TERNATE, TN – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale Kota Ternate, merespons keluhan warga terkait masalah pelayanan air bersih di sejumlah kelurahan dalam wilayah Kota Ternate.

Tanggapan Perumda Ake Gaale ini setelah adanya aksi dari Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS) Maluku Utara di depan Kantor Wali Kota Ternate, Kamis (19/10) pekan lalu.

Plt Dirut Perumda Ake Gaale, Muhammad Syafei, mengatakan pihaknya tidak tinggal diam mengatasi persoalan pelayanan air di Ternate, dan beberapa waktu lalu mahasiswa yang melakukan aksi di depan Kantor Wali Kota Ternate menyebut Kelurahan Foramadiahi dan Tubo puncak tidak mendapatkan pelayanan air bersih.

“Memang PDAM belum masuk di situ, dan sementara baru dua titik PDAM yang mengembangkan jaringan seperti di Tabona puncak RT 13 dan Gambesi RT 7. Itu baru pengembangan jaringan ke sana untuk menambah titik-titik yang memang dibutuhkan,” jelas Syafei kepada wartawan, Senin (23/10).

Selain itu, pihaknya juga harus mengukur kemampuan produksi air yang terbatas, sehingga jangan sampai terlayani semua lalu ternyata airnya tidak mengalir, dan itu yang harus menjadi perhitungan.

“Saat ini ada pengeboran sumur di Fitu dan sudah selesai, tapi pengurusan penambahan daya listrik PLN masih terjadi kendala dan saat ini masih menunggu konfirmasi dari PLN, padahal ini sudah berjalan tiga minggu,” ujarnya.

“Apakah bisa tambah daya atau operasikan, sebab pengeboran sumur diinvestasikan senilai Rp100 juta lebih. Ini akan menyuplai titik-titik kesulitan yang mendapat pelayanan air termasuk di Jerbus dan Maliaro. Hal itu bisa mengurangi beban kawasan yang rawan tadi,” sambungnya.

Kemudian, tambah Syafei, untuk Kelurahan Tubo bagian belakang hampir sama kekurangan kapasitasnya, namun pihaknya sudah menambah jaringan pipa 500 meter yang dilayani sekitar 30 KK. Sedangkan yang berada di ketinggian, kapasitas produksinya masih terbatas.

“Mudah-mudahan ada kabar dari PLN agar bisa menambah daya sehingga sedikit memperbaiki kawasan-kawasan yang kesulitan mendapatkan air itu. Jadi kalau dianggap PDAM tidak peduli dengan masalah ini, di mana tidak pedulinya. Meskipun dengan keterbatasan produksi, tapi air jalan terus, kendala hanya daya itu saja,” timpalnya.

“Hari ini kalau ada kucuran anggaran Rp100 miliar, kita selesaikan semua kawasan yang belum ada pelayanan air agar supaya distribusi air jalan. Kemudian jika itu PLN masih berjanji, pihak PDAM akan beli gardu, karena 1 unit gardu Rp200 juta. Jadi PDAM tidak diam dan terus berupaya agar dua lokasi itu bisa diatasi persolaan kekurangan air produksi,” tandasya. (udi/tan)