Oleh: Riski La Hasan
Presiden BEM Hukum Universitas Nuku
_______________
DI tengah hiruk-pikuk dunia yang begitu terobsesi dengan penampilan luar, di mana etalase toko penuh dengan kosmetik yang menjanjikan kulit bersinar, krim yang menghapus jejak usia, busana yang membentuk siluet sempurna, dan perawatan mahal yang dikejar banyak orang demi tampil menawan—ada satu kebenaran mendasar yang sering kali terkubur di bawah gemerlap itu, Separuh kecantikanmu berasal dari caramu berbicara. Bukan bermaksud meremehkan anugerah rupa yang Tuhan berikan, bukan pula menolak bahwa wajah yang manis, senyum yang menyejukkan, penampilan yang rapi dan bersih adalah hal yang mulia dan pantas disyukuri. Namun kita perlu menyadari batas kemampuan keindahan fisik itu, serta betapa besar kekuatan yang tersimpan dalam ucapan—kekuatan yang mampu melengkapi, mengangkat, bahkan menciptakan keindahan abadi yang tidak bisa diberikan oleh apa pun yang terlihat di cermin.
Kesan pertama memang selalu datang dari apa yang mata dapat menangkap. Ketika kita bertemu seseorang untuk pertama kali, sebelum suara keluar dari bibirnya, mata kita sudah melukis gambaran singkat, raut wajah yang ramah, tatapan yang tulus, penampilan yang sopan dan terjaga, semua itu menarik perhatian, membuat hati ingin mendekat sedikit, menimbulkan rasa ingin mengenal lebih jauh. Seperti bunga yang mekar indah, warna kelopak yang cerah dan bentuk yang sempurna akan memanggil serangga untuk mendekat, memikat pandangan siapa saja yang melintas. Namun semua daya tarik itu hanyalah panggilan sesaat saja. Bunga yang indah namun tidak mengeluarkan aroma yang menyejukkan, atau bahkan mengeluarkan bau yang tidak menyenangkan, lama-kelamaan akan ditinggalkan. Demikian pula halnya dengan penampilan luar. Ia bisa membuat orang melihatmu, tetapi hanya caramu berbicara yang dapat membuat orang tetap bersamamu. Paras dapat membuat orang berhenti sejenak menatap, namun tutur kata yang baiklah yang membuat hati merasa nyaman untuk tinggal, membangun hubungan, saling percaya, dan melangkah bersama dalam waktu yang panjang.
Seringkali kita menyaksikan hal ini dalam kehidupan sehari-hari, hal yang menjadi bukti nyata kebenaran gagasan ini. Ada orang yang dikatakan sangat cantik atau tampan menurut ukuran masyarakat, wajah hampir tanpa cacat, penampilan selalu sempurna, namun ketika ia mulai berbicara—kata-katanya kasar, penuh keangkuhan, suka merendahkan orang lain, menyela tanpa sopan santun, menyampaikan hal baik pun dengan nada yang menyakiti hati, suka menyebarkan pembicaraan buruk tentang sesama—maka perlahan namun pasti, segala keindahan yang dipuja tadi memudar, bahkan terasa menjijikkan. Semua daya tarik wajah hilang tertutup bayangan watak yang terlihat dari ucapannya. Orang yang awalnya tertarik, lama-lama akan menjauh, merasa tertekan, tidak dihargai, tidak tenang saat berada di dekatnya. Sebaliknya, ada orang yang memiliki wajah biasa saja, tidak tercatat sebagai orang yang mempesona menurut pandangan umum, penampilan sederhana tanpa perhiasan mahal atau riasan yang mencolok. Namun begitu ia berbicara, kata-katanya terukur, lembut namun tegas, mendengarkan sebelum menjawab, menghargai pendapat yang berbeda, memberi dorongan saat orang lain lemah, berbicara jujur namun tidak menyakiti, memuji dengan tulus tanpa berlebihan, menegur dengan cara yang memuliakan—maka seketika itu juga ia tampak begitu istimewa, memancarkan keindahan yang membuat orang betah bersamanya, percaya padanya, menghormatinya, bahkan mengaguminya lebih dari mereka mengagumi keindahan fisik yang sempurna. Di sini kita sadar, ucapan adalah hiasan jiwa yang membuat penampilan luar menjadi bermakna, atau justru menghancurkan segala keindahan yang sudah ada.
