Oleh: Riyanto Basahona
___________
Perayaan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara di Sofifi berlangsung meriah. Pesta rakyat, hiburan, dan gemerlap perayaan menjadi bagian dari sukacita hari jadi provinsi ini. Namun, di sudut lain Maluku Utara, ada masyarakat yang sedang menghadapi kenyataan pahit yang seolah luput dari perhatian.
Di Kabupaten Pulau Taliabu, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui sejumlah desa. Mulai dari Desa Beringin, Salati, Nggele, Tikong, Ufung, hingga beberapa desa lainnya, masyarakat harus berhadapan dengan kebakaran yang mengancam lingkungan dan sumber penghidupan mereka.
Puluhan kebun warga dilaporkan terbakar. Ratusan pohon cengkih, yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat, hangus dilalap si jago merah. Bagi warga, pohon-pohon itu bukan sekadar tanaman. Di sanalah harapan untuk membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menyambung hidup dititipkan.
Sungguh menyedihkan ketika sebagian masyarakat sedang berjuang menghadapi bencana, sementara di tempat lain pesta perayaan berlangsung dengan penuh kegembiraan.
Apakah asap karhutla di Taliabu begitu tebal hingga tak terlihat dari Sofifi? Ataukah jeritan masyarakat di pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan belum cukup terdengar?
Tentu, masyarakat Taliabu tidak sedang meminta agar perayaan HUT dihentikan. Mereka hanya berharap agar penderitaan mereka juga mendapat perhatian. Sebab, Taliabu adalah bagian dari Maluku Utara. Warga Taliabu juga rakyat yang berhak mendapatkan perlindungan, perhatian, dan kehadiran pemerintah ketika bencana mengancam kehidupan mereka.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara perlu menunjukkan bahwa makna hari jadi bukan hanya tentang panggung hiburan, kemeriahan acara, atau mendatangkan artis untuk menghibur masyarakat. Lebih dari itu, hari jadi seharusnya menjadi momentum untuk memastikan bahwa tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan, terutama mereka yang sedang kehilangan kebun, tanaman produktif, dan sumber penghidupan akibat karhutla.
Jangan sampai panggung pesta di Sofifi lebih terdengar daripada tangisan rakyat di Taliabu.
Di saat sebagian orang berjoget menikmati hiburan, ada warga yang mungkin hanya bisa berdiri memandangi kebunnya yang terbakar, menyaksikan pohon cengkih yang bertahun-tahun dirawat kini tinggal arang dan abu.
Kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara, inilah saatnya menoleh ke Taliabu. Pastikan kondisi di lapangan, hadirkan bantuan bagi warga terdampak, koordinasikan penanganan karhutla, dan berikan perhatian nyata kepada masyarakat yang kehilangan sumber penghidupannya.
Selamat HUT ke-27 Maluku Utara. Semoga usia yang bertambah bukan hanya menghadirkan kemeriahan perayaan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan keadilan bagi seluruh rakyat, dari Sofifi hingga pelosok Pulau Taliabu.
Karena Maluku Utara bukan hanya tentang Sofifi. Maluku Utara adalah seluruh rakyatnya, termasuk mereka yang hari ini berjuang di tengah kepulan asap karhutla.
#HUT27MalukuUtara #SaveTaliabu #KarhutlaTaliabu #SuaraRakyatTaliabu #MalukuUtara

Tinggalkan Balasan