Tivanusantara – Retribusi yang harusnya menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kota Ternate, malah dari tahun ke tahun hasilnya selalu jongkok. Padahal, sebagai kota yang mengandalkan pendapatan dari sektor jasa, mestinya retribusi dikelola secara benar untuk menyumbang PAD besar. Hingga memasuki tahun 2026 ini, realisasi retribusi baru Rp 6 miliar, dari target Rp 40 miliar.

Meski hasil pungutan dari retribusi tetap rendah dari tahun ke tahun, Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) masih tetap optimis untuk mencapai target. “Memang retribusi daerah masih rendah, tapi kami optimis untuk bisa capai target pada triwulan II ini,” ujar Kepala BP2RD Kota Ternate, Mochtar Hasim pada Nuansa Media Grup (NMG), Rabu (22/4/2026).

Menurut Mochtar, meski realisasi retribusi masih rendah, pendapatan dari sumber lainnya terbilang dinamis. Secara keseluruhan, realisasi pendapatan mendapat 40 persen atau senilai Rp 45 miliar dari target Rp 159 miliar. Yang menyumbang pendapatan signifikan adalah sektor pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, pajak restoran, perhotelan, reklame dan sektor hiburan.

“Kalau untuk retribusi itu kontribusi utamanya adalah layanan kesehatan, persampahan, pelayanan pasar dan tempat wisata. Retribusi atas penggunaan tenaga kerja asing masih rendah. Kami berharap dukungan masyarakat sehingga PAD bisa tercapai. Karena sekarang ini terjadi pemangkasan besar-besaran pada anggaran transfer daerah. Triwulan II tinggal dua bulan lagi, tapi kami optimis untuk capai target,” kata Mochtar meyakinkan. (udi/xel)