Oleh: Andira Permata Sari

 ____________

Memiliki tas bermerek kerap menjadi kebanggaan tersendiri bagi para penggemarnya. Ada yang berjuang keras membelinya dengan harga fantastis, namun tak sedikit pula yang puas dengan barang sejenis berharga puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Dengan bangga mereka memakainya, sekadar ingin terlihat memiliki logo brand ternama entah itu CC, YSL, LV, GC, dan lainnya tanpa mempedulikan apakah barang itu asli atau tiruan. Bahkan tak jarang ada yang tertipu sudah mengeluarkan uang ratusan juta karena diiming-imingi barang asli, ternyata tetap mendapatkan barang palsu. Hal ini terjadi lantaran kurangnya pengetahuan untuk membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan. Sungguh memilukan belum seminggu dipakai, tas itu sudah mengelupas, jahitannya berantakan, dan kualitasnya buruk rupa.

Hal serupa terjadi dalam kehidupan beragama saat ini. Banyak orang menyatakan diri beragama Islam, mengaku mengikuti ajarannya, namun pada kenyataannya Islam hanya “dipakai” saat melaksanakan ibadah mahdhah saja. Dalam bertindak dan bersikap, mereka tidak berusaha mencari tahu mana yang benar menurut syariat dan mana yang salah. Ada yang sudah berusaha hijrah, namun masih tergelincir dalam perbuatan maksiat; bahkan setelah hijrah justru tumbuh rasa benci terhadap saudara yang berbeda pandangan dengannya. Sebagai contoh: jika seseorang menganggap wajib taat kepada pemimpin sekalipun ia dzalim, ia bisa membenci siapa saja yang tidak sependapat dengannya.

Inilah ciri mereka yang menyatakan beragama Islam, namun tidak memiliki ilmu untuk memahami dan menetapkan hukum dengan benar. Mereka hanya ikut-ikutan hijrah, ikut-ikutan mengambil pendapat, tanpa mendalami landasannya lalu tanpa sadar mendapatkan “Islam tiruan”. Padahal, jalan hijrah bukanlah hal yang mudah, apalagi mempertahankannya; ia membutuhkan usaha, pemikiran, serta ketulusan hati yang sungguh-sungguh.

Lebih miris lagi, ada pula yang Islam hanya sekadar tertulis di KTP saja. Mereka merasa beruntung lahir dari keluarga muslim, namun lupa bahwa status itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Indonesia memang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun sayangnya masih banyak perilaku yang jauh dari ajaran-Nya na’udzubillah min dzalik. Kita melihat para muslimah yang dengan santai berpakaian tidak sesuai syariat di ruang publik, serta tidak sedikit muslim dan muslimah yang berlomba-lomba mengejar ketenaran di media sosial dengan cara yang tidak terpuji.

Jika kita tidak ingin tertipu dan mendapatkan tas tiruan, tentu kita harus memiliki pengetahuan untuk mengenali ciri barang asli. Begitu pula dengan Islam jika kita ingin mengetahui hakikat Islam yang sesungguhnya dan merasakan keindahannya, kita wajib menuntut ilmu untuk mempelajarinya.

Pengakuan beriman saja tidaklah cukup; ia harus dibuktikan dengan memahami dan mengamalkan segala konsekuensinya. Dan untuk melaksanakannya dengan benar, ilmu adalah bekal yang mutlak diperlukan. Rasulullah bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 3913)

Kewajiban menuntut ilmu ini berlaku bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Ketika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu kewajiban, sikap kita sebagai orang beriman hanyalah: “Sami’na wa atha’na”—kami dengar dan kami taat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 51:

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya menetapkan hukum di antara mereka hanyalah mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.”

Berislam sejati berarti juga berilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum, yang menjadi sarana untuk meraih ridha Allah SWT. Manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Agar mampu melaksanakan tugas pengabdian itu dengan baik, Allah tidak membiarkan manusia tanpa bekal: Ia menganugerahkan akal pikiran untuk memahami petunjuk-Nya dan kebesaran ciptaan-Nya. Al-Qur’an pun berulang kali mengajak kita untuk menggunakan akal, menuntut ilmu, berkreasi, dan bekerja keras agar kehidupan menjadi bermakna. Sebaliknya, jika akal dan potensi yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan berjalan tanpa arah dan pegangan yang kokoh.

Maka, janganlah beragama Islam secara asal-asalan. Terlihat sama belum tentu benar. Selalu cari tahu kebenarannya dengan ilmu yang jelas, agar kita tidak tertipu dan akhirnya hanya memiliki “Islam tiruan”. Wallahu a’lam bishawab. (*)