Oleh: Muhammad Wahyudin

Anggota Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI) Ternate

________________

RAMADHAN bukan sekadar penanggalan ritual yang datang dan pergi setiap tahun. Ia merupakan jiwa—energi batin yang menyelinap ke dalam penantian dan harapan manusia. Dalam sunyi lapar dan dahaga, Ramadhan setia menemani manusia menempuh perjalanan paling penting dalam hidupnya, menemukan kembali jati diri yang hilang, fitrah yang tercerabut oleh hasrat, kekuasaan, dan ketamakan.

Fitrah manusia sejatinya bukan sekadar identitas biologis atau status sosial. Ia adalah kecenderungan terdalam manusia untuk mencintai, merdeka, dan memanusiakan sesamanya. Namun dalam dunia yang dipenuhi kompetisi ekonomi-politik, manusia kerap terasing dari dirinya sendiri. Ia bekerja tanpa makna, beribadah tanpa kesadaran, dan mencintai dengan syarat. Di titik inilah Ramadhan hadir—bukan sebagai beban, melainkan sebagai undangan pulang.

Puasa mengajarkan manusia untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari dorongan untuk menguasai dan menindas. Dalam disiplin ini, akal tidak berdiri sendiri sebagai alat rasionalitas kering, melainkan mengikat hati agar memahami makna terdalam dari cinta. Cinta, dalam jiwa Ramadhan, bukan perasaan sentimental yang rapuh, melainkan kesatuan etis yang menyatukan perbedaan tanpa memaksanya menjadi seragam yang menindas. Ia merawat keragaman sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif tentang kemanusiaan.

Sayangnya, dalam realitas sosial, agama kerap direduksi menjadi simbol formal, sementara jiwa pembebasannya justru terpinggirkan. Ramadhan dijadikan rutinitas tahunan yang steril dari kritik sosial. Padahal, jiwa Ramadhan sejatinya menantang struktur yang mengekang manusia—baik struktur nafsu pribadi maupun struktur ekonomi-politik yang melanggengkan ketimpangan. Puasa bukan sekadar latihan spiritual individual, melainkan latihan etis untuk membangun masyarakat yang adil.

Jiwa Ramadhan membebaskan manusia dari dua belenggu paling kuat dalam peradaban modern, hasrat seksual yang dieksploitasi dan ekonomi politik yang memiskinkan. Hasrat seksual, ketika dilepaskan dari etika cinta, menjelma menjadi komoditas. Tubuh manusia diperdagangkan, dipamerkan, dan dikontrol demi keuntungan segelintir pihak. Puasa mengembalikan tubuh pada martabatnya—bukan sebagai objek, melainkan sebagai amanah.

Demikian pula dalam ekonomi politik. Sistem yang menjadikan manusia sekadar angka produksi dan konsumsi telah mengikis solidaritas. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya meminggirkan yang miskin, dan yang berkuasa mengorbankan kemanusiaan demi stabilitas semu. Jiwa Ramadhan menggugat logika ini. Dengan menahan lapar, manusia diajak merasakan penderitaan sesamanya, bukan untuk dikasihani, tetapi untuk diperjuangkan.

Manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak menindas manusia lain. Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai tanggung jawab moral. Di sinilah fitrah menemukan bentuknya yang paling otentik, cinta yang membebaskan—cinta yang tidak menaklukkan, tidak menghisap, dan tidak mengorbankan yang lain demi diri sendiri.

Namun cinta semacam ini tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kesadaran, dari latihan batin, dan dari keberanian melawan arus dominan. Ramadhan menyediakan ruang itu—ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia. Dalam keheningan sahur dan doa, manusia belajar mendengar suara nuraninya sendiri, suara yang selama ini dibungkam oleh kepentingan.

Jika jiwa Ramadhan benar-benar dihayati, ia seharusnya melampaui masjid dan ritual. Ia hadir dalam cara manusia bekerja, memimpin, mendidik, dan memperlakukan sesamanya. Ramadhan menuntut keberpihakan, kepada yang tertindas, yang dilupakan, dan yang disingkirkan oleh sistem. Tanpa keberpihakan ini, Ramadhan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi perayaan kosong.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah jalan pulang. Pulang dari keterasingan menuju kesadaran, dari egoisme menuju solidaritas, dari penindasan menuju pembebasan. Di sanalah fitrah manusia menemukan rumahnya kembali—dalam cinta yang memerdekakan, dalam iman yang membumi, dan dalam kemanusiaan yang utuh. (*)