Oleh: Nurcholish Rustam
____________
ISRA Mi’raj bukan dongeng. Ini kisah nyata tentang lelah, dikuatkan lalu bangkit lagi.
Isra Mi’raj datang ketika Rasulullah lagi jatuh-jatuhnya. Orang yang paling dicintai berpulang. Orang yang paling dilindungi pun pergi.
Tahun ke-7 hingga tahun ke-10 makkiyah adalah tahun yang paling berat bagi Rasullullah SAW. Itu tahun embargo…
Tapi yang lebih berat lagi bagi Rasulullah adalah wafatnya Khadijah & Abu Thalib begitu embargo itu selesai.
Langit turun tangan, saat bumi terasa sempit.
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit, & di setiap lapisannya para Nabi menyambutnya. Ini bukan sekadar pertemuan, melainkan pengakuan.
Lalu perintah shalat diberikan, bukan lewat malaikat, bukan lewat jarak kata tapi diserahkan langsung oleh-Nya. Karena shalat adalah hubungan paling langsung antara hamba & Rabb-nya. Shalat bukan sekadar kewajiban, iya hadiah dari perjalanan paling agung.
Logika manusia tidak akan sanggup membaca itu.
Setelah perjalanan spritual itu, grafik sejarah beliau adalah pertumbuhan yang tak bisa dibendung.
Itu dimulai dengan hijrah ke Madinah, kemudian berdirinya negara Madinah, lalu berujung dengan Fathu Makkah & masuknya seluruh jazirah Arab ke dalam Islam.
Delay seperti itu selalu terjadi dalam sejarah perjuangan nabi-nabi. Delay seperti itu berguna untuk mematangkan jiwa, emosi, pikiran, serta fisik kita semuanya untuk melakukan lompatan yang tak terbendung, menuju kemenangan.
Poinnya adalah shalat. Sebab shalat itu lahir dari perjalanan berat, diterima oleh hati yang paling sabar & ikhlas. Maka rasanya terlalu sayang jika hadiah itu kita abaikan, terlalu perih jika perjuangan Rasulullah kita balas dengan lalai.
Selamat merayakan Isra Mi’raj 27 Rajab 1447 H.

Tinggalkan Balasan