Tivanusantara – Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Ternate melalui Bidang Perempuan menggelar sosialisasi bahaya seks bebas bagi kalangan remaja, Jumat (30/1). Sosialisasi ini berkolaborasi dengan SMA Negeri 4 Kota Ternate.

Dalam kesempatan itu, peserta yang merupakan siswa-siswi SMAN 4 Kota Ternate tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Ketua Bidang Perempuan PD KAMMI Ternate, Rosanti Fatmona, menjelaskan salah satu masalah yang sangat mengglobal dunia saat ini adalah masalah seks bebas yang banyak terjadi di kalangan remaja.

“Akibat seks bebas tersebut, ada dua dampak yang akan terjadi di kalangan remaja yaitu kehamilan dan penyakit menular atau HIV. Bukan cuma itu, seks bebas juga dapat terjadi karena pengaruh dari lingkungan luar dan salah pilihnya seseorang terhadap lingkungan tempatnya bergaul,” jelasnya.

Berdasarkan data WHO, lebih dari 500 juta remaja usia 10–14 tahun di seluruh dunia, khususnya di negara berkembang, dilaporkan telah melakukan hubungan seksual pertama sebelum usia 15 tahun (Biyanzah et al., 2024).

Data BKKBN tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata usia remaja yang melakukan hubungan seksual berada pada rentang usia 15–19 tahun. Presentase perempuan usia 15–19 tahun yang pernah melakukan hubungan seksual mencapai 59%, sementara pada laki-laki berada pada angka 74%.

Sementara itu, data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2020 menunjukkan bahwa presentase remaja berusia 15–24 tahun yang belum menikah namun pernah melakukan hubungan seksual pranikah sebesar 0,9% pada perempuan usia 15–19 tahun dan 2,6% pada perempuan usia 20–24 tahun. Adapun pada laki-laki, presentasenya mencapai 3,6% untuk usia 15–19 tahun dan 14% untuk usia 20–24 tahun.

Tim Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) juga menemukan bahwa alasan utama hubungan seksual pertama adalah perasaan saling mencintai, dengan persentase 54% pada perempuan dan 46% pada laki-laki (Kesehatan, 2020).

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dengan memberikan edukasi tentang bahaya seks bebas di kalangan remaja, dan diharapkan adanya perubahan pengetahuan dan perilaku pada siswa siswi mengenai bahaya seks bebas ini,” katanya.

Selain itu, tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman kepada siswa siswi tentang pentingnya kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini serta risiko seks bebas. Rosanti juga menekankan pentingnya pendidikan seks di sekolah, karena edukasi tentang kesehatan reproduksi harus di mulai dari sejak dini. Dengan begitu, anak-anak dan remaja mampu memahami risiko dan konsekuensi dari seks bebas.