Oleh: Muhiddin Maulud
Kader HMI Cabang Ternate

_______

DI era di mana jempol bergerak lebih liar daripada detak nurani, kita terjebak dalam labirin digital yang memabukkan. Media sosial menjelang Ramadan seringkali bermutasi menjadi panggung komodifikasi kesalehan – sebuah parade citra di mana kutipan suci hanya menjadi gincu di layar ponsel, tanpa sempat singgah membasuh dahaga di relung jiwa. Kita sedang merayakan eksistensi yang semu, sementara esensi kita perlahan mati suri.

Kita sedang mengalami apa yang oleh sosiolog Zygmunt Bauman disebut sebagai Liquid Modernity (Modernitas Cair) sebuah kondisi di mana identitas kita tercerabut. Kita merasa terhubung dengan seluruh dunia melalui serat optik, namun mengalami alienasi akut terhadap diri sendiri dan alam sekitar. Kita menjadi “Anak Kampung” yang asing di tanah kelahiran sendiri.

Memasuki gerbang Ramadan 1447 H, kita seringkali lebih sibuk menyiapkan bekal fisik daripada melakukan audit batin. Ramadan seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai jeda biologis dari lapar dan dahaga, melainkan sebuah prosedur kepulangan untuk menemukan kembali fragmen jati diri yang tercecer. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali “arsitektur penciptaan” kita. Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minun: 12).

Relasi manusia dengan tanah bukanlah sekadar urusan biologis yang profan, melainkan sebuah perjanjian primordial. Namun, di Maluku Utara, ikatan suci ini sedang diamputasi. Ketika hutan-hutan digerus dan tanah dieksploitasi demi syahwat industri ekstraktif, kita sebenarnya sedang melakukan penghancuran terhadap asal-usul penciptaan kita sendiri. Kerusakan lingkungan adalah eksternalisasi dari rusaknya ekologi internal manusia yang telah kehilangan navigasi menuju fitrahnya.

Tragedi penangkapan 11 warga adat Maba Sangaji di Halmahera Timur – yang divonis penjara hanya karena menjaga lahan leluhur dari terkaman tambang adalah nisan bagi nurani modernitas. Ketika negara dan korporasi hanya mampu melihat tanah melalui kacamata reduksionisme ekonomi sebagai komoditas nikel, mereka buta bahwa bagi masyarakat adat, tanah adalah kehormatan (’izzah), rahim kehidupan, dan hamparan sajadah tempat mereka mengabdi kepada Sang Pencipta.

Baru-baru ini, di Halmahera Tengah, penangkapan aktivis yang menggugat prosedur izin perusahaan yang ugal-ugalan menunjukkan betapa ringkihnya nurani kolektif kita. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat bumi, di mana investasi lebih dipuja daripada kelestarian nyawa.

Sejarah akan mencatat bahwa pada Senin, 12 Januari 2026, ketika Kementerian ESDM menetapkan pemenang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Halmahera Barat, ada tanggung jawab ekologis besar yang dipertaruhkan. Apakah ini kemajuan, atau sekadar eksploitasi baru yang dibungkus narasi energi hijau?

Kebisingan Media dan Keheningan Ramadan

Modernitas menawarkan kebisingan yang candu. Media sosial menuntut kita untuk selalu “tampil” (to appear), sementara Ramadan menuntut kita untuk “hadir” (to be). Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah peringatan yang tajam:

Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i).

Hadis ini adalah vonis bagi mereka yang menjadikan Ramadan sebatas konten estetik atau rutinitas mekanistik. Kesadaran yang retak hanya bisa disatukan melalui terapi pemulihan diri (Self-Restoration). Puasa (Al-Imsak) bukan sekadar manajemen perut, melainkan upaya radikal menyumbat kebisingan ego agar kita mampu mendengar kembali bisikan nurani yang selama ini tertimbun oleh hiruk-pikuk duniawi.

Jika Ramadan adalah proses menyucikan diri, maka secara niscaya ia harus berdampak pada penyucian ruang hidup (Space of Life). Bagaimana mungkin kita mengaku bertaqwa jika kita menutup mata terhadap limbah yang meracuni laut atau penggundulan hutan yang merampas masa depan mata air? Transformasi sosial yang dilahirkan Ramadan harus mewujud dalam Kesadaran Ekologis. Manusia yang benar-benar “pulang” kepada Allah adalah mereka yang paling gigih menjaga amanahnya sebagai Khalifah fil Ardh (Penjaga Bumi).

