Oleh: Rabbiul Nguna Nguna
____________
TAHUN baru Masehi bukan hanya dipahami sebagai peristiwa yang berkaitan dengan peringatan Natal bagi umat Kristiani, tetapi dalam perkembangannya tahun baru telah menjadi bagian dari kehidupan sosial sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya Kota Ternate, Maluku Utara. Tahun baru tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai penanda pergantian waktu secara administratif, melainkan sebagai momen kolektif yang dirayakan dan dimaknai bersama melalui berbagai bentuk perayaan dan kegiatan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa tahun baru telah mengalami perluasan makna. Di mana awalnya tahun baru hanya bersifat keagamaan dan historis kini telah menjadi ajang bersosialisasi.
Bagi sebagian masyarakat, tahun baru bukan hanya sekadar momentum pergantian tahun, tetapi telah dimaknai sebagai rahmat Tuhan Allah Swt yang dianugerahkan kepada seluruh makhluk di alam semesta. Pergantian tahun ini dipahami sebagai kesempatan baru yang diberikan oleh Tuhan untuk refleksi diri, memperbaiki kesalahan di masa lalu, serta memperkuat harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Oleh sebab itu tahun baru sering kali diiringi dengan kesadaran spiritual yang mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas-aktivitas mulia dan terpuji. Mulai dari membaca Al-Qur’an di banyak tempat, baik yang menggunakan alat pengeras suara seperti yang dilakukan di beberapa masjid dan ada yang dilakukan dengan manual tanpa alat pengeras suara. Tapi sebagian lainnya menggelar tahun baru dengan bertukar kado bersama pasangan masing-masing, ada juga yang ikut menyalakan petasan, bahkan ada yang meniup terompet-terompet kecil. Setelah kami selidiki ternyata mereka berasal dari umat Islam. Serta masih banyak aktivitas lainnya yang dilakukan pada momentum perayaan tahun baru tersebut. Aktivitas yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada hiburan semata, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan dan identitas masyarakat setempat.
Tak disangka setelah perayaan tahun baru digelar, tidak berselang lama kalender belum menunjukkan satu pekan hujan deras pun menghantam hampir di seluruh wilayah Maluku Utara. Salah satu mahasiswa yang merayakan tahun baru di Landmark Kota Ternate berkomentar bahwa setelah pergantian tahun, selang beberapa menit kemudian cuacanya sudah mulai mendung hingga hujan. Hal ini sontak membubarkan massa yang pada saat itu sedang berada di ruang publik dalam hal merayakan tahun baru. Orang-orang bergegas balik dan meninggalkan tempat menuju ke kediaman mereka masing-masing. Tempat-tempat ramai tersebut pun kembali kosong hanya tersisa sampah-sampah makanan dan minuman.
Saat ini beredar kabar mengenai banjir besar disertai tanah longsor yang melanda pemukiman warga di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, ketinggian air dilaporkan mencapai atap rumah warga, sehingga menyebabkan kondisi darurat dan menganggu aktivitas kehidupan sehari-hari.
Saat ini Rabu, 07 Januari 2026. Selain itu di desa Marimoi Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara juga dilanda banjir, sehingga sejumlah rumah warga dipenuhi lumpur serta terlihat salah satu masjid juga terendam oleh lumpur akibat banjir tersebut. Sedangkan masyarakat di daerah lain masih berikhtiar sebab hujan yang sama juga menghantam bukan hanya di dua tempat tadi. Berdasarkan informasi yang diperoleh, banjir merendam sejumlah wilayah permukiman, di antaranya Desa Gamlamo dan Desa Tongute Ternate. Debit air yang meningkat secara cepat menyebabkan sebagian warga berupaya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, guna menghindari arus air. BMKG juga menyampaikan bahwa wilayah lain di sekitarnya berpotensi terdampak kondisi cuaca serupa, antara lain Kabupaten Halmahera Tengah (Weda Timur), Kabupaten Halmahera Timur (Maba Utara), serta Kota Ternate, termasuk Pulau Ternate dan Pulau Hiri. (Balengkospace.com)
Dari hujan deras dan angin kencang yang tak kunjung reda menjadikan sejumlah orang tua Maluku Utara mencemaskan anak-anak mereka yang studi atau merantau di Ternate dan daerah terdampak lainnya.
Hal ini kemudian memicu beragam reaksi media sosial. Salah satunya terlihat dari unggahan WhatsApp seorang mahasiswa yang menuliskan, “Awal 2026 ini hujan terus !! Bagaimana tidak hujan, malam tahun baru banyak yang bikin dosa”.
Pernyataan tersebut seakan mengonfirmasi firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 41, yang berbunyi: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.
Dalam konteks identitas, Rasulullah Saw telah mengingatkan melalui sabdanya “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum itu” (HR. Abu Dawud No. 4031 dan Ahmad). Hadits ini menegaskan pentingnya menjaga jati diri seorang Muslim dengan tidak mengekor pada tradisi atau kebiasaan khas di luar ajaran Islam. Sejarah mencatat, meski hidup di tengah pluralitas masyarakat Madinah yang terdiri dari pemeluk Yahudi dan Nasrani, Rasulullah tetap menekankan agar umat Islam berpegang teguh pada karakter islami dan tidak larut dalam budaya lain. Imam Ibnu Katsir pun memandang hal ini sebagai peringatan agar Islam tetap menjadi rujukan utama dalam bersikap.
Namun, realitas yang terjadi saat ini berbanding terbalik. Di berbagai tempat, termasuk Kota Ternate, perayaan tahun baru dengan petasan dan terompet telah menjadi hal yang dianggap lumrah. Banyak yang beralasan hanya sekadar “meramaikan” tanpa niat lain. Padahal, secara historis, meniup terompet (Shofar) identik dengan ritual Yahudi, sementara kembang api berakar dari tradisi Tiongkok kuno untuk mengusir roh jahat.
Menghadapi kondisi alam saat ini, momentum ini sepatutnya dijadikan sarana untuk kita bersimpuh memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT agar dijauhkan dari segala marabahaya. Semoga kita senantiasa dalam penjagaan-Nya. (*)

Tinggalkan Balasan