaikan hal itu usai rapat evaluasi penanganan karhutla di Posko Tanggap Darurat, Senin (12/10/2026).
Menurut Rizal, rapat tersebut membahas perkembangan penanganan kebakaran sekaligus mengevaluasi langkah-langkah yang telah dilakukan selama masa tanggap darurat. Rapat dihadiri organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, TNI-Polri, Basarnas, serta sejumlah pihak yang turut mendukung penanganan di lapangan. “Dari hasil presentasi tadi, melalui beberapa metode yang dilakukan tim tanggap darurat untuk penanganan TPA Buku Deru-Deru, kurang lebih 70 persen area terbakar sudah bisa dikendalikan,” ujar Rizal.
Meski sebagian besar area telah berhasil dikendalikan, tim gabungan masih harus bekerja ekstra untuk memadamkan titik-titik yang mengeluarkan asap dari dalam timbunan sampah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena sumber api berada pada kedalaman yang sulit dijangkau.
Untuk mempercepat proses pemadaman, Pemkot Ternate akan memperkuat metode penanganan dengan menggunakan busa khusus atau foam dari Dinas Pemadam Kebakaran. Selama ini, petugas mengandalkan alat berat untuk mengurai timbunan sampah dan menguruk titik-titik yang mengeluarkan asap. Setelah itu, air disemprotkan menggunakan armada water cannon milik Brimob dan unsur terkait sebelum titik tersebut kembali ditutup dengan tanah.
Ke depan, metode tersebut akan dikombinasikan dengan penggunaan busa yang dialirkan melalui pipa menuju titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Penyemprotan air kemudian dilakukan untuk membantu proses pemadaman. “Metode ini diharapkan bisa membantu mempercepat pemadaman api pada kedalaman sekitar 5 sampai 10 meter yang sulit dijangkau,” jelas Rizal.
Ia menegaskan, penggunaan metode baru tidak akan menghentikan teknik pemadaman yang telah berjalan. Pengoperasian alat berat, pengurukan tanah, dan penyemprotan air tetap dilanjutkan sesuai kondisi di lapangan. Masa tanggap darurat karhutla di Kota Ternate dijadwalkan berakhir pada Jumat, 16 Oktober 2026. Namun, Pemkot belum memastikan apakah status tersebut akan dihentikan atau diperpanjang.
Pemerintah akan mengevaluasi kondisi lapangan menjelang berakhirnya masa tanggap darurat. Jika pada Kamis (15/10) masih ditemukan potensi kebakaran yang membutuhkan penanganan lanjutan, masa tanggap darurat berpeluang diperpanjang selama tujuh hari. “Kita lihat dulu kondisi di lapangan. Jika masih ada potensi yang membutuhkan penanganan lanjutan, masa tanggap darurat bisa diperpanjang tujuh hari,” kata Rizal.
Di tengah proses pemadaman yang masih berlangsung, Pemkot Ternate juga memprioritaskan perlindungan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang rentan terdampak paparan asap. Atas arahan Wali Kota Ternate, Muhammad Tauhid Soleman, kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah di Kota Ternate diliburkan selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 13–15 Oktober 2026.
Rizal mengatakan, kebijakan tersebut merupakan langkah antisipasi menyusul kondisi udara yang perlu diwaspadai. Asap yang menyelimuti wilayah Ternate juga diduga tidak hanya berasal dari kawasan Takome, tetapi berpotensi dipengaruhi kebakaran hutan di sejumlah wilayah Halmahera. “Kami meminta anak-anak untuk sementara berada di rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar ruangan sampai kondisi kualitas udara membaik,” ujarnya. Orang tua juga diminta mengawasi anak-anak selama masa libur agar tidak bermain di luar rumah dan terpapar asap.
10 Ribu Masker Disiapkan, Warga Diminta Waspada
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, Fathiyah Suma, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak paparan asap, terutama anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan. Berdasarkan penjelasan tim kesehatan dalam rapat evaluasi, hasil pengukuran kualitas udara di sejumlah rumah penduduk masih menunjukkan nilai di atas kondisi normal sehingga diperlukan langkah mitigasi.
Sebagai upaya perlindungan, petugas puskesmas telah dikerahkan ke sejumlah wilayah, termasuk lingkungan sekolah, untuk membagikan masker kepada masyarakat. Dalam rapat tersebut, tim kesehatan juga melaporkan bahwa sekitar 10 ribu masker telah diterima dari pusat krisis kesehatan dan selanjutnya akan didistribusikan melalui jaringan pelayanan kesehatan di Kota Ternate.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami sesak napas atau gejala gangguan pernapasan lainnya. Pemkot Ternate bersama tim tanggap darurat akan terus memantau perkembangan karhutla dan kualitas udara. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan pemadaman berjalan optimal sekaligus meminimalkan risiko kesehatan bagi masyarakat. (udi/xel)

Tinggalkan Balasan