Dalam upaya melakukan transformasi ini, kita perlu menghidupkan kembali pemikiran Muhammad Iqbal tentang Khudi(Rahasia Keakuan). Bagi Iqbal, Khudi adalah kekuatan batin yang membuat manusia memiliki martabat yang tak tergoyahkan. Di tengah arus media sosial yang menyeragamkan manusia menjadi “gerombolan” (herd) yang patuh pada tren, Khudi menuntut kita menjadi individu yang berani berdiri di atas prinsip kebenaran.

Ramadan adalah laboratorium untuk memperkuat Khudi ini. Melalui puasa, kita membuktikan secara empiris bahwa manusia tidak dikendalikan oleh materialisme (perut), melainkan oleh kehendak yang merdeka.

Ramadan sebagai Terapi Pemulihan Diri

Ramadan harus menjadi antitesis terhadap penyakit ketidakpedulian. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah perisai (As-Shiyamu Junnah). Di Maluku Utara, perisai ini harus digunakan untuk membentengi martabat rakyat dan alam dari kerakusan industri yang tak mengenal batas. Ramadan tidak boleh hanya berhenti sebagai teater lapar di dunia maya. Rasulullah SAW mengingatkan:

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (az-zuur) dan berbuat buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

“Dusta” (Zuur) dalam konteks hari ini adalah ketika kita memamerkan kesalehan ritual namun diam seribu bahasa melihat ketidakadilan ekologi di depan mata. Ramadan adalah terapi untuk menyembuhkan penyakit thama’ (serakah – golojo), terutama bagi mereka yang memegang mandat kekuasaan – para anggota DPRD, kepala daerah, hingga birokrat di Moloku Kie Raha.

Masyarakat Maluku Utara memiliki falsafah hidup yang menyatu dengan alam, namun gempuran industri ekstraktif telah menciptakan amnesia spiritual – Para Drakula. Kita sedang menghina puasa kita sendiri jika kita membiarkan penindasan ekologis berlangsung tanpa perlawanan. Ramadan tahun ini adalah panggilan untuk pulang ke nilai-nilai luhur tersebut. Transformasi sosial yang kita butuhkan nanti bukan sekadar seremonial bagi-bagi takjil, melainkan keberanian politik untuk menyuarakan moratorium tambang di pulau-pulau kecil dan daerah lingkar tambang.

Menemukan Kembali Peta Jalan Pulang

Peta jalan pulang itu tidak tersimpan dalam algoritma Google Maps atau feed-reels kita. Ia tersimpan dalam detak kesadaran bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah (Mortalitas). Menjadi manusia yang memiliki Khudi berarti menjadi pribadi yang kokoh, peduli pada kelestarian, dan berani bersuara melawan tirani ketidakadilan. Afeksi kepada alam Maluku Utara adalah bagian dari Jihad Sosial di masa kini.

Ramadan hadir sebagai laboratorium untuk merajut kembali kesadaran yang tercerai-berai melalui tiga pilar restorasi:

  • Restorasi Ruhani: Memperbaiki frekuensi vertikal melalui tadabbur yang tidak hanya membaca teks, tapi juga membaca realitas alam.
  • Restorasi Sosial: Menghancurkan tembok individualisme digital melalui kepedulian nyata pada mereka yang terpinggirkan oleh kebijakan.
  • Restorasi Ekologis: Melawan budaya konsumtif/golojo (israf) sebagai langkah awal penyembuhan bumi.

Ramadan tahun ini adalah panggilan darurat untuk menyatukan kembali kesadaran yang retak. Mari kita matikan sejenak cahaya layar ponsel, dan dengarkan jeritan tanah Halmahera. Keadilan ekologi adalah perwujudan ketaqwaan yang paling otentik saat ini.

Selamat menempuh jalan pulang menuju fitrah. Mari jadikan lapar kita sebagai kekuatan untuk menyuarakan kebenaran. Ramadan 1447 H. (*)