Setiap kalimat yang kita ucapkan membawa jejak watak kita, menjadi bukti dari apa yang hidup di dalam hati dan pikiran kita. Nada bicara yang rendah dan menenangkan bukanlah tanda kelemahan atau ketidakberdayaan, melainkan cermin dari hati yang luas, jiwa yang tenang, orang yang mampu mengendalikan emosi dan tidak melampiaskannya kepada orang lain yang tidak bersalah. Ketika marah, orang yang indah ucapannya tidak akan melontarkan kata-kata tajam yang akan menjadi penyesalan selamanya, ia akan menahan diri, menyampaikan ketidakpuasan dengan jelas namun tetap menghormati martabat orang lain, karena ia tahu bahwa kata-kata yang terlontar dalam kemarahan sering kali menjadi luka yang sulit sembuh. Kemampuan memilih kata yang bijaksana menunjukkan kedewasaan berpikir, tidak berbicara terburu-buru tanpa mempertimbangkan dampaknya, tidak menebar gosip demi kesenangan sesaat, tidak membesar-besarkan kesalahan orang lain, dan tidak merendahkan orang lain hanya untuk meninggikan diri sendiri. Ia memahami bahwa setiap kata memiliki bobot, dapat menjadi obat yang menyembuhkan hati yang terluka, atau menjadi duri yang melukai mendalam, dapat menjadi jembatan persahabatan dan persatuan, atau menjadi tembok pemisah yang memutus hubungan kekeluargaan, persahabatan, bahkan percintaan.
Cara berbicara juga menjadi cermin yang paling jujur dari dunia batin seseorang, tidak dapat dipalsukan dalam jangka panjang. Kita dapat menutupi kekurangan penampilan dengan busana dan riasan, kita dapat menyembunyikan sifat buruk sesaat dengan sikap yang sopan, namun ucapan yang terus-menerus keluar dari mulut tanpa disadari akan menampakkan apa yang benar-benar tersimpan di dalam hati. Hati yang penuh iri hati akan melahirkan ucapan yang mencela, meremehkan, memotong kebaikan orang lain, hati yang penuh kesombongan akan berbicara menonjolkan diri, menganggap pendapat orang lain rendah, meminta dihormati tanpa mau menghormati, hati yang penuh ketakutan dan kebencian akan melontarkan tuduhan, fitnah, perkataan yang memecah belah. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur, kasih sayang, keikhlasan, dan keinginan berbuat baik akan meluapkannya dalam ucapan yang menguatkan, memuji kebaikan, memberi harapan, mendamaikan perselisihan, menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyenangkan. Inilah sebabnya mengapa memperindah cara berbicara sebenarnya adalah usaha mendalam untuk memperindah jiwa kita sendiri. Kita tidak hanya melatih lidah untuk mengucapkan kata-kata yang baik, melainkan melatih hati untuk memelihara nilai-nilai mulia, membersihkan perasaan dari kebencian dan kesombongan, melatih pikiran untuk berpikir jernih dan bijaksana. Semakin bersih, jernih, dan mulia isi hati seseorang, semakin menyejukkan, menenteramkan, dan memberi manfaat kata-kata yang keluar darinya. Hubungan antara hati dan ucapan tidak dapat dipisahkan, seperti sumber air dan alirannya jika mata airnya bersih dan jernih, maka air yang mengalir ke mana-mana akan membawa kesegaran dan kehidupan, jika sumbernya keruh dan tercemar, maka alirannya pun akan membawa kotoran dan kerusakan ke mana saja ia pergi.
