TERNATE, TN – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS) Maluku Utara, menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Wali Kota Ternate, Kamis (19/10).

Massa aksi meminta Pemkot dan Perumda Ake Gaale segera menyelesaikan masalah krisis air bersih di sejumlah kelurahan yang belum menikmati air.

Aksi yang dikoordinir Baskara H. Abdullah itu terjadi saling dorong antara massa aksi dengan anggota Satpol PP dan pihak kepolisian.

“Jangan dorong begitu pak. Kami hanya ingin sampaikan aspirasi masyarakat yang mengeluh soal air bersih,” teriak massa aksi.

Tidak sampai di situ, Satpol PP dan kepolisian pun membubarkan paksa hingga terjadi kejar-kejaran. Namun insiden tersebut tak berlangsung lama.

“Kami hanya ingin menemui wali kota (M Tauhid Soleman) dan Direktur Perumda Ake Gaale (Muhammad Syafei) untuk lakukan hearing terbuka di depan kantor ini,” tegas Baskara.

Baskara menegaskan, Kota Ternate mengalami satu masalah serius dalam hal kurangannya penyediaan air bersih. Sebab, krisis air bersih bukan baru terjadi saat ini, namun telah lama tapi belum bisa diselesaikan oleh Perumda Ake Gaale.

Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar. Selain masalah pelayanan air bersih yang kurang memuaskan, adapun penetapan jadwal air yang dianggap tidak sesuai keinginan masyarakat.

“Ada beberapa kelurahan yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih akibat dari pendistribusian yang tidak teratur,” jelasnya.

Ia mengaku, berdasarkan hasil investigasi GAMHAS, terdapat sejumlah kelurahan yakni Foramadiahi (RT O1, 04, 05, 07, 08), Kalumata (RT 19), Tanah Tinggi Barat lingkungan Jerbus (RT 04, 05, 06), Sasa RT 01 dan kelurahan Tubo puncak.

“Kami menilai, distribusi air oleh Perumda Ake Gaale tidak tepat sasaran. Misalnya di Kalumata, warga terpaksa harus menunggu hingga malam untuk menampung air. Kemudian, kelurahan Sasa, RT O1, dan Tubo puncak, sampai sejauh ini belum mendapatkan jalur (pipa) air oleh Perumda Ake Gaale,” tegasnya.

“Sehingga masyarakat harus membeli air profil dengan harga Rp60 ribu-Rp120 ribu per profil. Ini menyebabkan pengeluaran masyarakat makin bertambah, karena satu profil dengan harganya Rp60 ribu dalam pemakaian untuk kebutuhan masyarakat hanya berkisar tiga hari dalam seminggu,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah situasi yang sulit, Pemkot justru mementingkan pendistribusian air ke berbagai hotel-hotel besar. Artinya, Pemkot mengabaikan nasib masyarakat di sejumlah kelurahan belum mendapatkan air bersih.

“Kami dengan tegas meminta agar Pemkot dan Perumda Ake Gaale untuk tuntaskan masalah air di sejumlah kelurahan. Kemudian, Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman, harus mengevaluasi Direktur Perumda Ake Gaale,” pungkasnya. (tr2/tan)