(Catatan atas Hari-hari Awal Konflik Iran vs AS–Israel)
Oleh: Arafiq A Rahman
________________________
PERANG modern bukan hanya pertarungan senjata. Ia juga pertarungan narasi. Di era informasi seperti sekarang, kemenangan tidak selalu diukur dari berapa banyak gedung yang runtuh atau berapa rudal yang ditembakkan. Kemenangan sering kali ditentukan oleh siapa yang berhasil mengendalikan cerita tentang perang itu sendiri.
Di tengah konflik antara Iran Versus Amerika Serikat dan Israel: apakah kehidupan sebuah negara benar-benar berhenti ketika perang terjadi? Sejarah menunjukkan jawabannya sering kali tidak. Dalam banyak perang besar, pemerintahan tetap berjalan. Kantor-kantor pemerintahan tetap buka, rumah sakit tetap melayani pasien, sekolah-sekolah kadang masih beroperasi meski dalam kondisi terbatas.
Negara yang diserang biasanya justru berusaha menunjukkan bahwa negara tetap hidup. Sebab bagi sebuah bangsa, mempertahankan rutinitas sipil adalah bagian dari mempertahankan moral nasional. Demikian pula yang terlihat dalam konflik yang sedang berlangsung. Meski serangan udara, rudal, dan drone saling dilancarkan, pemerintahan Iran masih berfungsi.
Lembaga negara tetap bekerja, pelayanan publik tidak sepenuhnya lumpuh dan kehidupan sosial masih berlangsung, meskipun di bawah tekanan perang. Ini menunjukkan satu hal penting: perang tidak selalu menghancurkan struktur negara secara instan. Namun yang lebih menarik adalah dinamika psikologis dari konflik tersebut.
Serangan udara besar-besaran memang dapat menghancurkan infrastruktur. Gedung bisa runtuh, pangkalan militer bisa rusak, dan kota-kota bisa mengalami kerusakan serius. Tetapi sejarah militer sering menunjukkan paradoks: serangan yang dimaksudkan untuk melemahkan justru kadang memperkuat semangat perlawanan.
Fenomena ini pernah dijelaskan oleh ilmuwan politik Amerika, Robert A. Pape, dalam bukunya Bombing to Win: Air Power and Coercion in War. Pape menunjukkan bahwa pengeboman udara jarang berhasil memaksa sebuah negara menyerah jika negara tersebut masih memiliki kapasitas organisasi dan dukungan masyarakat.
Dalam banyak kasus, masyarakat justru mengalami apa yang disebut “rally around the flag effect” yaitu kecenderungan rakyat bersatu mendukung negara mereka ketika menghadapi ancaman eksternal. Karena itu, jika sebuah negara tetap mampu mengonsolidasikan pemerintahan, menjaga rantai komando militer dan mempertahankan produksi senjata serta logistiknya, maka perang bisa berubah menjadi perang daya tahan, bukan perang kilat.
Di sinilah konflik modern menjadi semakin kompleks. Amerika Serikat dan Israel dikenal memiliki teknologi militer yang sangat maju, dari sistem pertahanan udara hingga jaringan intelijen global. Namun dalam konflik asimetris, teknologi tinggi tidak selalu menjamin kemenangan cepat. Negara yang diserang sering mengandalkan strategi berbeda: produksi senjata dalam jumlah besar, taktik drone murah, serangan rudal bertubi-tubi, dan jaringan sekutu regional.
Perang jenis ini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling tahan lama. Di sisi lain, perang hari ini juga berlangsung di ruang digital. Media sosial, kecerdasan buatan, propaganda informasi, hingga sensor berita menjadi bagian dari strategi militer. Narasi tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah sering kali dibentuk bahkan sebelum fakta di lapangan sepenuhnya jelas.
Karena itu, dunia perlu menjaga satu sikap penting: skeptisisme yang sehat. Informasi perang hampir selalu datang dengan bias, baik dari pihak Barat, Timur Tengah, maupun media independen. Karena itu, memahami perang bukan hanya soal membaca berita, tetapi juga membaca kepentingan di balik berita.
Sebab, konflik mengingatkan kita pada satu kenyataan lama dalam sejarah manusia: perang selalu membawa kehancuran, tetapi juga membuka tabir tentang ketangguhan sebuah bangsa. Gedung bisa runtuh. Pangkalan militer bisa hancur. Namun selama sebuah negara masih memiliki rakyat yang percaya pada negaranya, pemerintahan yang tetap berjalan dan kemampuan untuk bangkit dari pukulan pertama, perang tidak pernah benar-benar selesai hanya dalam hitungan hari.
Sejarah telah berkali-kali menunjukkan: kekuatan militer bisa mengejutkan dunia, tetapi daya tahan sebuah bangsa sering kali lebih mengejutkan lagi. (*)

Tinggalkan Balasan