Jika kita melihat kembali perjalanan hidup dan kenangan yang kita miliki, kita akan menemukan kebenaran lain yang menyentuh hati seiring berjalannya waktu, kita perlahan melupakan banyak hal yang berkaitan dengan penampilan luar orang-orang yang pernah kita kenal. Kita mungkin sudah lupa warna baju yang mereka pakai saat pertama kali bertemu, bentuk wajah yang sempat memikat pandangan, jenis riasan yang membuat mereka tampak bersinar, tinggi badan, warna kulit, atau segala ciri fisik yang dulu menjadi perhatian mata. Namun yang tetap tertanam lama dalam ingatan, yang kadang masih terasa manis dan menyejukkan hati meskipun sudah berlalu bertahun-tahun, adalah perasaan yang kita terima dari ucapan mereka saat kita jatuh dan merasa gagal, kata-kata penyemangat yang membuat kita percaya diri kembali, saat kita sedih dan kesepian, perkataan yang penuh perhatian dan mendengarkan dengan tulus sehingga kita merasa tidak sendirian saat kita salah, nasihat yang tulus dan sopan sehingga kita mau memperbaiki diri tanpa merasa dipermalukan saat kita berbagi pendapat, perhatian mendengarkan dan penghargaan sehingga kita merasa bernilai dan didengar. Bahkan ada ucapan yang menjadi pegangan hidup, mengubah arah pikiran yang keliru, memberi harapan saat semuanya tampak gelap, mengajarkan kebaikan yang terus kita amalkan hingga kini. Itulah keindahan yang tidak pudar dimakan waktu, tidak hilang karena usia, tidak rusak oleh perubahan keadaan. Keindahan itu tidak terlihat saat kita bercermin setiap pagi, namun terdengar dan terasa dalam setiap percakapan, setiap sapaan, setiap nasihat, setiap ucapan terima kasih dan permohonan maaf yang tulus.
Banyak orang mengira bahwa kemampuan berbicara yang indah adalah bakat alami yang hanya dimiliki sebagian orang saja, atau kemampuan berbicara lancar, banyak kata, pandai merangkai kalimat yang menawan telinga namun tidak berisi kejujuran dan perasaan tulus. Hal ini perlu kita luruskan keindahan berbicara yang kita bahas bukanlah kepandaian merangkai kata-kata manis untuk menipu, bukan ucapan yang menyenangkan telinga namun berniat buruk di baliknya, bukan pembicaraan yang panjang namun kosong dari makna. Siapa saja dapat melatih dan memilikinya, tanpa memandang usia, pendidikan, kedudukan, atau latar belakang hidup. Hal-hal dasarnya sederhana namun mendalam pertama, belajar mendengarkan dengan sungguh-sungguh, karena orang yang tidak terbiasa mendengarkan sulit berbicara dengan tepat dan menghargai orang lain mendengarkan bukan hanya menunggu giliran berbicara, melainkan memusatkan perhatian, mencoba memahami perasaan dan maksud lawan bicara, tidak menyela dengan kasar, memberi kesempatan hingga selesai. Kedua, memilih kata-kata yang baik dan sopan, menghindari perkataan kasar, mengejek, menjelekkan, menyebarkan rahasia orang lain, perkataan yang meragukan atau menyakiti hati meskipun harus menyampaikan hal yang sulit atau menegur kesalahan, tetap mencari cara yang paling baik agar kebenaran tersampaikan tanpa merusak harga diri sesama. Ketiga, menyesuaikan nada bicara, tidak berteriak-teriak tanpa alasan, tidak bernada meremehkan atau sombong, rendah dan lembut namun tetap tegas dan jelas, sesuai keadaan dan orang yang diajak bicara. Keempat, berbicara dengan jujur dan bertanggung jawab, tidak berbohong demi keuntungan pribadi, tidak menjanjikan hal yang tidak dapat dipenuhi, mempertimbangkan dampak sebelum mengucapkan, siap meminta maaf jika salah dan memperbaikinya. Kelima, menyisipkan kebaikan dan perhatian, mengucapkan terima kasih atas jasa sekecil apa pun, memberi pujian yang tulus atas kebaikan yang dilihat, memberi dorongan kepada yang lemah dan kesepian, mendamaikan jika ada perselisihan. Semua hal ini dapat kita latih setiap hari, mulai dari percakapan kecil dengan keluarga, sesama pekerja, tetangga, orang yang melayani kita, bahkan orang yang berbeda pandangan dan sikap dengan kita. Memang tidak mudah, kadang kita tergelincir karena emosi yang meledak, kelelahan, atau kebiasaan lama yang sulit diubah, namun setiap usaha untuk memperbaiki diri, menahan lisan, dan berusaha mengucapkan hal yang baik adalah langkah menumbuhkan keindahan jiwa yang abadi. (*)

Tinggalkan Balasan