Oleh: Rahmat Abd Fatah

_________________ 

HARI ini, Senin, 6 Juli 2026, di Taman Piala Dunia Kota Ternate, kesunyian tampak menjadi bahasa bersama. Layar memancarkan cahaya, tetapi cahaya itu tak lagi membawa harapan. Brasil telah tumbang oleh Norwegia.

Saya berada di antara hati ribuan orang di taman Piala Dunia itu. Mengenakan warna yang sama, menyimpan harapan yang sama, lalu merasakan luka yang sama.

Di hadapan saya, seorang anak menggenggam kedua tangannya seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu langit. Di sampingnya, seorang ayah menatap kosong, seakan sedang mencari jawaban di tempat yang tidak lagi menyimpan jawaban. Wajah-wajah lain membeku dalam diam. Tidak ada kemarahan. Tidak ada sumpah serapah. Yang terdengar hanyalah suara sunyi.

Sebab ada jenis kesedihan yang tidak membutuhkan kata-kata untuk dimengerti.

Barangkali beginilah cara sepak bola memperlihatkan dirinya. Ia bukan sekadar permainan yang diperebutkan dua puluh dua orang di atas rumput hijau. Namun, ia adalah cermin tempat manusia memantulkan dirinya sendiri.

Ketika tim yang dicintai menang, kita melihat harapan. Ketika ia kalah, kita melihat siapa diri kita sebenarnya.

Menjadi pendukung Brasil sesungguhnya bukan hanya memilih sebuah negara atau warna jersey. Itu adalah memilih sebuah cara memandang kehidupan. Plato, filsuf Yunani kuno dalam karya monumentalnya Symposium, memandang cinta (eros) sebagai kerinduan jiwa kepada keindahan dan kebaikan.

Barangkali itulah sebabnya jutaan orang jatuh setia kepada Brasil. Bukan semata karena deretan gelarnya, melainkan karena Brasil mengajarkan bahwa sepak bola dapat menjadi seni, bahwa bola dapat menari, dan kaki dapat menulis puisi.

Brasil selalu mengajarkan bahwa keindahan lebih penting daripada ketakutan, bahwa kreativitas lebih mulia daripada sekadar kemenangan, dan bahwa sepak bola dapat menjadi puisi yang ditulis dengan kaki. Namun memang setiap puisi, seindah apa pun, tetap mengenal tanda titik.

Pagi itu, tanda titik itu bernama kekalahan.

Di Ternate, ribuan manusia berkumpul tanpa saling mengenal. Ada mungkin nelayan yang semalam baru kembali dari laut. Ada mahasiswa yang esok harus masuk kuliah. Ada pedagang, guru, pengemudi, pegawai, dan anak-anak yang bahkan belum pernah melihat Brasil secara langsung. Anehnya, mereka merasa berasal dari rumah yang sama.

Barangkali memang begitulah hakikat cinta, ia tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal, melainkan kepada siapa hatinya memilih berlabuh. Erich Fromm, filsuf humanis dan psikoanalis Jerman melalui bukunya The Art of Loving, mengatakan bahwa cinta bukanlah sekadar perasaan, melainkan sebuah sikap hidup dan tindakan yang terus dipelajari. Maka menjadi pendukung Brasil bukan hanya soal menikmati kemenangan, tetapi juga memilih untuk tetap mencintai ketika kemenangan itu tidak datang.

Sepak bola telah membangun rumah yang bahkan tidak mampu dibangun oleh politik, ekonomi, atau diplomasi. Rumah itu bernama rasa memiliki.

Namun rumah yang dibangun oleh cinta tidak selalu beratapkan kemenangan.

Di situlah kesetiaan diuji. Kesetiaan bukanlah berdiri paling depan ketika matahari sedang bersinar. Kesetiaan adalah tetap menjaga pelita ketika malam mulai menelan cahaya.

Semua orang mampu mencintai tim yang terus menang. Tetapi hanya sedikit yang mampu memeluk kekalahan tanpa mengubah cintanya menjadi kebencian. Gabriel Marcel, filsuf eksistensialis Prancis dalam Creative Fidelity, menyebut kesetiaan sebagai komitmen yang tetap bertahan sekalipun keadaan berubah. Kesetiaan, baginya, bukanlah menunggu keadaan menjadi baik, melainkan memilih tetap hadir ketika keadaan tidak lagi memihak.

Bukankah pohon tidak pernah membenci musim gugur hanya karena daun-daunnya berguguran? Ia memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan berikutnya. Demikian pula seorang suporter. Kekalahan hanyalah musim, bukan identitas. Yang gugur adalah hasil pertandingan, bukan alasan untuk setia.

Dalam filsafat, manusia sering dikatakan sebagai makhluk yang hidup karena harapan. Tetapi sepak bola mengajarkan sesuatu yang lebih dalam, manusia bertahan bukan hanya karena harapan, melainkan karena kesetiaan terhadap harapan itu sendiri. Ernst Bloch, filsuf Jerman dalam karya besarnya The Principle of Hope, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu hidup menuju masa depan dan bahwa “yang terpenting adalah belajar berharap”.

Harapan boleh kalah oleh hasil pertandingan, tetapi kesetiaan tidak boleh menyerah kepada keadaan.

Brasil mengajarkan dunia cara menari bersama bola. Pagi ini, Norwegia mengajarkan Brasil cara menerima takdir. Dan kami, para pendukungnya di Ternate, sedang diajarkan bahwa mencintai tidak pernah identik dengan memiliki kemenangan.

Barangkali inilah alasan mengapa sepak bola selalu lebih besar daripada trofi. Sebab trofi hanya disimpan di lemari sejarah, sedangkan kesetiaan disimpan di dalam hati manusia.

Suatu hari nanti Brasil mungkin kembali mengangkat Piala Dunia. Atau mungkin tidak. Namun itu bukan lagi pertanyaan yang paling penting. Sebab pagi itu saya memahami satu hal bahwa menjadi suporter sejati bukanlah tentang memilih tim yang tidak pernah kalah, melainkan tentang tetap berjalan bersama tim itu ketika seluruh dunia sedang merayakan kekalahannya.

Dan ketika WhatsApp saya dihujani berbagai tawa, ejekan dan simbol kekalahan lainnya, saya merasa tidak seperti pecundang. Saya justru membawa pelajaran yang paling mahal dari sepak bola.

Plato mengajarkan saya mencintai keindahan, Erich Fromm mengajarkan bahwa cinta adalah sebuah pilihan, Gabriel Marcel mengajarkan bahwa kesetiaan diuji justru ketika keadaan berubah, dan Ernst Bloch mengingatkan bahwa manusia tidak boleh berhenti berharap. Maka saya memahami bahwa cinta yang hanya bertahan saat menang adalah kesenangan, sedangkan cinta yang tetap tinggal saat kalah adalah kesetiaan dan saya memilih setia bersama Brasil. (*)