PT. Nuansa Media Grup

Email:
redaksi@mail.com (Redaksi)
marketing@mail.com (Marketing)
kerjasama@mail.com (Kerjasama)
cs@mail.com (Customer Care)

Copyright © 2024 WPTerkini ThemesApp.com. All rights reserved.

Tivanusantara – Ini patut menjadi perhatian pemerintah daerah Maluku Utara, agar bisa melakukan pendampingan serta pemberdayaan terhadap kelompok UMKM, sehingga mampu menghasilkan produk turunan dari hasil tangkapan ikan. Sepertinya halnya yang dilakukan tim Ekspedisi Universitas Hasanuddin (Unhas) terhadap kelompok mama-mama dan nelayan di kawasan transmigrasi Kampung Sahari, Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat. Kini, kelompok mama-mama dan nelayan berhasil mengangkat nilai jual hasil tangkapan laut melalui program pengolahan produk turunan. Lewat pelatihan dan pendampingan kemandirian, warga kini mampu memproduksi bakso, nugget, kerupuk, abon, dan sambal ikan dari bahan baku yang sebelumnya hanya dijual mentah.

Di Maluku Utara, bukan pemerintah atau universitas, justru salah satu perusahaan tambang Harita Nickel yang melakukan pemberdayaan terhadap nelayan dan kelompok UMKM hingga menghasil produk turunan ikan. Program Harita Nickel ini berdampak positif bagi nelayan, sehingga mereka kian bersemangat untuk melaut. Hasil tangkapan nelayan kemudian dikembangkan menjadi produk turunan oleh kelompok UMKM. Salah satu produk turunan yang sementara ini terus dikembangkan adalah abon ikan.

Di Desa Sologi, Halmahera Selatan, Harita Nickel membuat program yang dinamai Sentra Pengolahan Ikan Nelayan (Sutan). Sepanjang 2024, kelompok nelayan SUTAN di Soligi berhasil menyalurkan lebih dari 24 ton ikan ke kantin-kantin karyawan Harita Nickel. Skema kemitraan ini terbukti efektif memperkuat rantai pasok pangan industri sekaligus meningkatkan kepastian pasar bagi nelayan lokal.

Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso, menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan dan memperkuat kapasitas ekonomi kelompok nelayan secara berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang operasional perusahaan, tetapi juga bagaimana masyarakat sekitar merasakan manfaat ekonomi secara nyata. Melalui penguatan sektor perikanan seperti SUTAN, kami ingin pertumbuhan industri berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat,” kata Broto.

Di Fak-fak, salah satu bahan baku utamanya adalah ikan sibula, jenis ikan yang melimpah di perairan setempat namun selama ini kurang diminati dan bernilai jual rendah. Ikan yang semula dianggap kurang bernilai itu kini dapat menjadi tumpuan ekonomi rumah tangga warga transmigrasi.

Salah satu peserta pendampingan, Nayu Ohebor, mengatakan program ini membuka jalan baru bagi kemandirian ekonomi di desanya. “Alhamdulillah, hari ini kami sudah bisa mengelola ikan menjadi abon, bakso, nugget, dan kerupuk. Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga”, katanya, Senin (7/9).

Program pendampingan ini melibatkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) yang mentransfer teknologi tepat guna kepada warga, termasuk teknik sterilisasi pengemasan. Dengan metode tersebut, produk seperti sambal ikan diklaim mampu bertahan hingga empat bulan pada suhu ruang tanpa bahan pengawet. “Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar – benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan ke depan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka”, ungkap Kasmiati selaku Ketua TEP Unhas.

Sebanyak 20 Mama-mama dibagi ke dalam empat kelompok usaha kecil, masing-masing dibekali peralatan produksi yang sama. Selain kelompok perempuan, para nelayan laki-laki juga mendapat pelatihan penanganan pascatangkapan ikan secara higienis. Seluruh peralatan produksi tersebut diserahkan kepada warga agar usaha dapat berlanjut secara mandiri.

Melihat potensi ini, warga berencana membentuk kelompok usaha permanen. “Insyaallah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini. Harapan kami, program seperti ini terus didatangkan ke Kampung Sahari”, ujar Nayu.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai keberhasilan ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembangunan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. “Tidak ada pembangunan di tanah air ini yang one size fits all. Sistemnya harus tailor-made”, ujarnya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. “Indonesia Emas 2045 harus tetap menjadi visi kita bersama. Kuncinya adalah kualitas sumber daya manusia, inovasi, produktivitas, dan kepemimpinan. Perubahan membuka peluang baru bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dan mengambil peran aktif dalam pembangunan menuju negara maju, adil, dan sejahtera,” ungkap Menko AHY

Program pemberdayaan ini disebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi akar rumput melalui hilirisasi skala rumah tangga.

“Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Kita membangun ketahanan pangan nasional. Kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa. Pembangunan harus memastikan rakyat menjadi pelaku utama dan penerima manfaat dari kemajuan ekonomi nasional,” tegas Presiden Prabowo dalam arahannya terkait swasembada dan penguatan ekonomi desa. Ke depan, warga Kampung Sahari diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar produk olahan laut mereka dan menjadikannya sebagai produk unggulan daerah. (xel)