Oleh: Arlan Maulana Putra

Anggota Independensia dan Mahasiswa PPKn Unkhair 

______________

DI antara jajaran pohon kelapa bak serdadu, kita menemukan inspirasi untuk merenungkan kebesaran alam yang telah memberikan anugerah luar biasa. Kelapa, pohon yang sederhana, namun sarat makna, telah lama dijuluki sebagai “pohon kehidupan” karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Mulai dari akar hingga pucuk memiliki manfaat luar biasa untuk menopang kehidupan manusia. Ini menjadikan kelapa sebagai sumber daya multifungsi yang dapat membantu keberlanjutan hidup di daerah tropis.

Hijaunya pepohonan kelapa yang menjulang di sepanjang pantai tropis, terdapat kehidupan yang berputar di sekitar sebuah komoditas yang telah menjadi tulang punggung bagi banyak komunitas lokal, yakni kopra yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Proses produksi dan pengolahan kopra juga menciptakan banyak lapangan kerja di sektor agrikultur dan industri pengolahan baku utama untuk produksi minyak kelapa.

Di berbagai wilayah pesisir dan perbukitan, kelapa tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan ekonomi keluarga. Banyak petani kelapa yang bergantung pada produksi kopra sebagai mata pencaharian. Ini menjadikan kopra sebagai komoditas penting dalam rantai pasok minyak kelapa. Akan tetapi, harga kopra sering tidak stabil karena bergantung pada permintaan global.

Dari tahun ke tahun, sebagai produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia selalu menempati posisi teratas dalam daftar negara penghasil kelapa. Fakta ini sekaligus menunjukan Indonesia sebagai negara penghasil kelapa terbesar di Asia Tenggara. (Baca: Kompas.com, 2021). Dari kelapa inilah kopra dihasilkan dan menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri. Produksi kopra di Indonesia tersebar luas, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan.

Maluku Utara, misalnya, memiliki potensi kelapa besar dengan karakter kepulauan. Distribusi kopra sangat bergantung pada konsolidasi antar pulau. Bahkan disebut-sebut masuk dalam lima besar daerah penghasil kelapa di Indonesia, yang selama ini menjadi penyokong ekspor nasional untuk komoditi itu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi kelapa Maluku Utara pada tahun 2021 mencapai 211,8 juta ton. Hal ini menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu penyumbang besar ekspor kelapa dan produk turunannya di Indonesia.

Namun, produksi yang besar tak otomatis menjamin pasokan yang stabil. Masih banyak yang belum memahami daerah penghasil kopra terbesar di Indonesia, bagaimana skala produksinya terbentuk, dan bagaimana kopra dari daerah-daerah tersebut didistribusikan secara efisien ke pusat industri. Daerah tujuan pengiriman kelapa dari Maluku Utara sebagian besar ke Surabaya, Manado dan Bitung, karena dari wilayah tersebut produk turunan kelapa diolah untuk diekspor ke mancanegara.

Dalam pendistribusian dan pengeksporannya masih saja mengalami tantangan. Seperti, ketergantungan pada modal laut antar pulau. Apalagi, keterbatasan infrastruktur pelabuhan yang kecil, cuaca ekstrem dan gelombang yang tak menentu, konsolidasi muatan yang belum optimal, dan koordinasi logistik yang terpisah, yang bisa mengganggu proses pendistribusian. Tanpa pendekatan yang terintegritas, kualitas dan kontinuitas pasokan akan sulit dijaga.

Adanya distribusi laut yang terjadwal dan terkonsolidasi, pasokan kopra dapat dijaga meskipun jarak distribusi jauh dan wilayah produksi tersebar. Logistik kopra bukan hanya soal pengiriman. Tapi juga soal harga, perencanaan, konsolidasi, dan monitoring yang sistematis dan transparan. Terutama soal harga kopra.

Misalnya, harga kopra di Kabupaten Pulau Morotai mengalami penurunan signifikan, memicu kekhawatiran di kalangan petani yang mengandalkan komoditas ini sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Mengutip Halmaherapost.com (28/11/2025) menyebutkan, dari harga tertinggi Rp17.000 per kilogram, kini dijual Rp15.000–Rp15.200 per kilogram. Ini berdampak langsung pada harga kelapa buah. Sedangkan harga per buah kelapa yang sebelumnya dijual Rp2.500 sekarang turun menjadi Rp2.000.

Ditengah situasi seperti ini, petani mengharapkan pemerintah dapat menjaga keseimbangan harga kopra. Kita tahu betul bahwa komoditas kopra masih menjadi penunjang atau penyangga utama ekonomi keluarga. Bagi para petani, kopra dijadikan sebagai sumber pendapatan utama. Padahal yang kita ketahui Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara selalu memberi perhatian soal pentingnya menjaga harga kopra Maluku Utara tetap stabil, tapi nyatanya tidak. Kenapa pemerintah tidak bisa mengatasi hal semacam itu.

Di Kota Tobelo, Halmahera Utara, saat ini harga kopra berada di angka Rp14.000 per kilogram. Harga ini mengalami penurunan dari sebelumnya berkisar antara Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Penampungan kopra di Kota Tobelo juga mengakui bahwa harga kopra kini lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Dalam urusan harga maupun pendistribusian kopra, masyarakat maupun semua elemen pemerintahan harus berperan aktif dalam mengawasi distribusi kopra. Namun, yang paling terpenting adalah pemerintah. Pemerintah menjadi instrumen yang harus bersifat transparan dan akuntabel. Karena harga kopra yang rendah membuat pendapatan petani tidak dapat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hendrawan Suoratino dalam buku Ekonomi Nurani VS Ekonomi Naluri (2010) mengatakan bahwa bagi masyarakat dengan tingkat menjadikan penghasilan yang tinggi dapat memberikan keamanan finansial, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat yang menjadikan uang sebagai sesuatu yang berharga, kini mengalami ketidakseimbangan finansial, yang semula bisa mencukupi kebutuhan masyarakat, sekarang malah menjadi tidak terpenuhi.

Bagi sebagian orang Maluku Utara, kopra adalah denyut nadi, dan jantung kehidupan. Namun kini, harga kopra yang rendah bagaikan denyut nadi dan jantung yang tak berfungsi. Jika harga kopra masih begitu-begitu saja, bagaimana bisa masyarakat bisa sejahtera. Sebab, para petani, menjadikan kopra sebagai sumber pendapatan. Oleh karena itu, masyarakat berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan harga kopra. (*)