Oleh: Abbas Hi Hamid
______________
Sejak tahun lalu, September selalu jadi bulan di mana aku memilih bacaan yang mengingatkanku pada salah satu peristiwa paling berdarah di Indonesia: pembantaian 1965.
Aku selalu ingin melempar pertanyaan ini kepada kalian: Apa yang sebenarnya kita ingat tentang G30S? Lubang Buaya? Aidit? PKI? Tujuh jenderal yang dibunuh?Atau bahkan cerita tentang para perempuan gerwani yang katanya menyiksa dan menari-nari di sekitar jenazah para jenderal?
Kita bisa menyebut banyak hal tentang malam 30 September sampai 1 Oktober 1965. Tapi jika ditanya tentang apa yang terjadi setelahnya, rasanya pengetahuan kita menjadi lebih terbatas. Padahal apa yang terjadi, gila, JAUH JAUH lebih besar.
Studi yang sering dirujuk memperkirakan sekitar 500.000 orang terbunuh dalam pembantaian 1965-1966. Estimasi lain menempatkan angkanya sampai 1 juta orang, karena dokumentasi pada saat itu sangat buruk dan banyak korban tidak pernah tercatat secara resmi.
Di Bali aja, salah satu kajian memperkirakan sekitar 80.000-100.000 orang terbunuh antara akhir 1965 sampai awal 1966. Itu berarti sekitar 5-7% populasi Bali pada saat itu.
Ratusan ribu lainnya ditahan tanpa pengadilan. Ada yang disiksa, dipaksa meninggalkan rumah, diperkosa, kehilangan pekerjaan, dan hidup puluhan tahun dengan stigma sebagai “orang PKI” atau keluarganya.
Tapi anehnya, ketika kita belajar G30S, pembicaraan sering berhenti di Lubang Buaya.
Kita tahu tujuh jenderal dibunuh. Tapi banyak dari kita gak pernah benar-benar belajar tentang ratusan ribu orang yang dibunuh setelahnya.
61 tahun kemudian, nama PKI masih bisa memicu ketakutan, kemarahan, bahkan kebisuan. Dan itu adalah bukti betapa berkuasanya propaganda yang dibuat oleh negara. Negara mampu membentuk cara masyarakat mengingat sebuah peristiwa: apa yang harus diingat, apa yang harus dilupakan, bahkan mungkin, apa yang gak pernah kita tahu dari awal. (*)

Tinggalkan Balasan